Kisah Perjalanan Hidup, Pelayanan, dan Karir Agus Suwantoro

 

“Kamu gila, Frans!” sergah Alya. Matanya melotot. Ia meletakkan strawberry milkshake ke meja bulat yang ada di tengah mereka, kemudian membenahi duduknya. Perempuan berambut curly yang sudah dua tahun menjalin hubungan dengan Frans marah, setelah mendengar kekasihnya memutuskan untuk memenuhi panggilan hidupnya, pelayanan ke daerah selama dua tahun daripada menekuni usaha yang sudah dirintis bersama para sahabatnya sejak SMA.

“Aku sudah memikirkannya matang-matang, Al. Aku akan berangkat tiga hari lagi. Untuk sementara, Randy akan menggantikanku mengelola café ini,” ujar Frans seraya mengedarkan pandang.

Alya mengernyitkan dahi. Sudut bibirnya sedikit terangkat. “Randy teman SMA kamu?” tanyanya seraya menaikkan sebelah alis dan menatap Frans lekat-lekat.

Lelaki berbadan tegap itu mengangguk dan menyeruput white coffee di hadapannya. “Iya. Randy Keriting”, Frans menggulung-gulung tangannya di kepala, menunjukkan bentuk rambut ikal Randy.

Alya menggeleng cepat. Setelah meneguk milkshake, sekali lagi ia mengumpat, “Gila. Kamu benar-benar sudah gila! Bukan setahun dua tahun kamu merintis café ini hingga menjadi besar, dan sekarang dengan mudahnya akan kamu percayakan sama orang lain?”

“Alya, aku percaya Randy bisa mengurus café ini. Sudah lama aku rindu membantu pelayanan Hamba Tuhan di daerah. Saat ini gereja tempat aku melayani sedang bergumul untuk membuka perintisan di daerah Timur. Aku benar-benar ingin menaruh perhatianku ke sana, Al. Sejak ikut Kemah Pemuda yang diadakan gereja beberapa tahun lalu, aku berkomitmen untuk mengabdikan diri dalam pelayanan. Prinsipku, kalau minum kopi aja segelas penuh, masa pelayanan hanya setengah-setengah? Malu sama gelas.”

Frans berusaha mencairkan ketegangan antara mereka. “Aku sudah lama menunggu kesempatan ini. Selama ini aku hanya bisa rutin membantu dalam hal pendanaan, yang pasti tidak seberapa dibanding berkat Tuhan dalam hidup dan bisnisku hingga hari ini. Aku juga ingin memberikan sebagian masa mudaku untuk memberitakan Injil.”

Alya menggeleng dan berdecak keheranan. “Gereja, gereja, gereja. Pelayanan, pelayanan, pelayanan. Aku nggak ngerti sama jalan pikiranmu, Frans. Bahkan aku seakan nggak kenal kamu. Sepanjang hari, di pikiranmu hanya ada gereja dan pelayanan,” cerocos Alya. Meski ia tahu bahwa Frans sangat setia dengan pelayanan, keputusan ini benar-benar mengejutkannya. “Lalu bagaimana kelanjutan hubungan kita? Kamu tidak pernah serius sama hubungan ini. Kamu gila!” Alya mendengus kesal dan bergegas meninggalkan Frans.

 

***

 

Malam itu menjadi sangat panjang. Rinai hujan mengiringi kegelisahan hati Alya. Dalam pikirannya berkecamuk tentang lelaki yang pernah berkata mencintai, namun lebih memilih untuk melayani, bahkan rela menitipkan bisnis yang selama ini dia tekuni.

Seorang pria paruh baya dengan kacamata bening bertengger di hidungnya, datang menghampiri Alya. Tangan kanannya memegang secangkir kopi hitam yang masih sedikit mengepul. “Kamu kenapa, Al?”

Alya menarik napas dan menelan ludah dengan berat. Alis matanya bertaut, membalas pertanyaan pria tersebut. “Pa, kenapa Frans lebih memilih pelayanan ke daerah dari pada menekuni bisnis yang sudah dirintisnya bertahun-tahun?”

Pria itu meletakkan kopinya dan tersenyum simpul. “Lho. Ya bagus, itu. Sejak muda, Frans mau melayani. Dia tahu siapa yang harus diutamakan.”

“Ish… kok bagus sih, Pa. Pelayanan sih pelayanan. Tapi… ,” gerutu Alya.

“Tapi apa?”

Alya menghela napas. Sejenak suasana menjadi hening. Sunyi.

“Anakku,” ujar pria itu dengan lembut. “Kamu ingat rekan papa yang pebisnis dan setia melayani Tuhan sejak masa mudanya?” tanya pria itu lagi, dan hanya mendapatkan tautan alis anak gadisnya. “Sejujurnya Frans mengingatkan Papa kepadanya,” lanjutnya. “Tunggu sebentar. Papa akan tunjukkan kamu sesuatu.” Pria paruh baya itu beranjak. Kakinya tertatih menuju meja kerja dan mengambil sebuah buku.

“Apa itu, Pa?” tanya Alya seraya melirik buku di hadapannya. “Ditulis oleh Paul Gunawan.” Alya memicingkan mata.

“Ya, ini biografi Agus Suwantoro, salah seorang rekan papa yang menyerahkan diri sejak masih muda melalui kegiatan Kemah Pemuda Sinode GKMI VII yang diselenggarakan di Bangsri, 12-17 Juli 1965, dan Koferensi Pelayan Ladang Tuhan yang pertama yang juga diadakan di Bangsri pada bulan Desember 1967.” Pria itu menepuk ringan buku di tangannya, kemudian mulai membuka satu per satu halaman sambil bercerita kepada anak gadis semata wayangnya.

Agus Suwantoro, biasa papa panggil Pak Agus. Dia lahir di Bangsri, 5 April 1947, dengan nama Ang Giok Swan. Dalam keluarga dia dipanggil Giok Swan atau Koh Swan. Anak pertama dari enam bersaudara, dari pasangan Ang Swie Khing dengan The Loen Nio, mempunyai dua saudara laki-laki dan tiga saudara perempuan. Papa mengenal dia sekitar tahun 1981. Waktu itu kamu belum ada. Pak Agus sekeluarga pindah ke Semarang dan kami sama-sama melayani di GKMI Semarang. Pertemanan kami semakin akrab dan dekat, ketika Pak Agus mulai terlibat dalam pelayanan di Sinode GKMI. Kami menjadi rekan sepelayanan di Sinode GKMI juga. Menurut catatan Pdt. Yahya Chrismanto, ternyata dia sudah ikut terlibat dalam pelayanan di lingkungan Sinode GKMI sudah lama, yakni sejak tahun 1967, khususnya dalam bidang penginjilan. Saat Pak Agus menjadi Ketua/Bendahara Komisi PI Sinode, dia rutin mengirimkan lima puluh ribu rupiah setiap bulan untuk mendukung perintisan GKMI di Jakarta. Pdt. Aristarchus Sukarto mencatat, ketika pada tahun 1970-an PIPKA mulai merintis kehadiran GKMI di Yogyakarta, Pak Agus memberikan dukungan yang sangat berarti.”

“Apa hubungannya dengan kegalauanku hari ini?” tanya Alya. Bibirnya manyun, pipinya digembungkan.

Pria paruh baya yang dipanggil Papa mengacak rambut Alya dan tertawa renyah. “Sangat berhubungan, tapi berbeda. Karena sepertinya perempuan yang menjadi isteri Pak Agus tidak pernah galau seperti kamu,” seloroh pria itu.

“Jangan bercanda ah, Pa. Ini serius. Tiga hari lagi Frans pergi, dan aku belum rela.”

“Pada tahun 1986, Pak Agus menjabat sebagai ketua umum Sinode GKMI selama dua periode berturut-turut,” lanjutnya sambil sesekali terbatuk.

 “Lalu?”

“Pdt. Yahya Christmanto dalam buku Celebration Of Life (COL) memberi kesaksian bahwa masa kepemimpinan Pak Agus bersama Pdt. Yesaya Abdi sebagai Sekretaris Umum Sinode – yang disebut ‘Double A’ – merupakan salah satu duet terbaik dalam masa kepemimpinan Sinode GKMI 50 tahun terakhir.”

“Hubungannya sama Frans apa, Pa?” desak Alya tidak sabar.

Pria berkacamata itu tertawa dan menyeruput kopi dengan santai. “Alya, sejak remaja, Pak Agus sudah terlibat aktif dalam pelayanan. Dia sangat menaruh perhatian pada pelayanan penginjilan, penanaman gereja baru, pembangunan jemaat, pendidikan teologia, doa syafaat, dan visitasi. Hatinya penuh kasih. Dia dengan senang hati membantu orang-orang yang membutuhkan pertolongan, memperhatikan kehidupan para hamba Tuhan, serta mendukung program-program gereja. Selain itu, Pak Agus juga adalah pebisnis. Memercayakan bisnis kepada orang lain pun pernah dilakukannya. Lalu, kalau Frans memutuskan untuk pergi ke daerah demi pelayanan, kamu jadi galau, aduh…,” Papa menepuk dahinya sambil menggeleng dan tersenyum.

“Bukan begitu, Pa. Kalau dalam pikiran Frans hanya pelayanan dan pelayanan….”

“Dia nggak bisa mikirin kamu?” sela pria yang punya hobi membaca buku ini.

Alya melirik dan memanyunkan bibirnya lagi.

“Ya ampun, Alya. Anak perempuan papa sudah besar, tapi ternyata belum paham. Gini, ya. Ada satu kisah yang pernah Pak Paul tulis. Waktu itu, dia bertemu dengan Mak Tan Tjwan Liang yang mendapat mimpi dari Tuhan bahwa gedung GKMI Semarang harus segera dipugar. Untuk itu Mak Tjwan Liang mempersembahkan satu-satunya harta miliknya yang berharga untuk menjadi modal awal pemugaran. Mak menjual mesin jahitnya, yang kemudian dibeli oleh Pdt. Darji Wibawa dengan harga tujuh puluh lima ribu rupiah. Dia menyampaikan itu kepada Pak Agus. Langkah Pak Agus sangat cekatan dalam menanggapi hal ini. Setelah mengadakan rapat dengan para majelis, ‘Visi Mak Tjwan Liang’ dialihkan ke pembukaan GKMI Semarang Cabang Tanah Mas. Bukan tanpa alasan. Mereka memperhitungkan keberadaan murid Sekolah Minggu yang waktu itu sudah lumayan banyak di Tanah Mas. Langkah berikutnya, Pak Agus bersama rekan-rekan, termasuk Pak Paul, berkeliling mencari tanah untuk dijadikan gereja, yang akan dipakai beribadah jemaat Tanah Mas. Setelah itu, Pak Agus mengajak rekan-rekan untuk membuat komitmen dalam memberikan persembahan dengan jumlah tertentu agar pembelian tanah di Tanah Mas berjalan lancar. Kamu tahu GKMI Gloria Patri?” tanya Sang Papa kepada anak gadisnya yang mulai tertarik mendengar cerita tentang Pak Agus.

Alya mengangguk.

“Itu adalah GKMI Semarang Cabang Tanah Mas yang didewasakan pada tanggal 25 September 1990.”

“Itu ‘kan bukan berarti Pak Agus meninggalkan bisnisnya, seperti yang akan Frans lakukan, Pa.” Alya masih belum menerima keputusan Frans dengan akal sehatnya.

“Eits.… Pengalaman praktis setiap orang berbeda. Tapi itu salah satu contoh bahwa Pak Agus memikirkan perkembangan gereja dengan sungguh-sungguh. Pelayanannya tidak hanya sekadar ‘melayani’. Pak Agus juga menghasilkan buah. Selain itu, selama masa kepemimpinannya sebagai Ketua Sinode GKMI periode 1986-1992, ada beberapa program Sinode yang dicanangkan dan dilaksanakan dengan baik, antara lain pemindahan kantor Sinode GKMI dari Jalan Argopuro 20 ke Jalan Sompok Lama 60, Semarang, juga pembangunan Graha Sinode GKMI yang diresmikan penggunaannya pada tanggal 6 Desember 1991. Lalu, dalam periode jabatannya sebagai Ketua Umum Sinode GKMI, ada delapan GKMI didewasakan. Empat di antaranya berlokasi di Jabodetabek, dan satu GKMI di Kalimantan Barat, GKMI Sion – GKMI luar Jawa yang pertama kali didewasakan –. Program mobilisasi GKMI, yang diberi nama ‘Program 1-3-1’, …”

“Program apa itu?” celetuk Alya penasaran.

Pertama, satu GKMI dalam tiga tahun melahirkan satu GKMI. Kedua, satu orang jemaat dalam waktu tiga tahun membawa satu jiwa baru datang beribadah kepada Tuhan.”

“Unik ya, Pa. Segitunya Pak Agus memikirkan, tetapi tidak muluk-muluk.”

“Iya. Tiga tahun. Kalau kita mau menjangkau jiwa, pasti bisa.”

Alya lagi-lagi mengangguk tanda mulai paham.

“Ada juga program lainnya yang sudah terlaksana dengan baik dan sangat fenomenal, ‘Visi Jakarta’, yaitu program kerjasama antara Sinode GKMI dengan Pos PI GKMI Cideng Jakarta. Dari program tersebut, lahirlah GKMI Anugerah yang telah didewasakan pada tanggal 1 Maret 1988.”

“Tunggu. Ya jelas saja itu harus dipikirkan. Pak Agus kan memang mendapat jabatan sebagai Ketua Umum waktu itu, Pa. Mau nggak mau dia harus fokus. Bisnis ya bisnis ajalah. Nggak usah terlalu fokus dengan hal seperti itu,” Alya menyanggah.

Sang Papa menarik napas dan menyunggingkan senyum tipis di wajahnya. “Nak, seringkali orang berpikir bahwa pebisnis tidak perlu fokus melayani, tetapi lupa bahwa bisnis adalah karunia yang bisa dipakai untuk melayani. Salah satunya adalah Pak Agus Suwantoro dengan karunianya sebagai pebisnis, dan terbukti pelayanannya berbuah.”

“Pada waktu GKMI Semarang sedang berada dalam puncak kejayaannya – ini cerita lanjutan yang ditulis Pak Paul – seingatnya Pak Abang Rahino Sudjojono menjadi Sekretaris Umum, sedangkan Pak Agus  menjadi Ketua Umum dalam kemajelisan GKMI Semarang  periode 1986 – 1988. Jemaat berkembang dengan pesat. Gedung gerejanya relatif kecil, sehingga Kebaktian Minggu pagi pukul enam penuh sesak. Banyak orang-orang berpotensi dari berbagai GKMI lain pindah ke Semarang dan berjemaat di GKMI Semarang.

Karena cukup banyak anggota jemaat yang potensial, perlu hikmat khusus dalam mengelola perbedaan pendapat yang ada. Pada waktu itu ada ketegangan soal liturgi, terutama mengenai tepuk tangan dan lagu-lagu yang dinyanyikan dalam Kebaktian Umum. Selain itu, ada yang lebih serius, yakni mengenai ‘Memberi tempat pada karya Roh Kudus’ dan ‘masalah Baptisan Percik dan Baptisan Selam’. Kemudian Majelis Jemaat GKMI Semarang dengan arahan Pak Agus, membentuk  ‘Tim Empat’ yang teridiri dari:  Pdt. Chrismanto Jonathan, Pak Adi Sutjipta, Ev. Esther Djajadihardja, dan Pak Paul. Mereka memiliki tugas untuk mengembangkan Kebaktian Rumah Tangga (KRT) di jalan Sompok Lama 60 (pindahan dari KRT di Jalan Wonodri Baru I/11A, Semarang) menjadi sebuah gereja baru. Akhirnya panitia terbentuk dan menjadi GKMI Semarang Cabang Sompok, yang pada 23 September 1995 didewasakan dengan nama GKMI Sola Gratia. Ya, setelah melakukan Ibadah Umum pertama pada Minggu, 8 September 1988.”

“Wow. Pak Agus dipakai Tuhan dengan luar biasa ya, Pa. Terus, apa Christoperus yang aku terlibat di dalamnya juga ada andil Pak Agus? Kok sepertinya aku pernah mendengar namanya juga?”

Sang Papa berdehem dan mengangguk. “Ya. Pak Agus termasuk salah seorang pendiri Sekolah Musik Christopherus dan Pendidikan Teologia Ekstensi (PTE) Christopherus,” ujar Sang Papa menjelaskan. “Pak Agus ikut memutuskan penggabungan Keluarga Sangkakala dan Tim Musik ‘All for Christ’ menjadi Yayasan Christopherus pada tanggal 11 Januari 1972 dan diresmikan di depan notaris pada tanggal 3 Mei 1972. Keputusan tersebut dibuat dalam satu persekutuan yang diselenggarakan di ‘Pondokan’ di jalan Dr. Cipto 44 (Pav.), Semarang. Mereka yang hadir pada waktu itu: Pak Agus Suwantoro, Pak Adi Sutjipta, Ang Rina, Ny. Adi Sutanto (Bwe), Ang Giok Ing, Pak Christian Nugroho, Pak Chrismanto Jonathan, Pak Markus Hendra Kusuma, dan Pak Soendjojo. Pak Agus juga pernah menjadi Ketua Yayasan Christopherus. Bersama dengan Adi Sutjipta, juga Sr. Lydia dan Sr. Anne, mereka merintis pelayanan kesehatan dan cabang di Tumbang Marikoi, Kalimantan Tengah.”

“Lalu bisnisnya? Bagaimana dengan bisnis yang dia jalani ketika ia melayani? Trus, gimana juga dengan keluarganya, Pa? Itu ‘kan berarti seluruh pikiran dan perhatian Pak Agus terpusat pada pelayanan.”

“Oh, iya. Pak Agus itu bisnisnya banyak. Bukan cuma satu dua seperti Frans-mu itu,” jawab Sang Papa sambil terkekeh.

“Ah, Papa….”

“Dia pernah berbisnis di bidang produksi dan penjualan kacang, kapuk, barang-barang keperluan rumah tangga, komputer, peternakan sapi, perkebunan kentang, dan mebel jati. Bahkan… bangkrut pun pernah dia alami.”

“Bangkrut? Bisnisnya banyak, setia melayani, bisa bangkrut?” tanya Alya heran.

“Iya. Kenapa nggak bisa? Siapa pun yang jadi pebisnis bisa bangkrut, termasuk anak-anak Tuhan, termasuk Pak Agus. Tapi yang berbeda adalah sikap Pak Agus ketika bisnisnya bangkrut. Coba baca kesaksian Ruben Budiwan, anak Pak Agus yang ketiga,” ujar Sang Papa seraya menunjukkan halaman yang dimaksud.

Terima kasih untuk menjadi teladan bagiku. Memberi contoh kepadaku untuk tidak mengeluh, tekun, dan mengucap syukur di dalam menghadapi segala permasalahan. Engkau memberi contoh kepadaku ketika keadaan ekonomi keluarga kita hancur berantakan, engkau mengambil pecahannya satu per satu dan membangunnya kembali tanpa mengeluh apapun juga. Lebih dari itu, engkau masih bisa mengucap syukur dan membagikan berkat kepada orang-orang di sekitarmu yang membutuhkan.” Alya terhenyak. Baginya pebisnis tidak mungkin merasakan masa-masa ekonomi sulit. Tetapi sosok Pak Agus, melalui kesaksian Ruben, sedikit mengubah pemahamannya. “Hebat ya, Pa. Lalu bagaimana dengan keluarganya?”

“Setahu Papa hubungan Pak Agus dengan isteri dan anak-anaknya sangat harmonis. Oh iya. Isteri Pak Agus bernama Onie Ratnawati (Ong Tjiok Nio). Mereka menikah pada tanggal 27 Maret 1972 di Semarang. Dari pernikahannya, mereka dikaruniai empat anak. Dua perempuan, dua laki-laki, serta tiga cucu perempuan dan tiga cucu laki-laki. Coba kamu baca kesaksian Maria Fabiola, anaknya yang pertama.

Kehidupan Papi adalah berkat bagiku. Kata-katanya membuatku tenang. Keberadaannya membuat aku damai. Papi adalah pendengar yang baik ketika aku bercerita dan dia selalu menemaniku dalam suka dan duka. Kata-kata dan nasihatnya membawa sukacita. Kasihnya yang tanpa syarat menyertaiku. Doa-doanya menopang hidupku. Aku kehilangan seseorang yang selalau mendoakan aku. Aku kehilangan panutan hidupku.” Alya menitikkan air mata, mengeratkan bibirnya, dan menarik napas panjang.

“Lagi-lagi aku cuma bisa terkagum, Pa. Eh, lalu bagaimana pelayanan Pak Agus setelah dia mengalami kebangkrutan?”

“Kebangkrutan Pak Agus membawa dia sekeluarga pindah ke Batam. Beberapa tahun setelah mereka menetap di Batam, dia diajak kerjasama oleh Pdt. Yahya Chrismanto yang mendapat tugas untuk perintisan GKMI di Pulau Batam, sekitar tahun 1999. Setahun berjalan, Pak Yahya pindah merintis GKMI di Bali, dan perintisan di Batam dilanjutkan oleh Pak Agus, dibantu Pak Tresnoeko Saputro beserta beberapa rekan yang lain. Hingga pada tanggal 15 September 2005, gereja tersebut didewasakan menjadi GKMI Batam.”

 “Maksud Papa, apapun yang Tuhan izinkan untuk dialami seseorang, tetap ada buah yang akan dihasilkan ketika dia tetap setia pada panggilannya?”

“Tepat sekali, Nak. Kehidupan Pak Agus, sejak masa mudanya selalu menghasilkan buah. Baginya, sesungguhnya yang Tuhan inginkan dari anak-anak-Nya bukan sekadar menjadi orang yang sukses. Tetapi lebih dari itu, yakni menjadi orang yang berbuah. Coba kamu simak kesaksian David Budiwan, anaknya yang keempat,

Papi tidak pernah bertanya, apakah ia dikasihi oleh Tuhan? Papi juga tidak pernah bertanya, apakah Tuhan ada bersamanya ketika dia menderita sakit parah? Dalam keadaan apa pun yang dilakukan Papi adalah memuji Tuhan. Papi yakin dan tahu bahwa Tuhan bersama dia apapun keadaannya. Hal itulah yang sangat berkesan bagiku. Papi sangat pemberani dan teguh dalam segala keadaan. Papi tidak kenal rasa takut dalam keadaan apa pun, serta ada damai di hatinya yang melebihi akal manusia. Bahkan kematian yang di depan mata juga tidak membuat Papi ragu atau takut atau membuat Papi berhenti memuji Tuhan. Aku bersyukur untuk Papiku dan teladan yang diberikannya.

“Alya, anakku,” ucap Sang Papa seraya meletakkan tangan di bahu anaknya. “Pak Agus memang bukan orang yang sempurna, dia punya kekurangan. Dia pernah gagal. Dia pernah bangkrut. Tapi dia tidak pernah berhenti mengasihi dan melayani Tuhan sampai akhir hidupnya pada tanggal 18 Desember 2017. Coba baca kesaksian Maria Fransisca, anaknya yang kedua,” lanjutnya.

Mata Alya menerawang, membayangkan kehidupan Pak Agus yang sangat setia melayani, berbuah, hingga terbersit dalam pikirannya apakah aku mampu? Bibirnya bergetar ketika membaca, “Melayani TUHAN YESUS dengan setia dan tulus di sepanjang hidupnya, di Sinode GKMI, Christopherus dan memberitakan Injil di gereja-gereja kecil, di pelosok-pelosok, itu yang menjadi kesenangan dan semangat hidup Papi, tanpa pamrih dan melayani dengan penuh sukacita. Dengan kesibukan bekerja dan di masa usia senja pun, Papi masih melayani TUHAN, menjadi penasihat gereja dan hampir setiap minggu memberitakan firman Tuhan di gereja-gereja. Pada masa pengobatan tumor otak, ketika ingatan Papi mulai melemah, yang selalu diingat dan dibicarakan pada masa itu adalah rapat Sinode dan gereja-gereja.

Alya menarik napas panjang, menahannya beberapa detik, lalu mengembuskannya dengan mengatupkan bibir erat.

“Jadi, Alya, orang yang sukses belum tentu berbuah. Tetapi, ketika seseorang berbuah, pasti dia menjadi orang yang sukses. Kamu ingat Yohanes 15: 8, Al: Dalam hal inilah Bapa-ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-muridku,” tegas Sang Papa.

“Al, kalau boleh Papa memberi saran, dukunglah Frans untuk memenuhi panggilan hidupnya. Kalau kamu dan Frans berkenan, Papa mau mendampingi untuk membicarakan kelanjutan pengelolaan café-nya selama dia pergi,”  kata Sang Papa menutup percakapan malam itu dengan Alya, kemudian meninggalkan anak gadisnya termangu dalam kamar.

Hujan sudah berhenti, tetapi tidak dengan pikiran Alya yang terus berputar. Dia sudah paham bahwa melayani adalah hal yang penting, supaya bisa menghasilkan buah. Tetapi, jika itu harus mengorbankan diri dan cintanya, sejujurnya masih banyak yang perlu dipertimbangkan. Alya melirik ponsel di meja sebelah tempat tidur, berharap Frans menelepon untuk membatalkan kepergian, atau dia yang harus menelepon kekasihnya itu untuk meyakinkan bahwa keputusannya untuk memenuhi panggilannya hidup adalah sesuatu yang benar dan mulia. Sebuah awal untuk menjadikan hidupnya berbuah.

Sejatinya Firman Tuhan selalu Ya dan Amin. Jika Dia menginginkan kita untuk berbuah, untuk apalagi hidup jika bukan menghasilkan buah? (Re-write: Evelyne Tanugraha/MR)

 

 

Semarang, 15 September 2018

 

Pdm. Paul Gunawan

Penulis dan Editor Buku

 

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2018 GKMI NETWORK

or

Log in with your credentials

Forgot your details?