“Tok… tok… petok,” si Petok seperti berseru girang ketika Tono melemparkan butir-butir padi. Ia seperti memanggil anak-anaknya untuk makan. Anak-anaknya segera berlarian dan turut mematuki butir-butir padi di tanah. Tono melihat mereka sambil tersenyum.

            Si Petok, demikian Tono memanggilnya. Ia adalah seekor ayam betina yang gemuk dan lucu. Dulu ketika paman Tono memberikan si Petok pada Tono ia adalah seekor anak ayam yang lucu. Tono merawatnya dengan penuh kasih sayang. Kini, si Petok sudah besar, bahkan seminggu yang lalu telur-telur yang dieraminya sudah menetas. Kini, si Petok punya enam anak yang mungil-mungil, berbulu kuning lembut dan lucu seperti si Petok. Meski si Petok sudah besar, ia tetap ayam yang lucu. Ia suka bermain kejar-kejaran dengan Tono. Kalau Tono berlari pasti si Petok berusaha mengejarnya. Dengan tubuhnya yang bunder dan sayapnya yang mengepak-ngepak membuatnya semakin lucu saja . . . .

Tetapi akhir-akhir ini, Tono semakin jarang bermain kejar-kejaran dengan si Petok. Ia lebih suka pergi bersama teman-temannya. Sungguh sayang, teman-teman Tono membawanya ke dalam hal-hal yang buruk (I Kor.15: 33). Karena itu, anak-anak, hati-hatilah memilih teman. Janganlah biarkan diri kalian dirusak oleh pergaulan yang buruk. Tono jadi sering menyontek, bolos sekolah, bahkan ia mulai mengenal rokok.

Ia jadi sering berkelahi dan membuat masalah. Ia juga tidak mau pergi lagi ke Sekolah Minggu. Menurutnya Sekolah Minggu hanya tempat anak-anak yang sok alim.

“Tono,kemana kamu pergi tadi?” tanya ayah ketika Tono pulang.

“Ke… ke sekolah kok, Yah…,” jawab Tono sambil melangkah masuk rumah.

“Kamu jangan berbohong, Tono. Tadi Bapak Kepala Sekolah menelepon ayah. Katanya kamu sudah tiga hari ini tidak masuk sekolah,” kata ayah.

Tono menghentikan langkahnya.

“Terus kenapa kalau aku tidak masuk sekolah?” jawabnya ketus.

“Tono! Sejak kapan kamu belajar berkata tidak sopan pada ayahmu?” kata ayahnya terkejut dengan sikap Tono.

“Tono, anakku. Sadarlah! Kalau berteman dengan teman-teman yang  buruk seperti itu akan jadi apa kamu, Nak?” kata ayah menasehati dengan sabar.

Tono cuma terdiam.

“Tono, Tuhan Yesus mengasihimu. Bertobatlah!” kata ayah.

“Sudahlah…, Ayah tidak perlu menasehatiku lagi!” kata Tono sambil membalikkan badan dan pergi.

“Tono!” panggil ayahnya. Tapi Tono seolah tidak mendengarkan lagi.

“Tok… Petok…!” si Petok menghampiri Tono yang berjalan pergi. Ia mengitari Tono, ingin mengajaknya bermain.

“Sudahlah, Petok! Jangan ganggu aku! Aku tidak punya waktu bermain denganmu!” kata Tono kasar sambil mengusir si Petok.

Petok cuma terdiam sedih sambil memandang tuannya pergi. Ada apa dengan tuanku? Mungkin begitu pikirnya…

—-

Suatu sore, Tono menyelinap ke dalam lumbung padi. Ia duduk di atas tumpukan jerami lalu ia mengeluarkan sebungkus rokok dari sakunya. Ia menyalakan rokoknya lalu  menghirupnya dalam-dalam.

“Huh, kalau ayahku tahu pastilah aku aku diomelinya habis-habisan,” pikirnya, “Untunglah ada lumbung ini”. Setelah ia menghabiskan satu batang rokok, ia membuang puntungnya begitu saja. Ia kemudian menyalakan yang lain.

Tanpa disadarinya, puntung rokok yang masih menyala itu segera membakar tumpukan jerami kering. Api pun mulai membesar. Dengan panik Tono mengambil kain lalu mencoba memadamkannya. Tapi terlambat! Api sudah semakin besar, bahkan mulai menjilat dinding kayu dan langit-langit. Dengan panik Tono berlari keluar lumbung.

“Toloo…ng! Tolong! Kebakaran!” teriaknya.

Ayah dan Ibu segera keluar dari rumah. Orang-orang desa pun berdatangan. Mereka segera berusaha memadamkan api yang semakin besar. Orang-orang menimba air dari sumur atau sungai kecil lalu membawanya secara estafet ke arah lumbung. Orang-orang menyiramkan air itu ke arah api. Tapi sia-sia saja. Api semakin besar, bahkan sudah mencapai atap.

Sementara itu, anak-anak si Petok yang tadi sedang tidur di dalam lumbung terbangun karena suasana semakin panas. Mereka berciap-ciap panik melihat api mengelilingi mereka. Api bahkan mulai merambat ke arah mereka….

Di luar lumbung orang-orang sudah putus asa. Api sudah tidak terkendali lagi. Mereka cuma bisa menatap lumbung yang sedang dilahap api, demikian juga Tono.

Tiba-tiba muncullah si Petok dari antara kerumunan. Ia berpetok-petok panik berlari kian-kemari melihat lumbung tempat anak-anaknya tidur dilahap api. Tanpa pikir panjang, si Petok berlari ke arah lumbung, hendak masuk ke lautan api itu untuk menolong anak-anaknya. Melihat hal itu, Tono langsung mengejarnya dan menangkapnya.

“Jangan! Jangan Petok! Sudah terlambat!” katanya pada si Petok. Si Petok terus meronta hingga pegangan Tono terlepas dan ia kembali berlari ke arah lumbung yang terbakar itu.

“Petok! Tidaaa…k!!” teriak Tono ketika ia melihat si Petok masuk ke dalam lautan api itu.

“Sudahlah, Tono. Tidak ada yang bisa kita lakukan!” kata ayahnya sambil memegang pundak Tono. Tono pun menangis di pelukan ayahnya. Sementara itu api sudah meliputi lumbung itu. Kayu-kayu atap mulai berjatuhan….

—-

Esok paginya, lumbung itu tinggal berupa puing-puing, hampir rata dengan tanah. Keluarga Tono dan penduduk desa membongkar sisa-sisa lumbung itu untuk mencari barang-barang yang masih dapat dipakai seperti lampu-lampu petromaks, besi, sekop, dan alat-alat lain.

Sementara mata Tono menyapu tumpukkan kayu-kayu yang hangus, ia melihat sesuatu di bawah sebuah balok kayu. Ternyata itu sayap si Petok.

“Ayah! Lihat, si Petok ada di sini!” teriaknya. Ayah dan orang-orang segera menghampirinya. Mereka mengangkat balok kayu yang menutupi tubuh si Petok.

“Petok! Bangunlah!” kata Tono sambil menyentuh tubuh si Petok yang telungkup itu bulu-bulunya sebagian hangus dilahap api di sana-sini. Ternyata si petok tidak bergerak lagi. Ia sudah meninggal.

“Oh, Petok…,” kata Tono sambil mengangkat tubuh si Petok. Tiba-tiba dari bawah tubuh si Petok yang hangus itu berlarianlah anak-anaknya sambil bersiap-siap! Betapa terkejutnya mereka!

            Ternyata si Petok masuk ke dalam lumbung yang terbakar itu dan mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya. Sekalipun api menjilat tubuhnya, ia tidak bergeming. Akhirnya ia pun terbakar api demi melindungi anak-anaknya.

            “Oh, Petok. Ternyata… ternyata kamu…,“ isak Tono sambil memeluk tubuh si Petok. Anak-anaknya berciap-ciap di kaki Tono.

—-

            Pagi itu, Tono tertunduk di hadapan kubur kecil di bawah pohon. Ayahnya memegang pundaknya.

            “Tono, seperti si Petok yang rela mati untuk menyelamatkan anak-anaknya, demikian juga Yesus rela lahir ke dunia bahkan mati disalibkan untuk menebus orang berdosa (Yoh.3: 16), termasuk untuk kamu juga…,” kata ayah Tono.

            “Tapi… tapi aku sudah  melakukan banyak kesalahan, Yah. Maukah Yesus memaafkanku?” kata Tono.

            “Tentu saja, Tono. Kalau kamu sungguh menyesal dan bertobat, pasti Tuhan Yesus mau mengampuni semua kesalahanmu (I Yoh .1: 9),” kata ayahnya sambil tersenyum.

            “Ayah, mulai saat ini aku berjanji tidak akan melakukan hal yang tidak baik lagi…,” janji Tono….

—-

            Nah, anak-anak, memang Tuhan itu begitu baik pada kita. Bahkan dibalik Ia menciptakan binatang-binatang sebetulnya ia hendak membukakan mata kita tentang banyak hal. Misalnya, jika Tuhan digambarkan seperti Rajawali yang melindungi anak-anaknya dalam kepak sayap-Nya (Mzm.36: 9), kita dapat membayangkan betapa perlindungan Allah itu atas kita. Juga ketika kita digambarkan seperti domba yang dipimpin Allah sebagai gembala (Mzm. 23), kita sadar kalau Allah begitu memelihara kita. Bahkan ketika kita melihat semut yang rajin (Amsal 6: 6-8), kita diingatkan supaya kita jangan menjadi malas. Masak,semut saja rajin sedangkan kita manusia malas? Malu kan?

Masih banyak gambaran-gambaran serupa dari kehidupan hewan-hewan, baik di dalam maupun di luar Alkitab yang dapat kita jadikan pelajaran yang berarti dalam kehidupan kita. Dalam Natal kali ini, kita telah belajar betapa kasih Allah akan orang berdosa melalui si Petok. Marilah kita mensyukuri kasih-Nya dengan berkarya dalam hidup kita. Tuhan memberkati! (MR)

*Gracia Lina

Pembimbing KSM Imanuel GKMI Samarang

             

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2019 GKMI NETWORK

or

Log in with your credentials

Forgot your details?