Cerita dari Anak Dara Maria


Sedulur-sedulur, perkenalkan. Namaku Maria. Sedulur-sedulur boleh menyebutku “anak dara Maria.” Aku seorang gadis desa. Aku tinggal di Nazaret, sebuah desa di Galilea. Sebagaimana halnya dengan kebanyakan orang di desaku, aku hidup dalam kemiskinan.[1] Ya, kami hidup dalam kemiskinan. Karena kemiskinan itu, kaum kaya dan berkuasa memandang rendah kami. Mereka melihat kami sebagai kaum yang hina. Kami hina karena kami papa.

 

Satu

Kami menjadi miskin dan hina tentu bukan tanpa sebab. Kata para pemuka agama, kami miskin dan hina karena kutukan YAHWEH, Allah Israel. Kami dimurkai YAHWEH karena kami dan leluhur kami telah berdosa kepada-Nya. Kami semua telah ingkar, kufur, kepada-Nya. Tak heran bila Ia murka, tak ayal bila kami dikutuk-Nya.

Sesungguhnya kami semua, termasuk almarhum kedua orangtuaku, juga diriku, telah bertobat. Kami berkabung menyesali dan meratapi dosa-dosa kami. Kami pergi ke Baitullah di Yerusalem untuk mempersembahkan kurban-kurban untuk mendamaikan Gusti Allah dengan kami. Kata para pemuka agama, Allah sudah mengampuni kami. Ia sudah tidak memurkai kami lagi. Akan tetapi karena dosa kami banyak, besar, dan berat-berat, kata mereka, YAHWEH tidak kunjung mencabut kutuk-Nya dari kami. Itulah sebabnya kami tetap miskin dan hina. Apa mau dikata, kami harus belajar menerima keadaan ini. Kami berdosa, miskin, dan hina. 

Kebanyakan penduduk desa kami mempercayai penjelasan para pemuka agama. Tapi aku punya pendapat sendiri. Bagiku, kami miskin dan hina bukan karena dosa-dosa kami terlalu banyak, besar, dan berat. YAHWEH itu Allah penyayang dan pengasih. Ia Mahapemurah, lagi Mahapengampun. Ia telah menerima pertobatan kami. Ia tidak mengutuk kami untuk tetap hidup dalam kemelaratan dan kehinaan. Kami miskin bukan karena murka dan kutuk YAHWEH.

Sebatas pengertianku, kemiskinan dan kehinaan kami berkaitkelindan dengan ketidakadilan yang merajalela dalam masyarakat kami. Ya. Kami miskin karena penghisapan, kami hina karena penindasan. Tanah-tanah kami, yang sejatinya merupakan milik pusaka kaum keluarga kami, diambilalih oleh orang-orang kaya. Tuan-tuan tanah itu berhubungan erat dengan kalangan penguasa. Bahkan tak jarang, tuan-tuan tanah itu berasal dari kalangan penguasa. Kami sendiri sekadar menjadi kaum tani penggarap atau buruh tani di tanah-tanah yang dulunya milik kaum keluarga kami.[2] Dengan jalan itu kami bekerja untuk menyambung hidup keluarga kami sekaligus memperkaya tuan-tuan tanah. Ketika pendapatan atau upah kami tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, kami terpaksa berutang kepada tuan-tuan tanah itu. Bila sesudah jatuh tempo kami tidak sanggup melunasi utang-utang kami, maka kami, bahkan anak-anak kami, akan menjadi budak tuan-tuan tanah atau dijual mereka sebagai budak.[3]

Betapa bedanya hal ini dengan penjelasan para pemuka agama! Ah, bukankah dengan ajaran mereka tentang murka dan kutuk ilahi para pemuka agama itu justru mengesahkan dan menghalalkan kekayaan kaum kaya dan berkuasa? Padahal, sebenarnya kekayaan mereka itu berasal dari penghisapan dan penindasan atas kami. Mereka memperkaya diri dengan memelaratkan kami. Kekayaan mereka berarti kemelaratan kami.

 

Dua

Syahdan, Sedulur-sedulur, Malaikat Jibril datang kepadaku dengan pesan YAHWEH. Jibril menyebut diriku dikaruniai oleh Gusti Allah. Untuk sejurus waktu lamanya aku tidak memahami apa maksudnya. Kemudian Jibril mengatakan bahwa oleh kuasa Roh Kudus aku akan hamil dan melahirkan seorang anak laki-laki yang kelak akan mewarisi singgasana Daud dan memerintah atas Israel untuk selama-lamanya. Mendengar itu aku sangat gembira. Betapa tidak. Aku, gadis desa yang papa, akan melahirkan Raja Besar, Al-Masih!

Akan tetapi hatiku juga gundah, sungguh gulana. Bayangkan, aku seorang anak dara. Aku sudah bertunangan dengan Mas Ucup…. Meski aku akan hamil karena mukjizat ilahi, dan bukan karena pengkhianatan dan perzinahan, apakah Mas Ucup akan percaya? Lagipula, apa kata “dunia”? Padahal Hukum Taurat telah jelas-jemelas mengatakan:

“Apabila ada seorang gadis yang masih perawan dan yang sudah bertunangan — jika seorang laki-laki bertemu dengan dia di kota dan tidur dengan dia, maka haruslah mereka keduanya kamu bawa ke luar ke pintu gerbang kota dan kamu lempari dengan batu, sehingga mati: gadis itu, karena walaupun di kota, ia tidak berteriak-teriak, dan laki-laki itu, karena ia telah memperkosa isteri sesamanya manusia. Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu.” (Ulangan 22: 23-24).

Duh! Bukankah amanat ilahi ini berisiko amat sangat tinggi? Jelas, nyawakulah yang menjadi taruhannya! Memang, aku telah menjawab Jibril, “Sesungguhnya aku adalah hamba YAHWEH. Jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Lukas 1: .38). Tapi jujur, hatiku tetap gundah. Aku risau dan galau.

 

Tiga

Syukurlah, Sedulur-sedulur, Gusti Allah menguatkan hatiku. Ia melakukannya melalui kerabatku, Mbakyu Elisabet. Ceritanya begini.

Mbakyu Elisabet menikah dengan Imam Zakharia. Pasangan Kang Jaka dan Mbakyu Elisabet adalah pasangan saleh dan saleha. Keluarganya sakinah, mawadah, warohmah. O ya, sekarang mereka sudah tidak muda lagi, terbilang lanjut usia. Rumah tangga yang awet. Tapi, aku tahu bahwa mereka terus bersusah hati. Sebab mereka tak kunjung dikaruniai putra. Konon, masalahnya ada pada Mbakyuku Elisabet: Dia mandul. Betapa perih hatinya, sedih pula hati suaminya. Syukur kepada Allah, Kang Jaka setia. Tidak luntur cinta kepada isterinya, apalagi berpaling kepada perempuan lain dengan dalih ingin mendapatkan putra… (Duh, jadi ingat kata-kata Bang Oma dalam salah satu tembang duet romantik dengan Mpok Elvie: “Cintaku padamu tak akan goyah/walau seumur hidupmu dalam kemandulan…” Jadi suri tauladan betul Bang Oma … dalam tembangnya. Suami “idaman”, seperti nama partainya…).

Nah, syukur pula kepada Allah, akhirnya aku beroleh kabar gembira tentang mereka. Tanpa dinyana, Mbakyu Elisabet hamil. Oleh mukjizat ilahi, tentunya. Betapa bahagia Mbakyuku dan suaminya. Sekarang kehamilan Mbakyu Elisabet sudah memasuki bulan yang ketujuh. Tidak lama lagi mereka akan mendapatkan putra. (Wah, jadi ingat kata-kata Bang Oma dan Mpok Rita dalam salah satu tembang duet romantik: “Tidak lama lagi kita mempunyai seorang bayi yang rindukan…”).

Nah, ketika aku dolan ke rumah mereka, Mbakyu Elisabet menyambutku. Dia bilang begini:

“Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” (Lukas 1: 42-45).

Ya ampun, luar biasa kata-kata itu. Aku yakin, Gusti Allah sendirilah yang menggerakkan Mbakyu Elisabet untuk mengucapkan kata-kata itu. Sungguh, hatiku dikuatkan. Pupus sudah ketakutan, kegundahan, kerisauan, dan kegalauan. Sebagai gantinya, hatiku kebak bingah. Spontan saja aku mengidungkan:

“Jiwaku memuliakan Tuhan

dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Lukas 1: 46-47).

Aku merasa Yang Mahatinggi telah memperhatikan aku, hambanya yang miskin dan hina ini. Serta-merta pikiranku pun beroleh pencerahan. Perhatian Gusti Allah kepadaku memiliki tujuan yang jauh lebih besar daripada “nasib” diriku seorang. Gusti Allah tidak sekadar ingin menjadi Juruselamat anak dara yang papa dan hina ini. Ia juga ingin menjadi Pembebas semua kaum miskin, kaum rendahan dan lapar. Tunggu tanggal mainnya, Ia akan bertindak. Ia akan membebaskan kaum miskin dari penghisapan dan penindasan kaum kaya dan berkuasa. Aku pun mengidungkan:

“Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya

dan meninggikan orang-orang yang rendah;

Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar

dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa.” (Lukas 1: 52-53)

Aku pun mengerti: Yesus, anak yang kukandung ini, akan menunaikan tugas “Tunas dari Tunggul Isai”: mengembalikan marwah Keluarga Daud dan memulihkan Israel dengan jalan menegakkan keadilan bagi kaum miskin.[4]

            “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai

dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah.

 

Roh TUHAN akan ada padanya,

roh hikmat dan pengertian,

roh nasihat dan keperkasaan,

roh pengenalan dan takut akan TUHAN;

ya, kesenangannya ialah takut akan TUHAN.

 

Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja

atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang.

Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan,

dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di negeri dengan kejujuran;

ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat,

dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik.” (Yesaya 11: 1-4).

Jelas sudah. Melalui Anakku, Gusti Allah akan mengadakan perubahan sosial yang menyeluruh, material dan spiritual. Transformasi sosial itu akan bermuara pada shalom: perdamaian dan kesejahteraan yang berkeadilan:

“Serigala akan tinggal bersama domba

dan macan tutul akan berbaring di samping kambing.

Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama,

dan seorang anak kecil akan menggiringnya.

Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput

dan anaknya akan sama-sama berbaring,

sedang singa akan makan jerami seperti lembu.

Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung

dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak.

Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya.” (Yesaya 11: 6-9).

Allah telah memperhatikanku, gadis desa yang papa dan hina ini. Ia telah melibatkanku dalam karya akbar-Nya. Aku bersukacita, sangat bersukacita.

 

Empat

Sedulur-sedulur, aku bersyukur. Mas Ucup tunanganku ternyata percaya kepadaku. Bukan hanya itu. Ia juga bersedia mendampingiku dalam melaksanakan amanat Allah. Bukan main, luar biasa laki-laki ini. Bahkan ketika Kaisar Agustus mengharuskan tiap-tiap orang di seantero wilayah kekuasaannya untuk “pulang kampung” dalam rangka program sensus nasional (Lukas 2: 1-2), Mas Ucup mengajakku (dan anak yang ada dalam kandunganku). Itu berarti ia telah menerima diriku dan anak dalam kandunganku sebagai bagian dari keluarganya. Ia menerima aku sebagai isterinya dan anakku sebagai anaknya sendiri.

Tapi, perjalanan dari Nazaret ke Betlehem adalah perjalanan yang terbilang tidak mudah bagiku. Jauh, iya. Nazaret terletak di Galilea, di sebelah Utara. Betlehem di Yudea, di sebelah Selatan. Bukan soal jarak. Aku sudah dalam keadaan hamil tua. Ah, aku seperti menjadi beban bagi Mas Ucup. Tapi kusaksikan sendiri tanggung jawab dan kesabarannya yang luar biasa.

O ya, Mas Ucup alias Yusuf berasal dari “keluarga dan keturunan Daud” (ayat 4, lihat juga Lukas 1: 26). Ia berdarah biru, trah kusuma rembesing madu. Kita tahu Baginda Daud: raja yang berhasil mempersatukan bangsa Israel dalam wadah Kerajaan Israel Raya. Daud juga pendiri sebuah dinasti yang memerintah wilayah Selatan Israel selama sekitar tiga setengah abad. Menurut Nabi Natan, Dinasti Daud akan memerintah atas Israel untuk selama-lamanya. Nabi-nabi yang berkarya semasa pancaroba (Yesaya dari Yerusalem dan Mikha) dan sandyakala (Yeremia dan Yehezkiel) Negara Yehuda merindudambakan kemunculan keturunan Daud yang melaluinya YAHWEH akan mengembalikan marwah Dinasti dan merestorasi Israel, umat-Nya. Demikian juga nabi-nabi yang berkarya sekian dekade setelah negara tersebut sirna ilang kertaning bumi (Hagai dan Zakharia).

Dilahirkan jauh setelah kejayaan Dinasti Daud berakhir, Mas Ucup hidup dalam kemiskinan. Betapa tidak. Meski pulang ke kampung halamannya sendiri (Lukas 2: 4), ia seperti tidak punya siapa-siapa di sana. Bahkan, tidak ada tempat di rumah penginapan bagi kami (ayat 7). Ketika tiba waktunya bagiku untuk bersalin, kami mendapati diri berada si suatu ruang di mana terdapat tempat pakan ternak untuk membaringkan bayiku…. Bukan itu saja. Mas Ucup juga tidak dapat berbuat banyak sehingga aku hanya bisa mempersembahkan kurban berupa “sepasang burung tekukur atau dua ekor burung merpati” (ayat 24) saat menyerahkan bayi Yesus kepada YAHWEH di Baitullah Yerusalem (ayat 22-23). Bukan seekor kambing atau domba (Imamat 12: 8)!

Begitulah, aku seorang gadis desa yang miskin. Mas Ucup, kendati keturunan Baginda Daud, juga seorang yang miskin. Kami sama-sama miskin, nyaris tak punya apa-apa. Tetapi kepada kami dipercayakan amanat Allah: Mesias alias Kristus, ahli waris sejati singgasana Daud dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga kami. Lahir sebagai anak keluarga miskin, Mesias hidup sebagai orang miskin dan sejak kecil bergaul dengan orang miskin. Tak heran, bila Ia begitu mencintai orang miskin….

 

Epilog

Ingin kuakhiri kisahku ini dengan sebuah kesaksian yang aku dan Mas Ucup dengar dari para gembala. Berpakaian lusuh, berwajah kumal, biasa bicara vulgar dan kasar pisuhan, serta dikenal sering melakukan tindak kriminal kecil-kecilan (misalnya nyikat jemuran orang, nyolong timun seperti kancil, dan sebagainya), para gembala sering dianggap sebagai wong ora nggenah. Nah, di malam itu, saat aku baru saja melahirkan Yesus, datanglah beberapa orang dari mereka. Demi melihat bayiku yang berlampin dibaringkan di tempat pakan ternak, mereka kelihatan begitu bersukacita. Lalu, tanpa diminta, mereka bercerita kepada kami (Lukas 2: 17). Mereka bilang, para malaikat baru saja menemui mereka di padang dan memberitakan:

“Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (Lukas 2: 11-12).

Kemudian, cerita para gembala itu, mereka melihat “sejumlah besar balatentara sorga yang memuji Allah” (ayat 13):

             “Kemuliaan bagi Allah ditempat yang mahatinggi

dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (ayat 14). 

Aku mengerti cerita mereka. Jelas bagiku: Anakku Yesus adalah Juruselamat, Kristus alias Mesias, Tuhan. Melalui Anakku itu kelak Allah akan mewujudkan shâlôm/eirenê (TB-LAI: damai sejahtera) alias perdamaian dan kesejahteraan yang berkeadilan di muka bumi. Kulihat Mas Ucup dan orang-orang yang membantu persalinanku terheran-heran (ayat 18). Tapi aku, merasa diteguhkan kembali tentang jati diri Anakku Yesus dan amanat yang dipercayakan Allah kepadaku, memilih untuk diam. Aku menyimpan kesaksian para gembala itu di hatiku dan merenungkannya. 

Inilah Natal (=Kelahiran, Kelahiran Yesus) bagiku. Pertama, Natal berarti kepedulian Gusti Allah kepada kaum miskin atau kaum hina rendahan, yakni mereka yang terhisap dan tertindas.  Melalui Natal Gusti Allah menyatakan bahwa Ia akan menegakkan keadilan bagi kaum miskin dan mendatangkan perdamaian dan kesejahteraan yang berkeadilan bagiku, Mas Ucup, para gembala, dan semua orang yang dianggap hina lainnya. 

Kedua, Natal berarti kesediaan Gusti Allah untuk melibatkan orang-orang rendahan dalam karya pembebasan ilahi. Tengok. Ia mengajak aku untuk terlibat mengandung, melahirkan, dan membesarkan Sang Pembebas. Ia menggerakkan Mas Ucup untuk mendampingiku dengan setia. Ia juga memakai para gembala untuk memberi kesaksian tentang Kristus, Tuhan.

Bagaimana dengan Sedulur-sedulur?

 

Selamat Natal, selamat menyatukan diri dengan kepedulian Gusti Allah. ***

  

Lemah Abang, 29 November 2018

 

Oleh: Ki Baskoro Utomo*

 

 

*Ki Baskoro Utomo adalah peminat Alkitab, Sejarah, dan Cerita-cerita Wayang dan Babad. 

 

   



[1] Dalam Yakobus 1: 9-10 orang kaya dikontraskan dengan “saudara yang rendah/hina” (ho adelfos ho tapeinôs). Yakobus mengatakan bahwa “saudara yang rendah/hina” sebenarnya ada dalam ketinggian/kemuliaan; sedangkan orang kaya ada dalam kerendahan/kehinaan. Kata-kata Yakobus menggemakan kontras yang kita temukan dalam Lukas 1: 52-53, orang-orang yang rendah/hina dan orang yang lapar di satu pihak sedang orang-orang yang berkuasa dan orang kaya di lain pihak. Kata-kata Yakobus juga menggemakan kontras yang kita temukan dalam Lukas 6: 20-21, 24-25: kamu yang miskin/lapar/menangis di satu pihak dan kamu yang kaya/kenyang/tertawa di lain pihak. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa orang yang rendah/hina adalah orang miskin, dan yang dimaksud dengan kerendahan/kehinaan adalah kemiskinan.

[2] Lihat perumpamaan Yesus dalam Lukas 20: 9-16a (dan paralelnya dalam Matius dan Markus). Di  dalamnya kita melihat potret tentang hubungan produksi ini.

[3] Lihat perumpamaan Yesus dalam Matius 18: 23-35 dan Lukas 19: 12-27//Matius 25: 14-30. Perumpamaan-perumpamaan Yesus lazim menggunakan gambaran-gambaran yang diambil-Nya dari situasi sosial yang nyata.

[4] Untuk analisis teologis-politis tentang pasase ini, lihat misalnya tulisan Rudiyanto, “Mesianisme dan Kritik Profetis,” yang merupakan epilog dari karya mutakhir Josef P. Widyatmadja, Altar dan Latar: Spiritualitas dan Diakonia Profetik (Jakarta: Grafika Kreasindo, 2018), hlm. 149-179.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2019 GKMI NETWORK

or

Log in with your credentials

Forgot your details?