Bukan kebetulan jika tema “berita GKMI” edisi November 2018 ini adalah “Di Manakah Allah?” Sejak Juli 2015 Negeri kita sudah diguncang bencana, mulai dari Gempa Lombok (28 Juli 2018, 5 Juli 2018, dan serentetan gempa susulan) dengan korban meninggal 563 orang dan ribuan korban luka; juga Gempa dan Tsunami Sulawesi Tengah (28 September 2018) yang menggucang Sigi, Donggala, dan Palu, menelan korban jiwa 2.256 orang, 10.679 orang terluka, 1.075 hilang, dan kurang lebih 70.000 rumah rusak, memaksa kurang lebih 200.000 orang terpaksa menjadi pengungsi di tenda-tenda karena kehilangan tempat tinggal. Sementara artikel ini dirilis, kabar miris kembali terdengar, yaitu jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 jurusan Jakarta – Pangkal Pinang, yang berpenumpang 189 orang termasuk awak kapal, di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, pada Senin, 29 Oktober 2018.

Padahal, tema “Di Manakah Allah?” untuk November 2018 ini sudah ditetapkan oleh Dewan Redaksi sejak Juni 2018. Well, padahal kami tidak pernah menyangka, apalagi berharap! Amit-amit jabang bayi, orang Jawa bilang!

Namun itulah bencana atau musibah, naturnya memang demikian. Datangnya tidak terduga dan tidak disangka-sangka. Kalau dapat diduga dan disangka, mungkin bukan bencana namanya. Salah satu natur lain dari bencana atau musibah adalah: tidak ada seorangpun yang pernah mengharapkannya. Bencana atau musibah adalah hal yang paling tidak diinginkan semua orang di muka bumi ini, apapun agama dan latar belakangnya!

Itulah mengapa manusia mendekatkan diri dengan Sang Pencipta atau kuasa-kuasa yang dianggap mengendalikan alam, salah satunya adalah agar hidupnya terhindar dari bencana atau musibah. Kita pun sebagai orang Kristen demikian juga. Bukankah dalam doa-doa kita, baik pribadi maupun komunal, selalu tersisip keinginan agar dijauhkan dari segala bencana atau musibah? Bahkan kalau bisa kita hidup tanpa masalah. Langit selalu biru, bunga bermekaran, matahari bersinar terang….

Itulah juga mengapa saat bencana atau musibah itu datang menyapa, secara spontan kita berteriak: “Di Manakah Allah?” Seolah bagi kita Allah abstain, kehadiran-Nya tidak lagi kita rasakan. Lebih parah lagi, kita merasa dikhianati Allah. Bukanlah kita sudah berdoa, berbuat baik, melayani-Nya, dan lain sebagainya?

Satu hal kita lupa, Tuhan tidak pernah berjanji langit selalu biru, seperti lagu yang dikarang oleh Annie Johnson Flint (1866-1932), “God Hath Not Promised”, demikian liriknya: “God hath not promised skies always blue // Flower-strewn pathways all our lives through // God hath not promised sun without rain // Joy without sorrow, peace without pain // Ref.: But God hath promised strength for the day // Rest for the labor, light for the way // Grace for the trials, help from above // Unfailing sympathy, undying love.

Selamat merenung bersama edisi ini. Jangan lupa untuk terus mendukung bGKMI dalam daya, dana, dan doa. Tuhan beserta kita sekalian! (Mark Ryan)

 

 

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2018 GKMI NETWORK

or

Log in with your credentials

Forgot your details?