Seorang guru Sekolah Minggu bertanya kepada murid-muridnya dalam perjalanan ke gereja,

“Mengapa kita perlu tenang saat mengikuti kebaktian di gereja?”

Seorang gadis kecil yang cerdas menjawab, “Agar tidak mengganggu jemaat yang tidur saat khotbah disampaikan”.

 

SUAMI PENGUSAHA

Pada suatu hari, seorang guru SD bertanya kepada setiap muridnya. Pertama, dia bertanya kepada Lala, “La, kalau sudah besar, cita-cita kamu mau jadi apa?”

“Saya mau jadi pengusaha wanita. Saya mau punya kantor sendiri, punya mobil sendiri, punya rumah sendiri, Bu,” jawabnya.

“Hebat! Kalau kamu, Adi, mau jadi apa?” tanya ibu guru.

Adi menjawab, “Mau jadi suaminya Lala saja, Bu.”

 

BERBOHONG DI GEREJA

Suatu hari seorang remaja duduk pada kebaktian di sebuah gereja untuk pertama kalinya dan dia duduk di samping wanita yang tidak cantik.

Pendeta tersebut sedang berkhotbah dan dia berkata: “Katakan kepada perempuan di samping kanan kiri Anda betapa cantiknya mereka!”

Anak laki-laki itu berdiri dan berkata pada Pendeta, “Bagaimana bisa Anda mengharapkan saya untuk berbohong di gereja?”

 

GADIS CILIK DAN ATEIS

Seorang gadis cilik berbicara soal Yunus yang ditelan ikan besar dengan seorang ateis. Sang ateis itu menjelaskan bahwa ikan itu walaupun tubuhnya besar tetapi tidak dapat menelan manusia karena kerongkongannya sempit.

Gadis itu berkata: “Tetapi Nabi Yunus ditelan oleh seekor ikan besar”.
Merasa kesal ateis itu mengulangi bahwa ikan tidak mungkin dapat menelan manusia.
Gadis itu berkata lagi: “Nanti kalau masuk surga saya akan tanya kepada nabi Yunus”.
Ateis itu bertanya: “Bagaimana kalau ia masuk neraka?”
“Kalau begitu Bapak aja yang nanya,” jawab anak itu.

 

LEBIH ENAK JADI PENDETA

Sepulang dari gereja di hari Minggu, seorang anak laki-laki tiba-tiba mengatakan pada ibunya, “Ma… kalau sudah besar aku mau jadi Pendeta saja ah.”

“Boleh saja, Nak,” kata ibunya, “Tapi mengapa kamu tiba-tiba ingin jadi Pendeta?” lanjut ibunya pengin tahu karena anak itu biasanya sangat nakal.

“Begini, Ma,” kata si anak, “Biar bagaimanapun, aku ‘kan tetap saja harus ke gereja tiap Minggu. Jadi kupikir akan lebih menyenangkan kalau bisa berdiri di mimbar dan berteriak-teriak daripada harus duduk dengan tenang dan mendengarkan”.

 

DOA YANG PANJANG

Pada suatu hari di sebuah gereja seorang Pendeta sedang memanjatkan doa yang luar biasa panjangnya.

Pada akhir doanya, sang Pendeta pun masih saja menanyakan kepada para jemaatnya :
“Apa lagi yang perlu saya panjatkan?”

“Amiii…nnn . . . ,” terdengar jawaban serempak dari para jemaat yang hadir.

 

KEBERATAN

Dengan penuh kesigapan Pendeta memimpin upacara pemberkatan pernikahan.

Sesuai dengan yang biasa tercantum dalam liturgi, Pendeta itupun bertanya kepada hadirin yang mengikuti upacara itu, “Apakah ada di antara saudara-saudara yang mengajukan keberatan terhadap pernikahan ini?”

Terdengar suara halus menjawab, “Ya, saya!”

Pendeta itu kemudian menegur dengan berbisik:
“Pertanyaan ini untuk hadirin. Pengantin pria tidak boleh menjawab!”

 

HARMONIKA

“Terima kasih buat harmonika yang Paman berikan Natal kemarin,” kata Joni kepada pamannya saat bertemu setelah liburan. “Harmonika itu
adalah hadiah Natal terbaik yang pernah aku dapatkan.”

“Baguslah,” kata pamannya. “Apa kamu tahu cara memainkannya?”

“Oh, aku tidak memainkannya,” kata Joni. “Ibu memberiku uang sepuluh ribu setiap hari supaya aku tidak memainkannya pada siang hari dan Ayah
memberiku lima puluh ribu seminggu agar aku tidak memainkannya pada malam hari.”

*Oleh :Mark Ryan, dari berbagai sumber

*Ilustrasi: Stef Priyadi W. D.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2018 GKMI NETWORK

or

Log in with your credentials

Forgot your details?