Upaya Memahami Di Mana Allah Saat Saya Menderita?”

 

 Sepanjang perjalanan hidup orang beriman, ada banyak hal, peristiwa, pengalaman, kejadian, yang tak dapat dengan serta merta diterima dan dimengerti.  Kematian yang tiba tiba, kegagalan setelah melalui kerja keras dan pengorbanan, kebaikan yang tak berbuah, kesetiaan yang diremehkan, perang, bencana alam, penyakit, dan jutaan daftar lain yang dapat ditambahkan. Segala sesuatu yang tidak dapat dirasionalkan, pada akhirnya menyisakan pertanyaan-pertanyaan eksistensial, seperti: “Apa salah dan dosaku, sampai hal terjadi?”;  “Mengapa hal ini diizinkan terjadi?”;  “Apakah Tuhan sedang menghukumku?”; “Mengapa Tuhan membiarkan orang baik dilanda masalah?”; “Di mana Tuhan saat aku menderita?” Singkatnya, pertanyaan yang memperlihatkan kepedihan, bahkan kekecewaan dan kemarahan.

Dalam perspektif beriman, “mempertanyakan” adalah proses yang wajar. Sebagai makhluk yang berakal budi, manusia memang cenderung mempertanyakan berbagai hal, termasuk pertanyaan tentang Allah dan tindakan-tindakanNya, lebih lebih untuk berbagai hal yang tak mudah dimengerti. Imanuel Kant, filsuf Jerman dari abad 19, menegaskan, “adalah nasib buruk dari akal untuk mempertanyakan halhal yang tidak dapat dipahaminya”. Sekalipun dengan filsafat kritisnya Kant berusaha menjembatani pertentangan antara rasionalisme dan dan empirisme dan memadukan keduanya, ketika akal budi dan pengalaman dibutuhkan bersamasama untuk memahami kehidupan, namun masih saja menemui jalan buntu. Masih banyak area kehidupan yang tak terpahami, tak terjelaskan, yang menggantung dalam rentetan pertanyaan eksistensial.     

 

Perasaan “Dikhianati”

Pernahkan kita berada dalam situasi saat kita berseru dalam kesesakan, terus berdoa dan mempercayai pertolongan akan segera datang, memperteguh iman sambil terus berjalan, menunggu dan menunggu, lalu hening, hening yang sangat lama, begitu lama sampai  keraguan membelit keyakinan.  Jika ya, tentu kita tidak asing dengan kesunyian yang begitu menakutkan ini.  Allah yang “diam dalam ketersembunyianNya” seolah abai dengan berbagai penderitaan, situasisituasi berat, keterpurukan, rasa sakit, dan lain-lain, yang begitu menantang ambang ketabahan kaum beriman. 

Dalam banyak pengalaman yang begitu keras menggores,  jangan heran kalau orang beriman sekalipun menjadi “baper”: ada perasaan dibiarkan sendiri, ditinggalkan, diabaikan, atau bahkan perasaan “dikhianati” oleh Allah. Keyakinannya akan Allah yang setia, Maha mendengar, pengasih dan penyayang, penolong dalam kesesakan, dibayangbayangi oleh “kebisuan dan ketersembunyian” Allah itu sendiri.  Teks seperti Mazmur 46: 2 “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakkan sangat terbukti” menjadi begitu ironi ketika berhadapan dengan kenyataan.  Mendatangkan perasaan dikhianati, sebagaimana yang terungkap sedikit dalam kecemburuan pemazmur, “sebab aku cemburu kepada pembual pembual, kalau aku melihat kemujuran orang orang fasik, sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka” (Mzm.73: 3-4). Mengapa orang fasik seperti lebih beruntung dari orang benar, yang malah nyaris tergelincir (ayat 2)?  Juga dalam Mazmur 31 : 1 Daud berseru, “Berapa lama lagi Tuhan , Kau lupakan aku terus menerus, berapa lama lagi Kau sembunyikan wajahMu terhadap aku?”.   Contoh lain adalah Ayub yang merasa menyesal telah dilahirkan (Ayub 3: 11,16), yang merasa hidupnya terkucil dan dikepung Allah (3: 23), seakan segenap kekuatan Allah dipakai untuk melumat hidupnya (Ayub 9: 1-35; 16: 9).

Penting bagi setiap orang beriman menyadari bahwa inilah titik kritis yang dapat menghancurkan iman. Dengan kata lain, inilah titik persimpangan yang menentukan, apakah seseorang akan semakin teguh beriman atau justru patah dan berlalu dengan kecewa. Tragedi sering menjadi perangkap orang beriman sehingga merasa ditinggalkan, dikorbankan, atau dikhianati Allah. Oleh karena itu, perasaanperasaan negatif yang muncul atas ketidakmampuan memahami situasi sukar harus selalu diwaspadai.

 

Apakah Allah Wajib Memberikan Penjelasan?

            Dalam situasi yang begitu menekan namun tak terpahami, apakah  kemudian Allah “wajib” memberikan penjelasanNya supaya semua menjadi gamblang dan orang beriman terhindar dari perangkap perasaan dikhianati dan dikorbankan?

 Menarik untuk dicermati bagaimana konsep Perjanjian Lama (PL) tentang ketersembunyian Allah sebagai hal yang mulia, sebagai bagian dari misteri kekudusan Allah.  Keberadaan Allah yang tak terpahami adalah bagian yang wajar bagi penalaran manusia yang terbatas. Bagaimanapun besarnya keinginan dan upaya manusia untuk memahami pikiranpikiran Allah, alasanalasan Allah, pertimbanganpertimbangan Allah atas sesuatu hal yang menyesakkan, yang terjadi dalam hidup orang beriman, tidak sertamerta membuat manusia mampu memahami Allah.  Sebagaimana Amsal 25 : 2,”Kemuliaan Allah ialah merahasiakan sesuatu”; Yesaya 45: 15,”Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan diri”; Ulangan 29: 29,”Halhal yang tersembunyi ialah bagi Tuhan Allah kita”; Yesaya 55: 8-9,”rancanganKu bukan rancanganmu,…. demikianlah tingginya jalanku dari jalanMu, dan rancanganKu dari rancanganmu”.  Jelaslah bahwa memang manusia tidak memiliki cukup kemampuan untuk dapat memahami pikiran Allah dan bagaimana Ia campur tangan dalam kehidupan manusia.  

            Lebih jauh bahkan 1 Korintus 2:16 mengatakan, “ Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasehati Dia?” Dengan kata lain, siapakah yang memberi kuasa pada manusia untuk menanyai Allah? Manusia tidak dalam kapasitas untuk menuntut penjelasan, mendebat, apalagi menasehati Allah.  Dan penting untuk memperhatikan bahwa klaimklaim keputusasaan semacam: Allah tidak adil, Allah melupakan saya, Allah memalingkan wajah terhadap penderitaan saya, dan lain-lain, justru membatasi atau tidak memberikan ruang bagi Allah untuk menyatakan kehendakNya. Klaim negatif itu menjadi ketidakadilan  terhadap Allah yang sedang bekerja dalam ketersembunyian bagi kebaikan.  Sebab jangan kita pikir, jika Allah tidak nampak bekerja (oleh karena keterbatasan kita)  maka Allah sungguh sungguh diam dan abai.  Mazmur 145: 17, “Tuhan itu adil dalam segala jalanNya, penuh kasih setia dalam segala pebuatanNya”. Oleh karena itu tetap percaya ia bekerja mendatangkan kebaikan sekalipun langkahnya tak terlihat nyata, Roma 8: 28a, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan”.

 

Terus Berjalan bersama Allah yang Sukar Dimengerti

            Terbebas dari perangkap perasaan dikhianati dan bebas dari klaim ketidakadilan Allah, maka orang beriman siap berproses dengan  Allah. Dalam tahap ini, kaum beriman siap untuk terus  berjalan dengan Allah yang kendati sukar dimengerti rencanaNya tetap punya rencana terbaik. Dalam tahap ini juga kaum beriman menyadari betapa rapuhnya menggantungkan iman pada kemampuan untuk merasionalisasi segala sesuatu. Bukan hanya karena persepsi manusia yang serba cacat, tetapi juga karena perasaan perasaan negatif yang membawa kebohongan tentang Allah yang patut dicurigai. 

 

Berikut beberapa pokok pikiran agar tetap dapat terus berjalan dalam kekuatan iman :

 

1.      Kehadiran dan keterlibatan Allah  tidak tergantung pada persepsi manusia. Anggapananggapan bahwa Allah tidak peduli, tidak tertarik terhadap masalah manusia, Allah menjauhi dan meninggalkan manusia, tidak menentukan sikap dan posisi Allah terhadap manusia. Jika Allah memutuskan untuk setia, maka Ia setia. Jika Allah memutuskan untuk menyertai, maka Ia menyertai, sebab Ia adalah Imanuel.  Penggambaran Allah sebagai Gembala yang samarsamar dalam Mazmur 23, ataupun sebagai Gembala yang sangat dekat dalam Yohanes 10 samasama menjadi bukti dari kehadiran dan keterlibatanNya. Sebab kehadiran yang samar atau tak terlihat bukan berarti tidak ada, bukan?

 

2.      Kekuatan orang beriman adalah otoritas FirmanNya, bukan sematamata pada tanda kehadiran yang nyata. Firman melampaui tanda empiris kehadiranNya. Dulu, sekarang, dan selamanya, firmanNya tak berubah. Kekuatan orang beriman tak tergantung pada seberapa banyak doanya dijawab, seberapa banyak keinginannya dikabulkan, atau seberapa sering ia ditolong dari masalah yang menghimpit. Setiap janji dan pernyataan kehadiran Allah tetap berlaku sekalipun tanda kehadiranNya begitu samar.

 

3.      Waktu Allah sempurna, bahkan saat bagi manusia sangat terlambat. Salah satu penghancur iman adalah jadwal Allah yang tidak selalu sesuai dengan jadwal manusia. Dalam dunia yang serba cepat maka disadari atau tidak orang beriman menuntut jawaban seketika, penyelesaian kilat, dan kalau perlu hidup yang tanpa masalah sama sekali. Manusia modern cenderung melupakan pentingnya proses dalam menghadapi masalah. Dalam hal ini bukan soal pemecahan masalah an sich yang dipentingkan, tetapi juga bagaimana  dalam proses ini karakter ikut dibentuk, iman dibentuk, dan relasi secara vertikal ataupun horisontal dibangun. Jelas ini semua  perlu waktu yang cukup, tidak asal cepat. Sebab yang menjadi target bukan sekedar masalah terselesaikan, tetapi menjadi pribadi yang lebih baik dan tangguh iman.  

 

4.      Prinsip “Seandainya tidak…”.  Mengutip dari perkataan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego (Daniel 3: 16-18) ketika berhadapan dengan perapian yang menyalanyala yang dibuat oleh raja Nebukadnezar ini menjadi contoh yang paling berani dari iman. Mereka tahu bahwa Allah yang mereka sembah sanggup melepaskan mereka dari bahaya; tetapi seandainya tidak, itupun jawaban terbaik dari Allah. Contoh lain adalah kisah Paulus (2 Korintus 12: 7-9). Tiga kali Paulus berdoa memohon supaya Tuhan mencabut duri dalam daging yang menjadi sumber penderitaannya, tetapi Tuhan menolaknya. Bagian terakhir dari berjalan bersama Allah yang sukar dipahami adalah jawaban tidak. Bagaimana orang beriman menerima jawaban tidak atas kesesakan hidupnya sebagai sebuah jawaban terbaik. Frasa “sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna”, menunjukkan bagaimana orang beriman harus benarbenar mengandalkan kekuatan dan belas kasih Allah. Berserah akan jawaban dan keputusan “tidak” akan membawa kebaikan baginya, hanya saja ia belum dapat melihatnya seketika. Satu hal lagi: bahkan di dalam jawaban”tidak” Allah tetap menyertai. Itulah sebabnya Paulus bisa menyimpulkan hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Itulah sebabnya Sadrakh, Mesakh, dan Abendego di dalam perapian disertai oleh sosok keempat yang nampak seperti “anak dewa”. Seandainya tidak pun orang beriman tidak pernah dibiarkan sendirian, diabaikan, atau ditinggakan.

 

Jadi persoalannya bukan: “Di mana Allah?”, bukan di mana Allah saat hidup orang beriman dilanda kesukaran, tekanan, bencana, dan sebagainya, tetapi persoalannya adalah “Bagaimana sikap iman yang tepat ketika Allah sukar dimengerti?” Persoalannya bukan pada posisi Allah, sebab posisiNya jelas selalu bersama umat, baik secara nyata atau samar. Persoalannya adalah persepsi manusia, perasaan negatif, dan klaim negatif manusia, atau ketika manusia merasa bahwa Allah berhutang penjelasan padanya. Tugas orang beriman adalah tetap percaya akan kehadiran Allah sekalipun tak terpahami; mendasarkan imannya pada Firman, bukan bukti empiris; percaya bahwa waktu Allah adalah sempurna, sebab sasarannya adalah  karakter dan iman. Dan seandainya Ia menyatakan tidak, di sana pun dalam jawaban tidak itu Ia turut berjalan bersama orang beriman. (MR)         

 

*Pdt. Wara A. Retno Widuri

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2018 GKMI NETWORK

or

Log in with your credentials

Forgot your details?