Retret Persekutuan Muria Wredatama (PMW) Sinode GKMI

 

            Berangkat bersama Opa Oma memang menyenangkan, tidak tergesa-gesa dan dapat menikmati perjalanan. Setidaknya itulah yang dirasakan bGKMI ketika meliput Retret Persekutuan Muria Wredatama (PMW) Sinode GKMI, 24-26 Agustus 2018, di Jepara.

            Berangkat pukul 08.15, rombongan kami dari GKMI Semarang mampir di Soto “Jatmi”, Kudus, demi menyiasati macet panjang di Welahan karena perbaikan jalan. Setelah itu, sebelum memasuki kota Jepara, kami mampir dulu di toko oleh-oleh membeli buah tangan. Kami sampai di Hotel “Kencana”, tempat retret berlangsung, pukul 11.45, dan langsung makan siang.

            Berhubung acara Opa Oma ya tentu jadwal acaranya tidak padat-padat amat. Jangan dibandingkan dengan Persidangan PMPL yang liputannya juga dimuat di edisi ini (lihat LIPUTAN KHUSUS “Kerjakanlah Keadilan yang Mendamai-sejahterakan”). Acara berikutnya adalah tidur siang, biar Opa Oma segar mengikuti Ibadah Pembukaan sore nanti di GKMI Jepara.

            Pukul 16.00 Opa Oma sudah menuju ke GKMI Jepara dan menikmati snack terlebih dulu. Sambutan Komisi Senior GKMI Jepara sebagai tuan dan nyonya rumah sangat hangat, sehangat teh dan kopi sore itu. Peluk dan cium kangen mewarnai ramah-tamah sore itu. Special credit buat Panitia Retret PMW dari PGMW IV yang dibantu Pengurus PMW dalam pelaksanaannya. Mereka sungguh all out melaksanakan tugasnya: ramah, care dan cekatan membantu Opa Oma, juga time schedule acara teratur dengan sangat baik.

            Pukul 17.00 tepat acara pun dimulai. “Selamat datang! Komisi Senior GKMI Jepara mendapat kehormatan menerima orang-orang hebat yang berkecimpung dan memberi sumbangsih bagi GKMI, baik dulu bahkan hingga sekarang,“ demikian sambutan dari Dewi Suyanto sebagai MC mewakili Komisi Senior GKMI Jepara. Pujian “Kemurahan-Mu Lebih Dari Hidup” menjadi pembuka ibadah. BGKMI selalu dibuat merinding jika Opa Oma sudah menyanyi. Tanpa dikomando mereka langsung bagi suara: alto, sopran, bass, dan tenor. Dan suaranya… wuih, keren semua!

            Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. David Sriyanto dengan mengangkat tema Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani yang menjadi tema Retret PMW kali ini. Dengan dasar Amsal 12: 12-13, Amsal 16: 31, 2 Korintus 4: 16-18, dan Filipi 1: 21, Pdt. David Sriyanto menyampaikan demikian: “Seyogyanya kita semua di depan menjadi teladan, di tengah membangun bersama-sama, dan di belakang memberikan dorongan. Bukan perkara mudah memang. Jika tahap-tahap kehidupan adalah 5K “Kelahiran-Kerja-Karya-Kawin-Kubur”, kita telah berada pada “K” yang terakhir. Kalau hidup kita kelak berakhir, apa yang akan dikatakan orang tentang kita? Tapi kita pasti bisa menjadi berkat jika kita memegang prinsip hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan”.

            Dalam Ibadah Pembukaan ini Opa Oma juga menerima kejutan, yaitu dua amplop berkat kasih dan paket oleh-oleh yang disediakan oleh jemaat GKMI Jepara yang digerakkan Tuhan. Puji Tuhan! “Meriah sekali! Ini seperti acara Pembukaan Sinode Wredatama. Sungguh tidak keliru memilih PGMW IV sebagai Panitia,” demikian disampaikan Pdt. Yan Takaria sebagai Ketua PMW dalam sambutannya. Ibadah Pembukaan ini ditutup dengan pujian “Hidup ini adalah Kesempatan”.

            Setelah menikmati makan malam dan telah berenergi kembali, Opa dan Oma kembali ke ruang ibadah GKMI Jepara untuk sebuah sesi sharing. Opa Oma membagikan perihal anak-anak, pasangan hidup, pengalaman pelayanan, juga mukjizat dan kebaikan Tuhan. Sungguh sangat berkesan. Kami yang muda-muda pun dikuatkan melalui sharing Opa Oma. Pukul 21.30 Opa Oma kembali Hotel “Kencana” untuk menikmati tidur yang nyenyak.

            Esok paginya, pukul 08.00 Opa Oma sudah berkumpul di lobby hotel, kali ini dengan outfit yang lebih santai, baju t-shirt, celana pendek, dan sandal. Ternyata pagi ini acara Opa Oma adalah jalan-jalan di pantai, tepatnya di Palm Beach Hotel, masih di sekitar Jepara. Di sana mereka menikmati keindahan pantai Jepara sambil ngobrol-ngobrol santai. O ya, pantai di sini sangat bagus, dengan pasir putih yang bersih terhampar, air laut yang jernih, dan pemandangan yang indah. Terima kasih buat Panitia yang sudah memilihkan tempat yang begitu bagus buat Opa Oma. BGKMI sendiri sampai tidak tahan dan akhirnya nyemplung juga, meski cuma sedengkul karena tidak bawa baju ganti. Sayang ya.

            Siang itu ada acara kejutan, karena BPH Sinode GKMI hadir untuk berjumpa dengan Opa Oma Muria Wredatama. Dengan formasi yang nyaris lengkap, mereka khusus datang untuk berbincang-bincang santai dengan Opa Oma tentang banyak hal. “Saya grogi berdiri di sini karena di sini ada orang-orang yang membesarkan saya dari nol, yang membuat saya ada sebagaimana ada sekarang. Saya mengharapkan masukan, petuah, dan wejangan dari Bapak Ibu sekalian,” demikian disampaikan Pdt. Paulus S. Wijaya sebagai Ketua Sinode. BPH Sinode menyampaikan bahwa mereka sangat mendukung Persekutuan Muria Wredatama dan para Hamba Tuhan Emeritus yang tergabung di dalamnya dengan memfasilitasi pertemuan rutin di kantor Sinode; memberikan persembahan kasih di hari Valentine, Pentakosta, dan Natal; pun mendukung Retret PMW ini dalam bentuk dana.  Dalam kesempatan ini, BPH Sinode juga mengundang para Hamba Tuhan yang tergabung dalam PMW juga hadir dalam Konven Pendeta Sinode GKMI yang akan diadakan tanggal 10 September 2018 di Bogor.

            Siang itu Opa Oma juga mengikuti beberapa permainan seru yang dipimpin oleh Dewi Suyanto, yaitu “Nanas-Pisang-Toge” dan “Pasukan-Siap-Tembak-Dor”. Wah, ternyata usia tidak menghalangi Opa Oma untuk menikmati permainan yang seru dan penuh gelak tawa ini. Tidak lupa, bagi para pemenang disediakan beraneka hadiah. Mantap! Setelah menikmati makan siang di tepi kolam renang, Opa Oma dibagi dalam kelompok-kelompok untuk pelayanan di GGKMI PGMW IV di hari Minggu nanti. Pukul 15.00 Opa Oma kembali ke hotel untuk istirahat siang.

            Sore hingga malam harinya kembali diisi dengan belajar lagu tema Retret PMW “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madyo Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani” yang dikarang oleh Pdt. Djoko Priyatno, permainan, dan sesi-sesi sharing.

            Esoknya, tepat di hari Minggu, 26 September 2018, pagi-pagi benar Opa dan Oma sudah berangkat dengan rombongan masing-masing ke GGKMI PGMW IV untuk melayani di sana. GGKMI itu antara lain GKMI Keling, GKMI Krasak, GKMI Bangsri, GKMI Mlonggo, GKMI Jepara, GKMI Pecangaan, dan GKMI Welahan beserta cabang-cabangnya. BGKMI ikut berangkat bersama Pdt. Yan Takaria ke salah satu cabang GKMI Jepara, yaitu Cabang Griya Tahunan Indah (GTI). Selengkapnya mengenai kunjungan ke GKMI Jepara Cabang GTI ada di BOKS LAPORAN KHUSUS kali ini “Gereja (Masih) Kecil Mungil, tapi Indah”.

            Siang harinya, Opa Oma kembali berkumpul di hotel Kencana untuk mengikuti Ibadah Penutupan yang disertai dengan Perjamuan Kudus. Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Djoko Priyatno dan Perjamuan Kudus dilayankan oleh Pdt. Suliyanto. “Sebentar lagi kita akan masuk ke dalam rutinitas kita. Ini saatnya kita berbenah. Semoga kita sungguh menjadi “pamomong” bagi para “momongan” kita,” demikian disampaikan Pdt. Djoko dengan mengangkat 1 Korintus 15: 58.

            “Retret kali ini sangat berhasil,” demikian kesan Pdt. Mesach Krisetya, “Tidak ada ceramah, banyak acara santai, sehingga mengakomodasi kebutuhan orang-orang yang sudah tua ini; juga ada banyak hadiah-hadiah yang menyenangkan”. Sedangkan Pdt. Yeanny M. S. menambahkan: “Saya yang paling muda di acara ini, pertama kali mengikuti Retret PMW. Saya senang karena berjumpa kembali dengan kawan-kawan yang dulu bertemu di Pesidangan PMPL. Retret berikutnya adalah tahun 2021, dua tahun lagi, bersamaan dengan Sidang Raya MWC (Mennonite World Conference). Saya rasa kita harus memikirkan sumbangsih kita di sana, misalnya mengadakan pelatihan membatik dengan nilai-nilai dan logo-logo Mennonite, souvenir dalam bentuk kata-kata mutiara dengan nilai-nilai Mennonite, dan lain sebagainya”.

Terima kasih kepada Panitia dari PGMW IV yang telah mengatur retret ini sedemikian luar biasa, terutama buat Sie Konsumsi yang dikomandoi Corline M. Priyanto, yang telah menyediakan hidangan-hidangan yang cocok dan sehat untuk dinikmati Opa Oma sepanjang retret berlangsung. Terima kasih pula kepada Pdm. Agus Suyanto dan Dewi Suyanto yang telah melengkapi dengan berbagai info yang dibutuhkan bGKMI.

Sebagaimana pada retret-retret yang lalu, lagu pamungkas “Tuhan Allah Beserta Engkau” menjadi penutup retret kali ini. Sungguh merinding mendengarnya, karena Opa Oma juga menyanyikannya dengan sungguh-sungguh. Apakah bisa berjumpa di retret berikutnya? Hanya Tuhan yang tahu…. (Mark Ryan – bGKMI)

 

BOKS LAPORAN KHUSUS RETRET PMW

 

“Gereja (Masih) Kecil Mungil, tapi Indah”

Kunjungan Persekutuan Muria Wredatama (PMW)

ke GKMI Jepara Cabang Griya Tahunan Indah

 

            GKMI Jepara Cabang Griya Tahunan Indah berdiri sekitar tahun 1985-1986, kala itu masih berupa persekutuan di sebuah garasi di Griya Tahunan Indah, sebuah perumahan besar yang terletak di pinggiran kota Jepara, dan dilayani oleh Pdt. Yonathan Ibnu Budiyanto. Saat ini Cabang Griya Tahunan Indah digembalakan oleh Pdt. Sadarman Lase dan istri, Best Karyani Gulo, sejak tahun 2008 hingga sekarang.

            Jemaat Cabang Griya Tahunan Indah (GTI) yang beranggotakan kurang lebih 25  KK atau 50 orang ini beribadah di tempat yang masih berupa rumah, sedang direnovasi, tanpa papan nama dan masih bergumul tentang perizinan. Anggota jemaat sebagian besar dari kalangan menengah-atas, yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS), pengusaha mebel, dan juga ekspartiat.

Minggu, 26 Agustus 2018, pukul 07.00, rombongan PMW, Pdt. Yan Takaria dan istri, Sugiatri Takaria, juga bGKMI dijemput oleh Pdt. Sadarman Lase menuju Cabang GTI untuk ibadah pukul 07.30 di sana. “25 tahun yang lalu saya juga hadir di tempat ini; ibadahnya masih di garasi. Lalu tahun 1994, saat saya datang untuk yang kedua kali, ibadahnya sudah di tempat ini. Saya tahu saya nanti bisa hadir lagi saat GKMI Tahunan menjadi GKMI dewasa,” demikian disampaikan Pdt. Yan Takaria dalam sambutannya.

Sedang dalam khotbahnya yang diangkat dari 1 Tesalonika 1: 2-10, Pdt. Yan Takaria berpesan: “Jemaat Tesalonika kecil dan tinggal di tengah-tengah orang yang tidak mengenal Tuhan. Namun mereka bisa menjadi jemaat yang ditiru oleh jemaat Makedonia dan Akhaya. Jusru gereja cabang seperti Tahunan bisa menjadi teladan bagi jemaat induk dan GGKMI lain. Bagaimana bisa? Kuncinya adalah seperti jemaat Tesalonika yang meneladani Paulus dan Paulus meneladani Kristus. Latihannya adalah sekalipun dalam pelbagai tekanan, beban, dan masalah, kita tetap memuji dengan sepenuh hati, berdoa, menerima Firman dengan hati terbuka, dan melayani dengan ceria. Bisakah kita?”

Saat mengikuti ibadah, bGKMI sungguh merasakan bahwa ada persekutuan yang indah, keakraban, kehangatan, dan kedekatan di antara warga jemaat. Salah satu yang membuat bGKMI terkesan adalah ketika Doa Syafaat. Jemaat beserta pergumulannya satu persatu didoakan. Selain itu, saat pulang semua jemaat bisa mendapatkan snack gratis. Sesuatu yang spesial menurut saya untuk jumlah jemaat yang terhitung tidak sedikit.

Pelayanan PMW di Cabang GTI diakhiri dengan sarapan pagi bersama di pastori GTI. Tidak lupa Cabang GTI memberikan buah tangan kepada perwakilan PMW dan bGKMI. GKMI Jepara Cabang Griya Tahunan Indah, meskipun masih kecil dan mungil, tetapi menikmati persekutuan yang indah, juga menyimpan potensi yang besar di dalamnya. Semoga semakin bertumbuh dan segera menjadi GKMI dewasa. Tuhan memberkati! (MR)

 

 

 

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2018 GKMI NETWORK

or

Log in with your credentials

Forgot your details?