KONVEN PENDETA DAN PMPL IV SINODE GKMI

10-13 September 2018, Pondok Remaja PGI, Puncak – Bogor

 

Ada yang berbeda di Konven Pendeta dan PMPL IV Sinode GKMI kali ini. “Ah, apanya yang berbeda? Bukannya tahun demi tahun demikian?” Mungkin demikian pertanyaan Pembaca budiman. Ya, Konven dan PMPL IV ini anak muda banget, karena topik-topik yang dibahas sangat bernuansa anak muda. Semua program ke depan pun sangat berorientasi anak muda. Seperti apa liputannya? Silakan simak berikut ini!

Berangkat ke Bogor

            bGKMI berangkat bersama rombongan PGMW 2 dari Sinode GKMI hari Selasa malamnya, 9 September 2018, pukul 19.00 WIB. Ada sedikit salah perhitungan dari rombongan kami, yaitu tidak memperkirakan kemacetan di Tol Cikampek, sehingga total perjalanan ditempuh dalam waktu sekitar 12 jam 30 menit. Alhasil kami baru tiba pukul 09.30 di Pondok Remaja PGI, Puncak – Bogor. Untunglah Panitia yang terdiri dari GGKMI PGMW 1 telah mengantisipasi dengan memundurkan acara yang seyogyanya pukul 09.00 menjadi pukul 10.00. Ternyata bukan hanya kami yang terlambat. Rombongan-rombongan dari PGMW lain juga mengalami hal yang sama.

Konven Pendeta Sinode GKMI 2018, 10 September 2018

            Pukul 10.00 tepat Konven Pendeta dibuka dengan Ibadah yang dipimpin oleh Pdm. Melky Isliko. Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. Resnu Titik J. L. dengan tema “Pemuda dan Spiritualitas” (1 Tim. 4: 12). “Gereja dan para Hamba Tuhan harus membuka ruang terhadap orang muda agar dapat mengaktualisasikan diri di gereja ataupun di mana saja. Siapkah kita untuk melayani secara intergenerasional? Jika mereka yang senior dan penuh pengalaman bekerja sama dengan yang muda dan spiritnya kencang, maka  gereja akan bertumbuh dengan luar biasa. Gereja akan menjawab segala macam persoalan yang beraneka ragam pada saat ini,” demikian disampaikan oleh Pdt. Resnu Titik.

Seperti sudah bGKMI sampaikan di awal, Konven  kali ini anak muda banget, karena tema yang dipilih adalah Menyoal Perspretif & Praksis Gereja Intergenersional di Lingkup GKMI”. Tujuan dari Konven kali ini, sebagaimana dijelaskan oleh Pdt. Daniel K. Listijabudi, Ketua Bidang Teologi Sinode GKMI, adalah mendapatkan gambaran yang induktif dari beberapa gereja GKMI yang memiliki jumlah kaum muda relatif signifikan dan atau yang mengolah eklesiologi kaum muda; mendapatkan masukan riil dari Kaum Muda GGKMI tentang peran, harapan, hambatan dan peluang bergereja dan menyaksikan komunitas bertata nilai Anabaptis Mennonite di Indonesia; dan membangun kembali prefensi layanan pada kaum muda sebagai bagian penting dalam eklesiologi GKMI masa kini dan masa depan.

Sesi pertama bertajuk “Perspektif  dan  Karya  GKMI  sebagai  Gereja  Intergenerasional  yang  memberi  dan membuka ruang bagi Youth Generation (Input Praksis dan Strategis)” dimoderatori oleh Risma Lumalessil (GKMI Anugerah Rayon Kembangan) dengan pembicara Herman Sudjono (Majelis Jemaat GKMI Anugerah) (Tema: “Pemimpin GKMI yang SUKSES Membangun Gereja Intergenerasi”) dan Daniel Talenta (Aktivis Pemuda Internasional dan Pembimbing KP GKMI Anugerah) (Tema: ”Dimanakah aku bertumbuh?)

Sangat menarik apa yang disampaikan oleh Herman Sudjono, yaitu sebuah survey dari Bilangan Research Center dengan subyek anak muda menyatakan bahwa anak muda zaman sekarang tidak meninggalkan Gereja, tetapi meninggalkan para pemimpinnya yang tidak punya arah yang jelas, sering melakukan pembiaran atau tidak berani ambil keputusan, tidak adaptif, dan tidak kreatif. Untuk mengatasinya, GGKMI perlu pemimpin yang visioner dan kreatif, juga mengalokasikan Hamba Tuhan dan Majelis Jemaat untuk memikirkan dan mengurus masing-masing komisi, dan menetapkan anggaran yang berpihak pada generasi untuk anak muda. Sementara itu, Daniel Talenta menyampaikan bahwa anak muda butuh seseorang yang mendampingi mereka. Karena itu youth worker sebagai gembala kaum muda yang punya hati bagi kaum muda sangat diperlukan.

Selanjutnya, sesi kedua yang bertajuk “Perspektif  dan  Karya  GKMI  sebagai  Gereja  Intergenerasional  yang  memberi  dan membuka ruang bagi Youth Generation (Input Teologis)” dipimpin oleh Pdt. Sapto Suharno (Gembala Jemaat GKMI Anugerah) selaku moderator. Pembicara untuk sesi kedua ini adalah Pdt. Erick Sudharma (Gembala Jemaat GKMI Kudus) (Tema: “Dari Kekhawatiran ke Langkah Awal”)  dan Pdm. Paul Dian Prasetya (Pembimbing Komisi Pemuda GKMI Salatiga) (Tema: “Input Teologis berdasarkan Pemuridan Rasul Paulus terhadap Timotius”).

Pdt. Erick Sudhrama menyampaikan bahwa sebagai komunitas murid Yesus, GKMI dipanggil untuk mengikuti gerakan Yesus meruntuhkan semua sekat yang menyebabkan segregasi dan diskriminasi di dalam gereja sampai saat ini. Sebagai langkah awal, GGKMI bisa mulai menganalisis kondisi gereja kita dengan metode SOAR untuk memetakan Strengths (kekuatan), Opportunities (kesempatan), Aspirations (harapan), dan Results (hasil), demi memenuhi harapan dan mencapai hasil bersama yang diinginkan. Sedagkan Pdm. Paul Dian Praseyta berbicara mengenai bahwa setiap generasi memiliki karakter, tantangan, dan kebutuhan yang berbeda. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka dapat terjadi konflik antar generasi, penolakan, loyalitas hilang dan kehilangan generasi penerus intergenerasi. Saran konkret yang disampaikan adalah bahwa Gereja harus memberi ruang, melibatkan generasi muda dalam pelayanan gerejawi, membekali generasi muda dengan pengetahuan dan nilai-nilai bergereja, memuridkan untuk menjadi generasi yang siap bekerja sama dengan semua generasi, dan memperhatikan kebutuhan anak muda secara holistik.

Para hamba Tuhan sangat antusias mengikuti setiap materi, dan itu ditandai dengan banyaknya tanggapan, ide, dan pertanyaan yang diberikan. Tanpa terasa waktu waktu telah menunjukkan pukul 16.30 sehingga para peserta segera dibagi dalam kelompok dan rehat sejenak untuk mandi dan makan malam. Setelah itu peserta berdiskusi bersama kelompok masing-masing dan berkumpul kembali pukul 19.00 untuk presentasi kelompok.

Ada 4 (empat) buah pertanyaan sebagai bahan diskusi kelompok, yaitu:

  1. Hal-hal apa yang menjadi KEKUATAN GKMI dalam membangun gereja yang intergenerasional?
  2. a) Apa yang menjadi sekat-sekat penghalang terciptanya gereja yang intergenerasional di gereja lokal; b) bagaimana kita semestinya MENGATASI SEKAT-SEKAT tersebut (di level keputusan gereja, maupun di level kehidupan bergereja sesehari)?
  3. HAL-HAL APA yang perlu dilakukan SEKARANG (bersifat URGENT) di gereja-gereja lokal agar “bangunan” gereja intergenerasional itu dapat kita mulai atau lanjutkan?
  4. Agar tidak terlalu pragmatis, kita juga perlu menjaga supaya kaum muda mendapatkan MAKNA dalam spiritualitas hidup sebagai manusia muda Anabaptis Mennonite (yang mendalam dan sekaligus kontekstual) yang ada dalam konteks dan tantangan dunia nyata sekarang ini. Bagaimana kedua hal ini, yakni: (a) makna spiritualitas hidup dan (b) praksis eklesiologi/teologi keumatan, dapat berjalan bersama-sama dalam geliat gereja lokal,  sinodal bahkan interdenominasi?

Diskusi Kelompok dimoderatori oleh Pdt. Iwan Firman W. (Gembala Jemaat GKMI Srumbung Gunung). Kesimpulan dari diskusi dan presentasi adalah bahwa kekuatan GGKMI yang mendukung pelayanan intergenerasional adalah kekeluargaan atau kebersamaan, sistem kongragesional yang membuat jemaat dapat bebas berkreasi, jiwa volunter yang tinggi, dan pelayanan kategorial yang lengkap. Hambatan yang konkret  adalah senioritas, kesan kepemimpinan yang otoriter, ketokohan, jurang intelektual, serta ragam budaya dan suku. Kelompok menyikapi hambatan-hambatan ini dengan cara mediasi antar generasi, dialog antar generasi, menonjolkan kesatuan tujuan, dan memperkuat management leadership. Sedangkan hal urgent yang harus dilakukan adalah pembinan/pemuridan secara kontinu, melibatkan semua unsur gereja dalam pelayanan, merintis program yang melibatkan stake holder, menanggalkan egosektoral. Bagaimana makna spiritualitas hidup yang bisa diwujudkan dalam praksis eklesiologi dalam gereja lokal, sinodal, dan interdenominasi adalah melalui PA, diskusi, Konven, program-program sinodal, keteladanan sikap, dan membuat pola kaderisasi.

“Sebenarnya kita mau mencari internal good, yaitu apa yang paling kita pahami tentang diri kita sendiri sebagi GGKMI. Harapannya dari sini kita memahami DNA kita sebagai GKMI seperti apa. Itulah yang menjadi titik tolak kita untuk melakukan sesuatu,” demikian disampaikan Pdt. Daniel K. L. menutup diskusi dan presentasi kelompok.

Meski malam sudah larut, masih ada satu topik lagi, yaitu diskusi tentang Pastor Pastorum dengan moderator Pdt. Michael Salim (Gembala Jemaat GKMI Pati) dan narasumber

BPH Sinode (Pdt. Daniel K.L,  Pdt. Nahum S., Pdt. Peter H., dan Pdt. Andi O. S.). Dalam bahasa latin pastor pastorum artinya ”gembala yang mengembalakan gembala”, yaitu suatu komunitas pendeta yang membantu pendeta yang ada dalam permasalahan untuk memberikan bimbingan secara pastoral. Sayangnya untuk hal ini belum ada kata sepakat, sehingga tindakan konkretnya adalah membawa usulan ini ke Konven Pendeta 2019 dan jika dinilai perlu dapat dibawa ke Sidang Raya 2019 dengan pengurus baru.

Malam itu Ibadah Penutup  dipimpin oleh Pdt. Rotua Sinaga (GKMI Surakarta) dengan Firman Tuhan bertema “Pemuda dan Bangunan Tubuh Kristus” (1 Korintus 3: 1-11). Acara hari itu selesai pukul 23.00 dan peserta kemudian beristirahat untuk memasuki PMPL IV esok harinya.

 

PMPL IV Sinode GKMI, 11-13 September 2018

            Usai bersantap pagi, pukul 09.00 para peserta sudah berkumpul untuk mengikuti Sidang MPL IV. Pendaftaran dan akomodasi berlangsung cepat dan lancar, sehingga Kebaktian Pembukaan Sidang MPL bisa dimulai tepat waktu. ”Kebenaran manusia itu tentatif, tidak absolut, dan relatif. Agar kebenaran itu utuh, nyata, dan permanen, maka diperlukan Roh Tuhan. Tuhanlah sumber segala kebenaran. Jika Tuhan turun dan berkarya, maka kebenaran dan keadilan akan terwujud; bahkan dinyatakan seperti padang gurun yang menjadi kebun buah-buahan. Sudahkah kita memberikan keadilan dan kebenaran yang mendamai-sejahterakan kepada para anak muda kita?” demikian khotbah Kebaktian Pembukaan yang disampaikan oleh Pdm. Sapto Suharno, Gembala Jemaat GKMI Karunia, Bekasi, yang mengulas ayat tema, yaitu Yesaya 32: 17a.

            ”Inilah PMPL rasa ASEAN GAMES! Saya juga terjebak macet, sehingga harus dikawal oleh Panitia sampai di sini. Sayang tidak ada yang bersedia jadi stuntman saya untuk naik motor. Pembukaannya juga tidak kalah heboh dan meriah,” demikian komentar Pdt. Paulus Sugeng pada awal Sidang Pleno I setelah memukul gong tanda Persidangan telah secara resmi dimulai. Benar! Pembukaan PMPL kali ini sungguh meriah, dengan paduan suara dan penari yang menyanyikan medley lagu-lagu daerah seperti ”Suwe Ora Jamu”, ”Manuk Dadali”, ”Kampuang nan Jauh di Mato”, ”Ayo Mama Jangan Marah Marah Beta”, ”Cublak-cublak Suweng”, diakhiri dengan ”Goyang Maumere” yang heboh abis, mengajak semua peserta sidang bergoyang!

            ”Pada Persidangan kali ini kita mengangkat just-peace, yaitu bukan sekedar keadilan, tetapi keadilan yang mendamai-sejahterakan. Anak-anak muda juga kita ekspos besar-besaran sebagai tema kita kali ini. Terima kasih untuk Panitia yang telah mempersiapkan segala sesuatu dengan baik. Semoga Persidangan kita dapat berjalan dengan luar biasa,” demikian disampaikan pula oleh Pdt. Paulus S. Wijaya.

”Selamat datang saya ucapkan kepada Saudara-saudara semua peserta Persidangan. Sebenarnya kami minder. Gereja kami di gang kecil di Bekasi, pinggiran Jakarta, dengan anggota kurang lebih 100 orang. Tapi kami bangga bisa menjadi Panitia PMPL kali ini. Kami ucapkan selamat bersidang kepada Bapak Ibu sekalian!” demikian disampaikan Firnoyoso, Ketua Panitia PMPL IV. Sekretaris Umum LAI, Sigit Triyono juga memberikan sambutannya. ”Saya sangat senang karena MOU antara Sinode GKMI dan LAI sudah ditandatangani. Saya berharap GGKMI dapat mendukung program-program LAI, seperti Satu dalam Kasih, Alkitab untuk Semua, Layan Digital LAI, Satu Juta Mitra LAI, dan lain sebagainya. Selalu doakan, wartakan, dan berdonasilah untuk LAI”.

Perwakilan IndoMenno turut pula hadir dan memberikan sambutan. IndoMenno adalah sebuah lembaga kerjasama tiga sinode gereja Mennonite di Indonesia, yaitu GKMI, JKI, dan GITJ yang salah satu tujuannya adalah mempersiapkan Mennonite World Conference tahun 2021 di Semarang, Indonesia.

Sebelum persidangan dimulai, Ferly F. Raya memimpin Brain Hacking agar peserta dapat berpikir lebih optimal tiga hari ke depan, salah satunya dengan mengisi voting online lewat www.menti.com, metode menghafal, dan senam otak. Sungguh menarik!

Dengan penyerahan palu sidang dari Ketua Sinode kepada Majelis Ketua Persidangan: Pdt. Nemuel Zega (GKMI Progo), Pdt. Clement Margono (GKMI Ekklesia), dan Daniel K. Trihandoyo (GKMI Bukit Hermon), maka Persidangan pun dimulai. Salah satu hal yang patut dicatat dalam persidangan kali ini adalah penerimaan GKMI Kalirejo, GKMI Ebenhaezer, dan GKMI Agape sebagai GGKMI dewasa sekaligus anggota Sinode GKMI. Sidang Pleno II dan III yang berlangsung sore dan malam harinya berlangsung lancar. Laporan dan usulan program Ketua Umum Sinode memperoleh tanggapan yang baik, demikian juga laporan Badan Pemeriksa Keuangan. Beberapa agenda persidangan yang dirasa perlu juga ditambahkan untuk dibahas di Sidang Seksi A dan B.

“Kopi! Kopi! Mana kopi!” teriak para peserta persidangan kala permasalahan yang didiskusikan kian berat. Ternyata kopi memang manjur untuk menurunkan tensi persidangan yang kadang meninggi. Ah, pujilah Tuhan karena Dia menciptakan kopi!

Setelah makan malam ada sebuah kejutan yang menarik dari Youth GKMI Anugerah, Jakarta, yaitu Praise & Worship Night. Sungguh pujian dan penyembahan yang menyegarkan di tengah kepenatan persidangan. Daniel Talenta mengawali renungan singkat dengan gokil abis. Dia memanggul sebuah koper beroda. ”Butuh 5.000 tahun bagi manusia untuk menyadari kegunaan roda. Saya harap kita tidak butuh waktu selama itu untuk menyadari pentingnya koneksi, relasi, dan kerjasama antargenerasi di GGKMI. Kita bukan hanya ”penjala manusia”, tetapi juga ”jala”-Nya Tuhan. Karena itu untuk berfungsi maksimal kita harus saling mengisi dan salaing memperbaiki,” demikian ulasnya.

Setelah Praise & Worship, kini tiba saatnya ”mengunyah” materi yang lebih alot di persidangan. Yup! Materi itu adalah pemilihan Panitia Nominasi untuk pemilihan pengurus BPH Sinode yang baru di tahun depan. Jajaran Panitia Nominasi adalah sebagai berikut: Pdt. Soegiharto, Pdt. Janti Diredja, Pdt. Erick Sudharma, Pdt. Trofimus, Pdt. Peter Hiendarto, dan Andryadi B. K. Sidang diakhiri pukul 23.00 WIB. Para peserta pun akhirnya beristirahat di kamarnya masing-masing.

Meski masih terlihat agak mengantuk, keesokan harinya pukul 06.30 para peserta telah berkumpul kembali di aula untuk mengikuti sharing bersama Youth 4 Peace. Para peserta menikmati breakfast sebelum memasuki Sidang Seksi.

Kini tiba saatnya ”pisah kelas”. Sebagian peserta mengikuti Sidang Seksi A yang membahas Laporan dan Program BPH dan Unit-unit Kerja dengan Pdm. Iwan Suhartono sebagai Ketua Persidangan dan Pdm. Natanael Sudirman sebagai Sekretaris Persidangan Seksi A; sementara itu sebagian lagi mengikuti Sidang Seksi B yang membahas mengenai Tata Gereja dan Pastor Pastorum, dipimpin oleh Pdt. Jandi Diredja sebagai Ketua Persidangan dan Pdt. Heru Himawan sebagai Sekretaris Persidangan Seksi B. Sidang Seksi A dan B berlangsung non-stop hingga malam harinya, yaitu pukul 21.00, diselingi hanya dengan makan dan snack. Dengan semangat “Kuat dilakoni, ora kuat tinggal ngopi”, gelontoran kopi pahit dan snack dari sponsor yang melimpah mendukung peserta untuk mengalahkan kantuk dan menyelesaikan agenda-agenda persidangan. Yel-yel “Siapa kita? GKMI! GKMI…membawa damai!” dan “Aku memberkatimu, kamu memberkatiku, kita semua saling memberkati!” juga menjadi penyemangat para peserta di sela-sela persidangan.

Untunglah, penampilan dari band GLC GKMI Karunia (baca BOKS LAPORAN KHUSUS) dalam Malam Kebersamaan seusai Sidang Seksi sanggup bagaikan sepercik air sejuk bagi para peserta. Apalagi dilengkapi dengan ketela oven, kacang rebus, jagung rebus, dan aneka minuman hangat. Para peserta menikmati aneka tembang kenangan, kembang api yang indah, dan persekutuan yang hangat di tepi api unggun. Lagu ”Goyang Maumere” kembali bergema, membuat semua peserta bergoyang, dan menjadi penutup acara hari itu.

 

The Last Day….

            Tanpa terasa, sampailah kita pada hari terakhir Sidang MPL IV ini. Acara hari itu kembali dibuka dengan sharing, kali ini bersama PASTHORI (Paguyuban Mahasiswa Teologi Muria). Dalam Sidang Pleno IV dan Vdi hari terakhir ini dilaporkan hasil Sidang Seksi A dan B. Ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bagi GGKMI, yaitu disetujuinya program GKMI One, yaitu aplikasi yang diharapkan dapat menjadi sarana komunikasi anak muda GGKMI; bGKMI yang akan goes online (mohon dukungan para Pembaca juga); rencana pembangunan kantor Sinode; persiapan MWC 2021; dan pemilihan BPH Sinode di Sidang Raya XXVIII yang akan datang.

            Acara Sidang MPL IV berakhir dengan penyerahan palu sidang kepada pelaksana Sidang Raya XXVIII, yaitu PGMW 2. Majelis Ketua dan Sekretaris Persidangan Sidang Raya XXVIII adalah Herman Sudjono, Pdt. Agus W. Mayanto, Pdt. Yusak B. Setiawan, Pdt. Daniel Kurniawan, dan Pdt. Resnu Titik J. L. “Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Panitia dari GKMI Karunia. Tempat ini mengilhami, sehingga meski penuh dinamika, persidangan diakhiri dengan kesejukan hati. Semoga hasil-hasil persidangan dapat diimplementasikan di GGKMI masing-masing. Semoga Persidangan mendatang juga lebih baik lagi,” demikian disampaikan Pdt. Budi Santoso,  Nugroho, dan Pdt. Resnu Titik dalam Kesan dan Pesan. Ibadah Penutup dengan Firman Tuhan oleh Pdt. Sumardi Setrakarya disertai Perjamuan Kudus menandai berakhirnya seluruh rangkaian acara Konven dan Persidangan MPL IV.

            Sebelum rombongan PGMW 2 yang berangkat dengan bus pulang ke Semarang, kami sempat mengunjungi tempat oleh-oleh. Iya lah, kapan lagi? Sedikit cemilan khas Bogor dan souvenir, cukuplah buat oleh-oleh keluarga yang telah menunggu di rumah. Good bye, Bogor! See you again next time! (Mark Ryan)

 

GREAT LEADER COMMUNITY (GLC) GKMI KARUNIA

 

Jika Anda mengikuti Konven Pendeta dan PMPL IV Sinode GKMI, maka Anda akan menemukan segelintir anak-anak muda yang menjadi seksi sibuk di acara ini. Ya! Mereka adalah para anggota GLC alias Great Leader Community GKMI Karunia, Bekasi. Meskipun jumlahnya tidak banyak, total sekitar 25 orang saja – dan itupun lebih banyak ceweknya – tapi bGKMI sungguh salut dengan pelayanan mereka. Mereka sungguh all out terlibat dalam semua acara, contohnya dalam Ibadah Pembukaan sebagai worship leader, singers, dancers, pemain musik dan choir. Suaranya jangan ditanya. Keren abis. Musiknya juga keren. Dance-nya? Mantaaappp! Saat Malam Kebersamaan di sisi api unggun mereka pun menjelma menjadi group band yang serba bisa, bisa mengiringi mulai lagu modern, nostalgia, dan juga PPR, bersama dengan New Wine & Jazz for Peace dari Y4 Peace Ministry .

Meski rentang usianya cukup luas, mulai dari SMP hingga SMA, kuliah, bahkan bekerja, persekutuan di antara mereka terasa sangat hangat. “Awalnya memang GLC dibuat sebagai wadah anak-anak muda sharing dan saling mendukung. Puji Tuhan, GLC terus berkembang dan aktif sampai sekarang,” kata Ferly F. Raya, salah seorang Majelis Jemaat GKMI Karunia, sekaligus aktivis GLC. GLC juga aktif dalam Ibadah Umum GKMI Karunia sebagai pelayan ibadah. Kebayang ‘kan asyiknya ibadah di GKMI Karunia?

Maju terus, GLC! Semoga nama Tuhan semakin dipermuliakan lewat pelayanan kalian! (Mark Ryan)

 

 

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2018 GKMI NETWORK

or

Log in with your credentials

Forgot your details?