(Kisah Perjalanan Hidup dan Pelayanan Tan King Ien)

 

“Tapi, saya kan nggak punya bekal pemahaman Firman Tuhan secara mendalam, Om. Memang sih, sama-sama STT. Tapi STT-nya itu Sekolah Tinggi Teknologi, bukan Sekolah Tinggi Teologi seperti Om dan Valerie. Masa diminta khotbah di Ibadah Pemuda. Kalau diminta tolong utak-atik komputer, bisalah.” Benny berusaha menolak permintaan Ayah Valerie yang memintanya sharing Firman Tuhan di persekutuan pemuda awal bulan depan.

Ayah Valerie tertawa, hingga menimbulkan gelombang tak beraturan di perutnya yang buncit. Sembari memegang kepala depannya yang botak, dia melanjutkan, “Nak, setiap orang bisa menyampaikan Firman Tuhan, meski bukan sarjana teologi atau mahasiswa sekolah Alkitab, termasuk kamu. Ketika kamu yakin bahwa kehidupanmu penuh pimpinan Tuhan, kamu yakin bahwa dirimu adalah murid-Nya Tuhan, anak Tuhan, sahabat Tuhan, apa lagi yang kamu ragukan? Sharingkan itu kepada mereka yang di sekitarmu.”

“Untuk hal itu, saya setuju, Om. Menceritakan kebaikan Tuhan di mana pun dan kapan pun. Puji Tuhan, saya lakukan itu. Lha tapi kan nggak di dalam lingkup ibadah juga, Om,” ujar Benny  cengar cengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kamu pernah dengar kisah hidup Tan King Ien?”

Benny mengerenyitkan dahi, menaikkan alis kanannya, dan sedikit menggeleng tanda tidak yakin dengan ingatannya sendiri.

“Tan King Ien, anak dari Tan Kiong Kiem dan Siem Kie Nio. Dia lahir di Solo pada tanggal 10 Juli 1900, kemudian menikah dengan anaknya Pdt. Tee Siem Tat yang bernama Tee Pen Nio (Tee Lena). Perannya dalam perkembangan GKMI banyak, khususnya di GKMI Kudus. Padahal dia bukan Sarjana Teologi.” Ayah Valerie menatap Benny lekat-lekat.

“Oh, menantu Pak Tee Siem Tat, ya? Apa saja perannya, Om?”

Ayah Valerie tersenyum, tangannya bersedekap, dan sedikit menunduk untuk melihat Benny dari balik kacamata bulatnya. “Tan King Ien menjadi Ketua Khu Hwe Muria (sekarang menjadi Sinode GKMI) yang pertama. Dia menjabat dari tahun 1948-1956. Selain itu, dia dipakai Tuhan untuk ikut berproses melahirkan pemimpin pertama yang berpendidikan teologia di lingkungan GKMI.”

Wah, jadi ada andil Pak Tan King Ien, ya. Makanya sekarang GKMI memiliki pemimpin yang berpendidikan teologia. Menarik ini. Saya baru tahu. Bagaimana ceritanya, Om?

Jadi gini. Beliau mempunyai empat anak perempuan, dan hanya satu laki-laki, anak kedua, yang bernama Tan Hao An (Herman Tan). Sebagai ayah, Pak Tan King Ien tentu berharap anak laki-laki bisa meneruskan usaha percetakannya. Pabrik mesin offset ROLAND di Jerman pun sudah  bersedia menerima Herman Tan untuk belajar ilmu Grafika di Eropa selama tiga tahun.”

“Wah, keren, dong.”

“Iya. Tetapi, Tan King Ien tidak egois. Alih-alih memengaruhi Herman Tan untuk melanjutkan usaha percetakan, dia lebih tunduk pada kehendak Tuhan.”

“Jadi, Herman Tan nggak melanjutkan usaha percetakan ayahnya?” celetuk Benny.

“Ya. Herman Tan merasa terpanggil untuk melayani Tuhan, dan memutuskan masuk Sekolah Teologia. Nah, kecintaan Tan King Ien kepada Tuhan terbukti juga dalam hal ini. Dia bersedia memberi dukungan penuh, termasuk membiayai studinya.”

 Benny mengangguk-angguk kecil. “Sangat sedikit orangtua yang mau begitu, Om. Mereka cenderung memaksa anak untuk mengikuti keinginan mereka. Eh, apalagi anak laki-laki satu-satunya.”

Iya. Bener banget. Kalau Om nggak salah ingat, kamu juga satu-satunya anak laki-laki di rumah, ya?”

Benny mengangguk, tanda mengiakan.

“Dan ternyata orangtuamu memberi kebebasan padamu untuk menentukan arah hidup, dengan memutuskan mau kuliah di mana, jurusan apa, itu patut kamu syukuri. Nggak gampang lho, Nak.”

Bener banget, Om. Saya bersyukur banyak untuk hal itu.”

“Om lanjut, ya. Jadi, Tan King Ien menerima jabatan sebagai Ketua dalam organisasi jemaat yang dibentuk oleh Pak Tee Siem Tat. Organisasi tersebut diputuskan dalam pertemuan kelompok Kudus pada tanggal 27 September 1925, sebagai langkah awal agar gereja yang dirintisnya mendapat pengakuan resmi dari pemerintah Belanda sebagai gereja. Catatan lengkap mengenai susunan Majelis Jemaatnya memang tidak ditemukan. Tetapi Tan King Ien sebagai Ketua saat itu dan Ang Mo Sam Sekretarisnya.”

“Saya kok susah membayangkan kondisi saat itu ya, Om. Masih di bawah penjajahan kan ya?”

“Itulah luar biasanya. Tuhan selalu menuntun dan mempermudah langkah orang-orang yang mau pasrah dan turut mengikuti kehendak-Nya. Langkah berikutnya dalam perkembangan gereja yang dirintis Pak Tee Siem Tat adalah menyusun anggaran dasar gereja. Setelah anggaran tersebut tersusun dan disahkan, Gereja Kristen Tionghoa Kudus mengajukan surat permohonan kepada pemerintah pada tanggal 29 Maret 1926. Surat yang ditandatangani oleh Tan King Ien selaku Ketua dan Ang Mo Sam sebagai Sekretarisnya itu bertujuan agar organisasi jemaat yang sudah mereka dirikan setengah tahun sebelumnya, dengan anggaran dasar yang sudah ditetapkan, diakui sah sebagai badan hukum.

Permohonan tersebut dikabulkan oleh Gubernur Jenderal pemerintah Hindia-Belanda pada tanggal 3 Februari 1927, sebagai “Rechtpersoon” (Badan Hukum) dengan nama CHINEESCHE DOOPSGEZINOE CHRISTENGEMEENTE (Jemaat Kristen Mennonit Tionghoa) yang berkedudukan di Kudus (Semarang).

Tidak berhenti sampai di situ saja. Setelah jemaat Kudus mendapat pengakuan dari pemerintah Belanda sebagai badan hukum, mereka mengajukan permohonan kepada Gubernur Jendral Hindia Belanda agar Tee Siem Tat dan Oei Tjien Gie (dari Mayong) dapat  diakui sebagai Pendeta dan Gembala Jemaat Kristen Mennonite Tionghoa Kudus serta diberi izin untuk memberitakan Injil kepada masyarakat Tionghoa.

Ternyata permohonan tersebut secara cepat dikabulkan dengan keputusan pemerintah tertanggal 21 Agustus 1927, atas dasar peraturan pemerintah no. 177. Kedua Pendeta tersebut diakui haknya untuk melayani Baptisan dan Perjamuan Kudus serta mendapat izin untuk memberitakan Injil kepada masyarakat Tionghoa di seluruh karesidenan Semarang lama (Jepara – Rembang).”

Benny dan Ayah Valerie duduk di taman depan gereja, sambil menikmati sinar matahari. Seraya mengedarkan pandang, Ayah Valerie melanjutkan ceritanya.

Selain melayani, Tee Siem Tat juga mempunyai beberapa usaha. Percetakan SAM HOO KONGSIE di Jalan Panjunan 11, Kudus, usaha toko alat-alat kantor, semir oli, dan ban mobil. Setelah Tee Siem Tat mendapat pengakuan resmi sebagai Pendeta, dia ingin dapat lebih memusatkan hidupnya kepada pelayanan pekabaran Injil dan jemaat. Maka, kepemimpinan perusahaannya diserahkan kepada Tan King Ien, sebagai Direktur I, juga anak-anaknya, Tee Yan Poen dan Tee Yan Siang, sebagai Direktur II dan Direktur III.

 “Kamu tahu kenapa Papa cerita tentang Tan King Ien, Yang?” celetuk Valerie yang tiba-tiba datang sambil membawa sarapan untuk Ayah dan Benny, serta secangkir cokelat matcha khusus untuknya. “Menurut Papa, Tan King Ien itu menantu yang sangat baik, bertanggung jawab, dan bisa diandalkan.” Valerie menggigit sandwichnya, dan memainkan mata di depan Ayah. “Seperti kamu,”  tutupnya.

“Hush, kalau kalian masih calon,” gurau Ayah Valerie diikuti tawa pecah dari Benny dan Valerie.

“Dan semoga direstui,” Valerie mengatupkan kedua tangan sambil berkomat-kamit, memonyongkan bibirnya. “Eh, tapi bener juga ya, Pa. Buktinya selain dipercayai mengelola usaha percetakan mertuanya, Tan King Ien juga dipercaya sebagai Pendeta.”

“Iya, itu karena Tan King Ien sudah membuktikan bahwa dirinya memiliki bakat dan bertanggung jawab penuh dalam pelayanan, sehingga dia ditahbiskan menjadi Pendeta, sekaligus merangkap sebagai Ketua Majelis Gereja Kristen Tionghoa Kudus. Empat tahun setelah penahbisannya, gereja juga mengangkat Pendeta Pembantu, Tee Yan Poen (anak Pak Tee Siem Tat). Sejak saat itu, Pdt. Tan King Ien bersama Pdp. Tee Yan Poen melayani Firman Tuhan, sakramaen, Sekolah Minggu, kaum muda, bahkan Pemahaman Alkitab dan katekisasi. Oh, ya. Pdt. Tan King Ien juga memimpin Paduan Suara kaum muda.”

“Mereka berdua anak dan menantu Tee Siem Tat kan ya, Pa? Bukannya mereka saat itu menjabat sebagai direktur suatu perusahaan? Bagaimana mereka bisa melayani secara maksimal?”  tanya Valerie penasaran.

Bisa. Itu karya Tuhan, dan karena itulah Bapak Pdt. Tee Siem Tat merasa sangat bersyukur dan bersukacita melihat menantu dan anaknya bersedia melibatkan diri dalam pekerjaan Tuhan. Pada waktu itu kedudukan kedua Pendeta tersebut memang sangat unik. Pekerjaan mereka saat itu sebagai pedagang dan administrator perusahaan, dan mereka juga tidak mempunyai latar belakang pendidikan teologia. Tetapi, mereka meneladani murid-murid Tuhan Yesus. Kedua belas murid Yesus, tidak seorang pun yang mengikuti pendidikan agama, dan justru memiliki pekerjaan yang beragam, yakni penangkap ikan, pemungut cukai, dan tabib. Bahkan Yesus sendiri adalah seorang tukang kayu.”

Bener juga, ya …,” Valerie mengangguk-angguk kecil.

“Dalam melayani, Tee Siem Tat berpedoman pada injil Matius 10: 8, ‘Kamu telah memperolehkan dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. Jadi, baginya, kehidupan para perintis tidak menjadi beban bagi para anggota gereja. Mereka harus hidup dari usaha, bahkan seharusnya para perintis lebih banyak berkorban dan menolong para anggota yang berkekurangan atau sakit.   

 “Jadi, Pak Tan, eh, maksud saya Pendeta Tan King Ien melayani gereja di Kudus sambil menanggungjawabi usaha percetakan mertuanya, yang kemudian dia harapkan untuk dapat diteruskan Herman Tan itu ya, Om?” tanya Benny penasaran.

Eh, jangan salah. Pendeta Tan King Ien bukan hanya melayani di Kudus,ayah Valerie mengatupkan kedua tangan, pandangannya menerawang berusaha mempertajam ingatan, lalu melanjutkan. “Pada tanggal 23 Mei 1940, persekutuan Pati mendapat pengesahan sebagai “Gereja” dari notaris J.F. Meelhuisen dari Kudus. Dalam susunan pengurusnya, tiga tokoh gereja Kudus diikutsertakan. Pdt. Tee Siem Tat sebagai Penasihat, Pdt. Tan King Ien sebagai Wakil Ketua, dan Tee Yan Siang sebagai Bendahara. Dari persekutuan Pati sendiri ada Kho Djoen Hong sebagai Ketua; Oei Som Hien sebagai Penulis, dan Tan Djing Swan, Ibu Nelly dan Ibu Pang Pak Nio sebagai Komisaris. Jika kita perhatikan susunan pengurus Gereja di Pati, ada dua nama dari keluarga Tee Siem Tat, anak dan menantu. Apakah sebabnya Tee Siem Tat bersama kedua anggota keluarganya diikutsertakan dalam pengurus Gereja Pati?”

Benny dan Valerie kompak menggeleng.

“Poin utamanya adalah sebuah penghargaan. Jemaat Pati yang sedang berkembang menghargai para perintis Gereja Kristen Tionghoa Muria dan mengakui Gereja di Kudus sebagai gereja induk. Mereka menantikan dukungan dari saudara-saudara seiman yang lebih dewasa dan berpengalaman dalam penggembalaan dan pengembangan jemaat. Jemaat Pati pada waktu itu berjumlah tidak lebih dari dua puluh orang. Diikutsertakannya keluarga Tee – Tan, jemaat Pati mengharapkan keluarga Tjeng Gwat Siong (isterinya adalah anak perempuan sulung Tee Siem Tat dengan istri pertamanya yang telah meninggal dunia) lebih mudah menerima Tuhan Yesus dan menjadi anggota Gereja Pati. Syukur kepada Tuhan, beberapa tahun kemudian keluarga Tjeng menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya. Para pengkotbah dari Kudus, Jepara, dan lain-lain tempat tetap membantu Gereja Pati dengan membawa Firman Tuhan tiap minggu. Pendeta Tan King Ien melayani sakramen Baptisan dan Perjamuan Suci, sampai Gereja Pati memiliki Pendeta sendiri.

 “Lalu, bagaimana perkembangan Jemaat Kudus sendiri, Om?”

Ayah Valerie menarik napas dalam, menggeleng, lalu mengembuskannya, dan berujar, “Pada tanggal 2 Oktober 1940, dengan tak diduga-duga, Pendeta Tee Siem Tat dipanggil ke rumah Bapa. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Dia memanggil dua putranya, Tee Yan Poen dan Tee Yan Siang, serta menantunya, Tan King Ien. Pertemuan di kamar tidur itu sungguh mengesankan dan membawa arti yang sangat besar bagi Gereja Kristen Tionghoa Muria di kemudian hari. Pesan terakhir Pdt. Tee Siem Tat yang paling penting, disampaikan dalam sebuah kalimat singkat. ‘DJAGALAH ANAK KAMBINGKOE’ (Terjemahan Perjanjian Baru pertama dalam versi bahasa Melayu dari Injil Yohanes 21: 15).  Tentu saja penyerahan tugas dan tanggung jawab ini di atas pundak ketiga anak menantu untuk meneruskan pelayanan gereja di sekitar Muria bukanlah tugas yang ringan. Mereka juga bertanggung jawab mengelola perusahaan yang pada waktu itu sudah mempunyai karyawan sekitar 120 orang. Sebagai gereja Induk, jemaat Kudus mempunyai tiga orang Pendeta; Oei Tjien Gie dari Mayong, Tan King Ien, dan Tee Yan Poen. Setelah Tee Siem Tat meninggal dunia, tidak seorang pun dari mereka merasa mampu mengisi kekosongan yang ditinggalkannya itu. Beberapa waktu kemudian Oei Tjien Gie juga meninggal dunia, dan pada tahun 1949, karena tidak sanggup meneruskan tugasnya, Pdp. Tee Yan Poen mengundurkan diri. Dengan demikian kepemimpinan jemaat sepenuhnya jatuh ke tangan Pdt. Tan King Ien.

Setelah itu apa yang dikerjakan oleh Pdt. Tan King Ien,  Om?”

“Ada hal luar biasa yang dia lakukan. Jadi, waktu itu, ketika keadaan politik dunia sedang bergejolak hebat, Gereja Kristen Tionghoa Muria tetap bertekad untuk mulai membangun gedung sendiri. Program pembangunan gedung tersebut disetujui oleh segenap anggota jemaat yang dikumpulkan oleh Pdt. Tan King Ien. Mereka bersatu hati, berjanji untuk memberikan dukungan, dan dalam waktu singkat terkumpul persembahan kira-kira f1.1,300 (seribu tiga ratus Gulden Belanda). Syukur kepada Tuhan, dana untuk pembangunan gedung gereja datang dari berbagai pihak. Sebagian besar biaya pembangunan ditanggung oleh Percetakan SAM HOO KONGSIE dan Nyonya ONG DJING TJONG, Kudus.”

“Ny. Ong? Seorang ibu yang sudah lumpuh selama 25 tahun, lalu mengalami mujizat kesembuhan ketika didoakan oleh Ny. Tee Siem Tat ya, Pa?”

“Kamu masih ingat ya, ternyata. Selain itu Pdt. Tan King Ien juga berhasil mendapatkan sumbangan yang cukup besar dari perusahaan-perusahaan Belanda di Semarang yang menjual bahan-bahan percetakan kepada Percetakan Sam Hoo Kongsie. Persembahan juga datang dari gereja-gereja dan perorangan dari luar Gereja Muria di seluruh Indonesia. Dukungan dari anggota Gereja Muria sendiri juga cukup besar. Lalu, untuk desain bangunan dan sebagainya, dipercayakan kepada Kwik Sik Tjoe dari Kudus.

Peletakan batu pertama dilaksanakan oleh Nyonya Tee Siem Tat pada tanggal 5 Oktober 1941. Nyonya Tee dibantu oleh anak-anaknya, Tee Yan Poen dan Tee Yan Siang, bersama-sama dengan anggota jemaat yang lain menangani pembangunan gedung gereja ini. Pembangunan dikerjakan siang dan malam, dengan hikmat dan kekuatan dari Tuhan Yesus, Sang Pemilik Gereja. Gedung gereja yang baru dibangun ada di sebelah utara gedung gereja lama, di jalan Panjunan (sekarang KH. Wahid Hasyim) 76 Kudus. Dalam waktu kurang lebih tiga bulan gedung gereja selesai dibangun dan diresmikan pada tanggal 23 Desember 1941. Ini merupakan satu prestasi yang luar biasa.  Biaya pembangunan gedung gereja sekitar  f1. 4,000 – 5,000 (empat sampai lima ribu Gulden Belanda).

“Pdt. Tan ini hebat lho,” lanjut ayah Valerie sambil menatap Valerie dan Benny yang sama-sama sedang menautkan alis karena kagum. Beliau tidak hanya fokus melayani dan khotbah. Tetapi, selama enam hari dalam seminggu juga harus mencurahkan pikiran dan tenaganya untuk mengurus Sam Hoo Kongsie. Menurut kalian, bagaimana Pdt. Tan mempersiapkan khotbah?” tanya Ayah Valerie setelah menyesap kopi yang sudah dingin.

“Wow. Sepertinya dia harus membagi waktu dengan cermat ya. Sama seperti kita selama kuliah, ketika fokus dengan tugas dan tanggung jawab sebagai mahasiswa, tetap harus menyempatkan diri merenungkan Firman Tuhan yang bisa diaplikasikan dalam keseharian.”

“Bisa jadi Pdt. Tan rajin begadang, Pah.”

“Hush. Bukan begadang. Pdt. Tan King Ien menyisihkan dua jam setiap hari, antara pukul 20.00 sampai 22.00 untuk menyusun khotbah-khotbahnya, dibantu dengan buku-buku tafsir yang dia miliki. Dia menyusun segala sesuatunya dengan sempurna. Bahkan dia juga mempersiapkan katekisasi untuk anggota baru yang akan dibaptiskan, khotbah khusus untuk acara Perjamuan Kudus, Baptisan, Pemberkatan Nikah, dan Penyerahan Anak. Sebagai Pendeta yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan teologia, Pdt. Tan King Ien patut mendapat penghargaan atas jerih juangnya selama empat puluh tahun. Luar biasanya lagi, dia tidak pernah mengeluhkan aktivitas pelayanannya di Gereja-gereja Muria.”

“Nah, Pdt. Tan King Ien kan bukan lulusan teologi, Pah. Lalu apa dia sanggup menjabarkan ayat demi ayat dengan sesuai?” tanya Valerie. Sebagai lulusan sekolah teologia, Valerie masih sering merasa tidak percaya diri saat menyampaikan renungan, atau ketika bahan penyampaian Firman Tuhan miliknya mendapat kritik.

“Lho, kesesuaian seperti apa dulu, standarnya? Kalau asal jemaat dan pendengar senang ya, itu bukan standar yang tepat. Pdt. Tan King Ien juga sering mendapat kritik. Tetapi, satu hal yang pasti, dia terima setiap kritikan itu dengan lapang dada. Tugas dan tanggung jawab dari Pdt. Tee Siem Tat, mertuanya, menjelang wafat, dijalankan dengan sepenuh hati dengan bertanggung jawab kepada pemilik Gereja Muria, yakni Tuhan Yesus Kristus.”

“Waaah, itu yang sulit. Kadangkala kritik itu pedas, dan setajam silet.” Valerie mendelik ke arah Benny sambil mengucapkan kata yang terakhir, silet.

Ayah Valerie melirik dan menggeleng pelan. Menceritakan kisah Pdt. Tan King Ien yang juga gemar musik barat klasik dan lihai bermain biola, membuatnya merasa kembali ke masa muda, saat pertama kali melayani Tuhan. Berawal dari ikut-ikutan teman, masuk sekolah teologi, bahkan berani meninggalkan kesempatan menjadi pewaris tunggal perusahaan keluarga. Namun, hingga hari ini, hati dan pikirannya masih tetap tercurah untuk melayani Tuhan.

“Eh, Pah. Omong-omong, gimana Pdt. Tan mencetak buku nyanyian Gereja Muria? Itu sudah ada sejak dulu atau …,” tanya Valeri tiba-tiba membuyarkan lamunan ayahnya.

“Ah, ya. Mencetak partitur untuk paduan suara maksudmu?” Ayah Valerie membenahi duduk, dan menggerakkan tangan untuk memperagakan setiap ucapannya, “Pada waktu latihan, dia menulis lagunya di atas papan tulis, atau dengan cara istimewa, mencetak lembaran-lembaran musik. Lagunya ditulis di atas selembar kertas putih dengan tinta kopi ungu. Kemudian agar-agar cair dituang di atas nampan. Setelah agar-agar mengeras, kopi ungu ditempelkan di atas cairan agar-agar supaya tintanya dihisap dan menjadi klise pencetakan. Dengan cara sederhana itu dapat dibuat kira-kira 15-20 kopi. Herman, anak laki-laki Pdt. Tan King Ien sering membantu ayahnya mencetak lembaran lagu-lagu untuk paduan suara. Hingga pada akhirnya perusahaan percetakan Sam Hoo Kongsie membeli huruf-huruf do – re – mi dari timah untuk mencetak lagu-lagu dan buku nyanyian Gereja Muria.”

“Agar-agar? Kopi?” Valerie menggaruk kepalaya yang tidak gatal sambil menautkan alis dan menaikkan sudut bibirnya tanda kebingungan.

Ayah Valerie mengangguk.

“Satu hal lagi terakhir dari Pdt. Tan King Ien, dia sangat pendiam. Suatu saat empedunya mendadak pecah dan merenggut nyawa. Ya, Pdt. Tan King Ien meninggal pada tanggal 29 Oktober 1962 di tempat kelahirannya di Solo. Jenazahnya dibawa pulang ke Kudus dan dikubur di Kerkop Rendeng Kudus. Waktu itu, Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) kembali kehilangan seorang pemimpin dan pelayan yang setia dan dengan penuh tanggung jawab kepada Tuhan dan Gereja-Nya. Dia telah melayani jemaat-jemaat Gereja Kristen Tionghoa Muria selama empat puluh tahun tanpa menerima honorarium. Bahkan sebaliknya, dia banyak berkorban tenaga, waktu, pikiran, dan harta benda dengan sukarela dan sukacita.”

“Hmm …, Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan, dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi,” gumam Valerie mengutip Pengkotbah 9: 10.

“Ya, Papa sangat terkesan dengan kisah Pdt. Tan King Ien. Bukan hanya karena kesanggupannya membagi waktu antara pekerjaan dan pelayanan, melainkan kehidupannya juga membekas. Kesetiaan dan ketaatannya dalam menjalankan tugas panggilannya luar biasa. Dia menghayati benar nasihat Rasul Paulus kepada Timotius, anak rohaninya: ‘Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!’ (2 Tim. 4: 5)”

Ayah Valerie mengajak anaknya dan Benny untuk berkeliling GKMI Kudus. Ketika mereka sampai di ruangan kapel, pandangan mereka tertumbuk pada sebuah prasasti berukuran kira-kira 15 x 100 cm yang tertanam dalam tembok di bawah salib di ruang kapel lantai 4. Sebuah prasasti yang mengingatkan akan pesan terakhir Pdt. Tee Siem Tat kepada anak dan menantunya sebelum menghembuskan nafas terakhir.

Dengan penuh perhatian Benny membaca tulisan yang tertera pada prasasti yang dibuat dari batu granit tersebut. “DJAGALAH ANAK KAMBING KOE, Johannes XXI: 15”.

“Ya, pengalaman yang sangat luar biasa, hingga bisa dikatakan sempurna. Sebagai menantu, dia sungguh taat dan bertanggung jawab,” batin Benny. Tangannya menyentuh dinding keramik tempat prasasti itu ditanam. Sambil menghela napas dan mengatupkan bibirnya erat, ia menanamkan janji dalam hatinya  untuk tetap setia kepada panggilan, melayani Tuhan selagi ada kesempatan, melayani Tuhan sepenuh hati, mencurahkan segala yang dimiliki hanya untuk memuliakan nama Tuhan. Ia yakin kalau ia setia dengan perkara-perkara kecil, pasti Tuhan akan mempercayakan perkara-perkara besar kepadanya. (Re-write: Evelyne Tanugraha/MR)

 

 

Semarang, 3 November 2018

 

Paul Gunawan

Penulis & Editor Buku.

 

————————————————————————————————————————-

SELAMAT HUT KE-98 GEREJA KRISTEN MURIA INDONESIA (GKMI). TETAPLAH SETIA SEBAGAI GEREJA PEMBAWA DAMAI!

—————————————————————————————————————-

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2019 GKMI NETWORK

or

Log in with your credentials

Forgot your details?