Istilah Immanuel pasti sudah seringkali kita dengar sebagai umat Kristen. “Allah menyertai kita”, begitulah kira-kira artinya. Banyak sekali penafsiran yang muncul mengenai bagaimana sesungguhnya Allah itu menyertai kehidupan kita masing-masing. Digodok dari pergumulan hidup yang nyata, renungan demi renungan dituliskan satu persatu lalu dikumpulkan menjadi buku yang diberikan judul Immanuel: Kumpulan Renungan Injil Pembebasan. Buku kumpulan renungan ini merupakan salah satu usaha untuk memaknai penyertaan Tuhan di dalam kehidupan kita. Demikian ringkasan isi buku ini saya tuangkan dalam bentuk artikel di majalah “berita GKMI”. Semoga menjadi berkat bagi Pembaca.

Motivasi Utama

Saya tergerak untuk menuliskan kumpulan renungan ini oleh karena kegelisahan diri saya ketika melihat keterpisahan dua hal penting dalam tugas pokok gereja, yang kadang disebut dengan istilah “altar dan latar”, yaitu peran gereja di dalam komunitas intern gereja sebagai penerus tradisi iman Kristen (altar) dan perannya di tengah masyarakat sebagai bagian dari masyarakat yang ke dalamnya gereja telah diutus oleh Tuhan (latar). Dua hal tersebut semestinya bergandengan dan dilakukan secara tidak terpisah.

Sayangnya, di hari-hari ini yang terjadi adalah orang-orang Kristen yang bergerak di dalam gerakan-gerakan sosial seringkali melihat gereja dengan pandangan sinis. Mereka seringkali melihat gereja sebagai orang-orang yang pasif, yang tidak mau terjun secara langsung ke lapangan untuk secara aktif membawakan damai yang mereka sering doakan di dalam gereja. Begitu juga sebaliknya, orang-orang yang aktif di dalam gereja seringkali memiliki stigma buruk mengenai orang-orang yang aktif di lembaga atau organisasi yang bergerak di bidang sosial, bahkan yang dijalankan oleh orang-orang Kristen sekalipun. Orang-orang yang secara langsung terjun di dalam gerakan sosial dituduh mengesampingkan pertobatan jiwa dan penyebaran Injil sebagai tujuan hidup orang Kristen.

Setelah memperhatikan hal tersebut, saya melihat adanya sebuah jurang lebar yang memisahkan antara fungsi diakonia gereja dengan fungsi koinonia dan marturianya. Fungsi diakonia itu seperti terasing dari kedua fungsi lainnya. Saya berpendapat bahwa kedua hal ini tidak seharusnya terpisah dan bahkan terlihat saling memusuhi satu sama lain. Buku Immanuel ini merupakan salah satu usaha saya untuk memulihkan hubungan yang rusak tersebut.

Injil Pembebasan

Injil berarti Kabar Baik. Kabar baik yang dibawa oleh Yesus dengan sangat indah dirangkumkan dan diberi muatan teologis di dalam Injil Lukas. Dikatakan demikian ketika Yesus diceritakan sedang membaca sebuah ayat dari kitab Yesaya; “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk.4: 18-19). Kemudian suasana menjadi sangat tegang ketika Yesus menutup kitab itu dan berkata, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya.”

Hal ini menunjukkan secara jelas sekali bahwa Injil (baca: Kabar Baik) yang dibawakan dalam diri Tuhan Yesus Kristus itu ialah sebuah Kabar Baik bagi orang-orang miskin, orang-orang yang ditawan, dan yang buta; yaitu orang-orang yang tertindas di dalam hidupnya. Kabar baik yang dibawa adalah kabar baik mengenai pembebasan mereka dari kondisi menyedihkan yang sedang mereka jalani. Pembebasan yang disebutkan datang bersama dengan tahun rahmat Tuhan itu merupakan pembebasan manusia dari cara-cara hidup yang jahat, yang terus-menerus membuat hidup manusia semakin jatuh sedalam-dalamnya kepada kejahatan dan penderitaan.

Diakonia Transformatif

Mengutip tulisan Pdt. Em. Josef Widyatmadja, seorang Pendeta yang telah lama aktif dalam pelayanan sosial, dalam bukunya, “Yesus dan Wong Cilik,” pelayanan diakonia gereja sesungguhnya memiliki tiga jenis. Jenis yang pertama adalah diakonia karitatif, yaitu diakonia jangka pendek yang memberikan langsung kepada kebutuhan mendesak seseorang. Jenis kedua adalah diakonia reformatif, yaitu diakonia jangka menengah yang menyediakan keterampilan dan fasilitas bagi kelompok masyarakat tertentu untuk dapat memperbaiki kualitas hidupnya sendiri. Kemudian jenis yang ketiga adalah diakonia transformatif, yaitu diakonia jangka panjang yang membawa perubahan dalam struktur kehidupan sosial, ekonomi, dan politik dari seseorang atau masyarakat tertentu, yang kemudian akan meletakkan masing-masing individu dalam bingkai kemanusiaan.

Tugas pelayanan diakonia yang terkandung sebagai salah satu cita-cita dari buku kumpulan renungan Immanuel menekankan kepada fungsi diakonia gereja yang transformatif. Kerajaan Allah yang dicita-citakan oleh para pengikut Kristus di seluruh dunia, yaitu masyarakat yang damai, adil, dan sejahtera itu bukanlah hasil dari sekedar sumbangan-sumbangan karitatif yang tak habis-habisnya atau dari perubahan reformatif yang sementara semata, akan tetapi hasil dari diakonia yang bersifat transformatif. Perubahan yang dibawa oleh diakonia transformatif itu akan membawa perubahan yang begitu signifikan; yang akan menyediakan jalan bagi datangnya langit dan bumi baru dimana tidak ada lagi penindasan, tidak ada lagi ketimpangan dan ketidakadilan. Perdamaian, kasih, dan keadilan menjadi wangi yang merebak di penjuru bumi. Demikianlah setiap kita sebagai penerus karya Kristus di bumi ini dapat menjadi agen bagi kedatangan kerajaan Allah, agar terwujud doa dan cita-cita Yesus bahwa kehendak Allah terjadi di bumi kita ini seperti di dalam sorga.

Ditulis demi Rakyat, dengan Bahasa Rakyat

Buku Immanuel tidak diterbitkan melalui raksasa-raksasa penerbit buku seperti yang biasa kita ketahui, akan tetapi diterbitkan secara mandiri dengan tujuan agar buku ini dapat disebarkan tanpa membebani Pembaca dengan biaya yang terlalu besar. Saya juga mempersilakan para pembaca untuk memperbanyak sebagian atau keseluruhan dari buku ini tanpa izin apapun kepada penulis agar tidak mempersulit penyebaran Kabar Baik Injil Pembebasan ini bagi masyarakat luas.

Ditulis dalam bentuk sebuah renungan dengan pembahasaan yang diusahakan sesederhana mungkin demi para pembaca, saya berusaha untuk mendekatkan kata-kata yang ada di dalam buku ini dengan bahasa pembaca, seperti Yesus juga telah menggunakan bahasa-bahasa yang sederhana. Kumpulan renungan ini memang hanya sebatas kumpulan renungan saja, yang diharapkan mampu menggerakkan tidak hanya pikiran, akan tetapi juga hati, kaki dan tangan dari para pembacanya. (MR)

Damai Kristus beserta kita sekalian.

Rezza Prasetyo Setiawan

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2018 GKMI NETWORK

or

Log in with your credentials

Forgot your details?