“Di manakah Allah?” judul ini ternyata sudah lama dipersiapkan, tepatnya bulan Juli 2018, seperti “jawab nubuatan” terhadap peristiwa fenomena alam (orang sering menyebutnya bencana alam) yang terjadi akhir-akhir ini di pulau Lombok, di kota Palu, Sigi dan Donggala berupa: gempa bumi,  tanah terbelah, tanah bergerak, lumpur, dan tsunami, yang telah menelan banyak korban jiwa, rumah hilang bahkan kota tenggelam. Menurut data resmi, gempa di Sulawesi Tengah menelan korban 2.256 orang dilaporkan meninggal dunia, 10.679 orang terluka, 1.075 hilang, dan kurang lebih 70.000 rumah rusak, memaksa kurang lebih 200.000 orang terpaksa menjadi pengungsi di tenda-tenda karena kehilangan tempat tinggal.

Bayangkan orang-orang yang tertindih tembok beton dan tentunya terluka! Mereka  menanti pertolongan berhari-hari karena belum ada alat berat ekskavasi, belum lagi rasa haus dan lapar yang nyeri. “Aduh, di manakah Allah?” akan menjadi ucapan spontan yang wajar, walau dari seorang Pendeta sekalipun, entah dia korbannya atau anggota keluarganya. Terlebih lagi kalau melihat rumah ibadahnya juga hancur.

 

Allah di Lombok, Palu, Sigi, dan Donggala

Ya, “Di manakah Allah?” Jawab yang sederhana dan to the point: “Allah ada di Semarang, ada di Jakarta, dan ada juga di Lombok, Palu, Sigi, dan Donggala!  Allah ada di sana, Ia ada di sini, dan di mana-mana, karena Allah itu Mahahadir.  Allah ada dalam situasi yang baik dan Allah ada juga dalam situasi yang buruk, karena Allah itu berdaulat”. Mengapa jawabnya makin sulit dan berbelit? Karena manusia telah lupa akan imannya tadi. Kita punya konsep bahwa Allah itu hanya hadir pada saat-saat yang baik, kalau buruk itu tandanya tidak ada Allah, itulah bencana.

Tetapi mengapa “bencana”? Bukankah itu “fenomena alam”? Karena lagi, konsep manusia yang mempersulit, bahwa Allah sedang murka dan menghukum manusia (walau ini juga mungkin). Tanpa sadar ia implisit mengakui bahwa Allah ada, tapi Allah yang hadir itu sedang murka. Kalau begitu, seharusnya ia bertanya “Apa salah dan dosaku? Aku mau bertobat. Apa yang harus aku lakukan, ya Tuhan Pencipta Langit dan Bumi?”        

Suatu ketika Tuhan Yesus “dilapori” orang tentang musibah yang terjadi, yaitu ada 18 orang meninggal dunia karena kerobohan menara di dekat Siloam. Mungkin mereka salah sangka bahwa yang kerobohan adalah orang-orang berdosa, sedangkan dirinya lebih baik. Tetapi apa kata Yesus dalam Lukas 13: 4-5?  “Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa atas cara demikian.” Jadi, marilah kita jangan buru-buru menghakimi orang lain dan merasa bahwa diri kita lebih suci; belum tentu!

Saat Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, Allah yang Ada itu sebaliknya proaktif bertanya kepada manusia,Di manakah engkau?” Tentu yang dimaksudkan di sini bukan main umpet-umpetan karena Allah Mahatahu, tapi lebih kepada status rohani, ukuran moral, dan akhlak manusia yang sudah jatuh, sehingga mereka merasa takut, malu, dan menjauh dari Allah. Jadi bukan Allah tidak ada, tetapi manusia meniadakan hadirat Allah karena dosanya, karena di mana ada dosa di situ ada pemisahan (Yesaya 59: 2).

Kalau dalam Perjanjian Lama kehadiran Allah sering dinyatakan melalui Malaikat juga Tiang Awan dan Tiang Api, dalam Perjanjian Baru Allah hadir melalui AnakNya (Ibrani 1: 1-13). Seberapa pentingkah jawaban ini?Ini Aku, Aku hadir di sini!” Kalimat itulah yang menghiburkan para murid Yesus pada waktu mengalami fenomena alam, badai dan gelombang. “Aku ini, jangan takut!” (Yohanes 6: 20).

Inilah juga yang paling tidak spontan dikatakan oleh para Bupati dan Gubernur di tengah para pengungsi yang panik dan marah, saat bantuan belum bisa segera diberikan. “Pemerintah hadir di sini!” Walau baru sepotong kalimat, tapi tersirat makna bahwa Pemerintah tahu, tidak akan tinggal diam dan bantuan akan segera datang. Terlebih lagi saat Presiden Jokowi, orang nomor satu RI mau “turba”, datang ke tempat gempa dengan pakaian yang sederhana, bahkan rela tidur bersama para pengungsi di dalam tenda pengungsian. Luar biasa! Mereka sangat terhibur dan punya harapan. Sebenarnya itulah yang dilakukan Yesus dengan turun ke bumi untuk menjadi Juruselamat Dunia. Inilah yang dikenal dengan “Liberation Theology” (Yohanes 3: 16).

 

Allah di Pesawat dan di Menara Pengawas

Baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, Allah hadir dalam semua peristiwa. Perjalanan Exodus yang terkenal sebagai fakta sejarah dan yang diakui tiga agama besar (Yahudi, Kristen dan Islam), membuktikan bahwa Allah hadir dalam ShechinahNya, Tiang Awan dan Api, dalam muijzatNya, tetapi juga kadang-kadang dalam kemurkaanNya.

Contoh yang relevan baru-baru ini adalah peristiwa selamatnya ratusan penumpang Batik Air yang tinggal landas dari Bandara Mutiara, Palu, tiga menit lebih awal dari jadwal, adalah sebenarnya karya Allah yang mendorong pilotnya, Kapten Rico Mafella, untuk melakukannya! Bahkan aneh, ia didorong untuk memuji Tuhan dalam cockpit yang tidak biasa ia lakukan dengan suara yang nyaring, demikian kesaksian pilot Mafella di gereja yang masih utuh tepat di dekat Hotel Mercure yang runtuh paska gempa dan tsunami di Palu. Persis begitu tinggal landas  barulah gempa 7,07 SR itu terjadi. Dari atas dia bisa melihat peristiwa yang mengerikan dan kerusakan akibat gempa itu. Mungkin tidak akan ada ceritanya kalau Batik Air terbang tepat jadwal.

Tetapi sadarkah kita kalau Anthonius yang memberi aba-aba “It is clear, save to fly!” dari menara pengawas beberapa menit kemudian tewas karena menaranya roboh? Ironisnya staf yang lain semuanya selamat, hanya dia seorang. Dan jangan lupa, Anthonius Gunawan Agung juga seorang Kristen, sama seperti pilot Mafella? Apakah ia berdosa dan jahat?  Bukan, ia bahkan dihargai sebagai pahlawan. Ia telah melakukan apa yang Tuhannya lakukan, yaitu berkorban demi menyelamatkan banyak orang. Namanya harum mendunia dan menjadi kesaksian yang luar biasa, dan buahnya “mati satu tumbuh seribu”.

Dari dua kasus yang terjadi dalam satu peristiwa ini kita menemukan jawabnya,Di manakah Allah? Allah ada di Palu, ada dalam pesawat Batik Air, dan di menara pengawas, dalam hal yang baik maupun dalam hal yang buruk (menurut kita). Allah Mahahadir dan Berdaulat!

 

Allah di Samudera Perairan Guam

“Di manakah Allah?” Allah ada di tengah-tengah samudera di perairan Guam untuk menolong Aldi Novel Adilang yang  sudah 49 hari di atas rakit bambunya yang hanyut dari Manado sampai terkatung-katung di perairan Guam. Aldi sempat frustrasi karena tidak ada kapal yang lewat untuk menolongnya, yang ada malah hiu ganas yang mengelilinginya. Ia hanya bisa berdoa agar hiu itu pergi, dan pergi. Ia kehabisan makanan dan air tawar dan hampir saja ia kehabisan harapan. Puji Tuhan, ia selalu ingat pesan-pesan orangtuanya. Ia membawa Alkitab dan membacanya siang dan malam.

Tuhan ternyata ada di sana, bukan saja menyelamatkan dari hiu, memberi makan dengan memancing ikan, tapi juga menegur agar jangan minum air laut tapi tunggu kalau hujan turun untuk menampungnya! Dan benar hujan turun! Dan yang istimewa, malam menjelang 31 Agustus, Aldi kelelahan. Ia habiskan malam itu dengan menyanyikan banyak lagu rohani sampai tertidur. Esok harinya Allah menolong melalui sebuah kapal Panama yang lewat. Ia dibawa ke Osaka, Jepang, dan diterbangkan dengan pesawat Garuda pulang ke Manado bertemu keluarganya. Demikianlah maka kesaksiannya ini bisa kita nikmati. Ini ayat kesayangan Aldi dan keluarga, dari Mazmur 46: 2, “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai Penolong dalam kesesakan sangat terbukti.”

 

Allah di Assam, India

Ada peristiwa lain yang mengerikan dan mengharukan di balik lagu “I Have Decided to Follow Jesus” yang bisa menimbulkan pertanyaan yang sama, “Di manakah Allah?” Kata-kata di lagu itu berasal dari kata-kata Nokseng, seorang Garo dari Meghalaya, yang tinggal di Assam, India. Seluruh keluarganya pada pertengahan abad  ke-19 mengambil keputusan menerima Kristus. Hal ini telah membuat marah kepala kampungnya yang mengancam akan membunuhnya kalau ia tidak menyangkali Yesus.

Maka di depan matanya dua orang anaknya dibunuh. Namun Nokseng tetap tidak mau, bahkan berkata “Kalau tak ada orang lain yang ikut, saya akan tetap ikut Yesus!Maka istrinya pun dibunuh. Dan ia pun akhirnya dibunuh sementara menyanyi “Dunia di belakang, salib di depan…”. Kegigihan iman mereka telah membuat kepala kampung dan orang sekampungnya bertobat dan menerima Kristus juga. Lirik lengkapnya ditulis kemudian oleh Simon Marak dari Jorhat, Assam, dan dipersembahkan untuk penginjil terkenal, Sadhu Sundar Singh. Lagu ini makin mendunia sebagai lagu himne sejak diaransir oleh William Jensen Reynolds untuk Billy Graham’s Evangelistic Meeting di tahun 1959. Kalau tidak melihat buah-buah dari hasil akhir ceritanya, dan kalau Anda hadir di Assam pada detik-detik yang mengerikan dan mengharukan itu, hampir pasti Anda juga akan bertanya,Di manakah Allah di saat seperti itu?”

 

Penutup

Pelajaran apa yang kita peroleh?  

o   Pertanyaan “Di Manakah Allah?” adalah manusiawi bagi manusia yang  berdosa.

o   Allah Mahahadir tetapi juga berdaulat dalam setiap peristiwa, yang baik atau yang buruk.

o   Artinya, tidak selalu fenomena alam berarti bencana sebagai hukuman, walaupun itu mungkin saja. Maka kita tidak boleh terlalu cepat menghakimi orang.

o   Manusia diberi mandat untuk berkuasa tetapi juga mengelola alam. Jadi seharusnya kita memanfaatkan teknologi dan bersatu untuk memelihara lingkungan hidup.

o   Bahwa ada kuasa Allah dalam pujian dan penyembahan.

o   Benar, bahwa yang berseru nama Tuhan diselamatkan, tapi dari konteksnya (Roma 10: 9-15), yang dimaksud dengan “selamat” adalah keselamatan kekal. Jadi yang korban meninggal pun di dalam Kristus diselamatkan. Maka rasul Paulus berkata “Hidup atau mati sama-sama untung di dalam Kristus” (Filipi 1: 21) Dan kalau Anda hidup ya seharusnya lebih mengucap syukur atas kebaikan Tuhan, apapun yang terjadi (I Tesalonika 5: 16-18; Roma 8: 28). Haleluya!

o   Akhirnya, apakah kita sudah siap menjawab pertanyaan Allah kepada manusia “Di manakah engkau?” (Kejadian 3: 9).

 

Sementara artikel ini dirilis, kabar miris kembali terdengar, yaitu jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 jurusan Jakarta – Pangkal Pinang, yang berpenumpang 189 orang termasuk awak kapal, di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, pada Senin, 29 Oktober 2018. Duka dan simpati yang terdalam, juga doa kami panjatkan bagi keluarga korban musibah ini. Allah yang Mahahadir kiranya memberi kekuatan. (SB/MR)

 

*Ev. Andreas Christanday

 

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2018 GKMI NETWORK

or

Log in with your credentials

Forgot your details?