Bagi Indonesia, pesta olahraga ini tak hanya meninggalkan area kelas dunia dan sarana transportasi baru. Yang tak kalah penting, mulai timbul perubahan perilaku yang membawa energi positif dalam kehidupan masyarakat

Kompas – 2 September 2018

 

Indonesia Energi Asia, begitulah slogan yang dipakai pada Asian Games bulan Agustus 2018 yang lalu. Pesta olahraga ini sukses dan mendapat pujian dari dunia internasional. Asian Games yang berlangsung selama 2 minggu menebarkan aura positif bagi Indonesia. Masyarakat Indonesia yang selama ini seolah terpecah belah karena perbedaan pandangan politik, bisa bersatu untuk satu Indonesia. Perilaku kita yang semula saling mencela dan menjelek-jelekkan karena perbedaan pilihan sementara terlupakan dan menjadi satu bangsa yang bersatu untuk meraih kejayaan bagi Indonesia. Ternyata begitu besar dampak dari energi positif suatu event untuk mengubah perilaku manusia.

 

Kepemimpinan Positif

Energi positif juga sangat diperlukan baik bagi gereja maupun organisasi. Kim Cameron, seorang profesor dari Michigan Ross University, mengadakan penelitian terkait kepemimpinan positif. Dia menemukan bahwa kepemimpinan yang positif  akan menghasilkan kinerja yang 4 kali lebih baik dari rata-rata kinerja organisasi pada umumnya. Kepemimpinan positif adalah praktek-praktek positif yang dilakukan pemimpin untuk membantu anak buah yang dipimpinnya mencapai potensi yang maksimal, berkembang dalam pekerjaan, dan memberikan energi dan suasana yang kondusif dalam organisasi.

Seorang pemimpin yang berhasil biasanya adalah seorang influencer dengan tipe kharismatik sehingga dia bisa membuat anak buahnya bekerja sesuai instruksi yang diberikan atau tipe transformasional yang dapat mengadakan perubahan dalam organisasi.

Namun kepemimpinan positif lebih dari seorang influencer. Seorang pemimpin positif bisa memberikan energi positif (positive energizer) kepada anak buah yang dipimpinnya. Seorang positive leader akan memberikan energi positif dalam berinteraksi dengan anak buahnya sehingga mereka merasa gembira, termotivasi, dan antusias dalam melaksakan tugas; bukannya menjadi loyo, terbeban, dan terpaksa melaksanakan tugas karena sekedar kewajiban.

Kepemimpinan positif adalah suatu ketrampilan yang dapat dipelajari. Ini bukan terkait dengan tipe kepribadian seorang leader (ekstrovert atau introvert), bukan pula terkait dengan budaya (mungkin cocok di negara tertentu, namun belum tentu cocok diterapkan di negara lain). Semua tipe leader dan di mana pun tempatnya dapat mempelajari dan menerapkan hal ini.

Implikasi dari kepemimpinan positif bukan berarti  tidak pernah mengkritik, selalu memotivasi, selalu memberikan pujian, dan cenderung mengabaikan masalah. Kepemimpinan positif sejatinya adalah bagaimana seorang pemimpin menerapkan praktek-praktek positif untuk memberikan energi kepada anak buahnya sehingga dapat menyelesaikan berbagai masalah, hambatan, dan tantangan yang dihadapi untuk mencapai kinerja yang memuaskan.  

Mengaplikasikan kepemimpinan positif sangat bermanfaat bagi individu maupun organisasi. Dari aspek kesehatan fisik dan mental individu, hasil penelitian menyatakan orang akan hidup lebih lama (+11 tahun), jarang mengalami penyakit, cepat pulih dari sakit, lebih kreatif, membuat keputusan lebih baik, dan bersedia membantu orang lain. Dampak bagi organisasi antara lain meningkatkan kinerja organisasi seperti produktivitas, inovasi, kepuasan pelanggan, maupun profitabilitas.

 

Belajar dari Yosua dan Kaleb

Kisah dua belas pengintai dalam Bilangan 13 -14 juga mengajarkan praktek kepemimpinan positif. Diceritakan bahwa kedua belas orang ini adalah pemimpin dari setiap suku (Bil. 13: 2). Musa memberikan tugas kepada mereka untuk mengamat-amati daerah Kanaan. Mereka  melaporkan fakta yang sama yaitu “Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kau suruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya” (Bil. 13: 27). Namun perbedaannya, 10 orang menerapkan kepemimpinan negatif . “Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya dan semua orang yang kami lihat disana adalah orang-orang yang tinggi perawakannya” (Bil. 13: 33). Hasilnya, umat Israel bersungut-sungut, menangis, dan bahkan ingin mati. Orang-orang yang menyampaikan kabar busuk tersebut akhirnya mati, kena tulah di hadapan Tuhan (Bil. 14: 37)

Sebaliknya, Yosua dan Kaleb menerapkan kepemimpinan positif dengan memberikan energi positif kepada umat Israel. “Negeri yang kami lalui untuk diintai adalah luar biasa baiknya. Jika Tuhan berkenan, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikan kepada kita suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya” (Bil. 14: 8). Tuhan berkenan atas Yosua dan Kaleb dan mereka diizinkan untuk masuk ke Tanah Kanaan.

John Quincy Adams, Presiden Amerika ke-6 pernah berkata “If Your Actions Inspire Others To Dream More, Learn More, Do More and Become More, You Are a [Positive] Leader”.

M. SUSANTA

Anggota Jemaat GKMI Kudus

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2018 GKMI NETWORK

or

Log in with your credentials

Forgot your details?