“Lalu kata malaikat itu kepada mereka: ‘Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.’ Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.’” (Lukas 2: 10-14)

Saat saya mencoba menuangkan tulisan ini, saya teringat momen ketika saya melayani perayaan Natal di GKMI Welahan pada tahun 2014. Pada waktu itu saya menyampaikan Firman Tuhan bahwa Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup. Setelah selesai menunaikan tugas dan sempat berswafoto dengan para Majelis dan Hamba Tuhan serta jemaat GKMI Welahan, alhasil saya kembali ke Semarang seorang diri, waktu itu sekitar pukul 21.30 malam. Melewati jalan lintas Welahan-Demak, setelah melewati sebuah belokan, sontak saya terkejut, karena di tengah jalan, ada seorang ibu-ibu sekitar usia 50 tahunan, duduk “ndeprok” di jalan, sementara mobil-mobil dan truk-truk yang melintas mencoba untuk mengerem mendadak dan berjalan perlahan. Ketika melintasi ibu itu, dalam hati saya bergumul, “Ngapain ibu ini ya? Di tengah-tengah jalan seperti itu? Apakah ia mencoba bunuh diri?” Saya mencoba untuk terus melaju, namun hati saya gelisah, “Bagaimana kalau ibu ini nanti tertabrak mobil atau truk yang tidak bisa mengendalikan kendaraannya?”

Singkat cerita, saya kemudian bertekad untuk berhenti, dan tak lama kemudian saya menemukan sekelompok warga yang sedang “kongkow” alias “jagongan” di sebuah minimarket baru. Saya kemudian memarkir mobil dan menyapa mereka. Saya memperkenalkan diri dan kemudian menceritakan apa yang saya alami dan lihat tentang ibu yang duduk di tengah jalan sambil ngomel-ngomel tersebut. Singkat cerita, ada seseorang yang kemudian diutus untuk bergerak dan memberikan pertolongan.Ternyata, ibu ini diduga kuat sedang stres karena permasalahan keluarga dan berniat untuk mengakhiri hidupnya. Ibu ini oleh rekan itu, dibawa ke kantor Kelurahan. Dia sempat emosi, dan bahkan memecahkan beberapa barang di sana, tetapi akhirnya bisa tertangani. Rekan yang diutus untuk menyelamatkan sang ibu akhirnya kembali, dan ia menceritakan kejadian yang sesungguhnya. Ya, malam hari itu ada sebuah misi penyelamatan darurat yang telah dilangsungkan. Saya akhirnya mengetahui bahwa rekan-rekan ini adalah Komunitas Gusdurian Cabang Demak. Saya pun kemudian mengenal Gus Wan dan rekan-rekan lainnya satu per satu. Ketika saya hendak pamit dan undur diri mengingat malam yang terus beranjak, ada seorang rekan yang “nyeletuk, “inilah makna Natal yang sesungguhnya, ya Pak!” Kami semua mengangguk setuju dan tertawa lebar. Sungguh sebuah sukacita di malam Natal telah terjadi. Sungguh, malam itu menjadi momen perayaan Natal yang sangat berkesan bagi saya, bahwa kami bisa merayakan esensi dari kisah Natal itu bersama-sama, bahwa sesungguhnya Natal adalah kisah tentang solidaritas lintas batas, ketika aku dan kamu, menjadi kita.

Berbicara tentang Natal, bagaimana kita sesungguhnya patut merayakannya secara relevan di tengah kondisi bangsa Indonesia yang baru saja berduka karena beberapa bencana alam yang terjadi di Lombok, Palu, Sigi, Donggala; serta tantangan nyata berbagai hantaman HOAX yang kian membabi buta, politik identitas yang memecah belah, konflik horizontal, berbagai teror dan aksi kebencian antar kelompok; juga realitas kemiskinan, ketidakadilan, pemujaan materi yang mengorbankan hak-hak sesama, dan lain sebagainya? Mungkin kita perlu sungguh-sungguh secara rendah hati bertanya: Apa makna Natal bagi kita, umat Allah yang sekaligus adalah insan yang hidup berdampingan dengan umat dari berbagai keyakinan dan kepercayaan, yang juga sedang berziarah menuju kepada Tuhan dan panggilan-Nya di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan juga di bumi ini? “ Mari kita melihat kembali bagian Firman Tuhan yang indah ini dan menemukan setidaknya 4 makna Natal yang sesungguhnya:

1.      Natal adalah Berita Sukacita yang Membebaskan Kita dari Belenggu Ketakutan

Natal adalah berita sukacita, membawa kesukaan. Peristiwa pernyataan malaikat kepada para gembala yang sedang menjaga ternaknya di malam hari pada awalnya menjadi kisah yang mengejutkan, bahkan menakutkan. Lukas 2: 9, “tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan.” Perasaan takut adalah sesuatu yang sangat wajar. Ketakutan adalah alarm manusiawi, yang menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang memiliki banyak kerentanan dan keterbatasan. Ada banyak peristiwa, kejadian, fenomena yang menakutkan di sekeliling kita. Saya mendengar kisah bencana alam yang baru-baru ini terjadi di Palu dan Petobo. Ada peristiwa menakutkan: likuifasi, saat alam bergerak, tanah amblas, dan ratusan bangunan, bahkan satu desa tenggelam bersama dengan harta milik dan orang-orang yang mereka kasihi dalam sekejap. Semuanya hilang, binasa, lenyap ditelan bumi. Siapakah yang tidak takut bila menghadapi ancaman bencana seperti ini? Bagaimana kita bisa menjelaskan fenomena seperti ini?

Ketakutan juga hadir di sekeliling kita, juga tentang hari esok. Bagaimana kalau dolar bergerak naik? Bagaimana dengan bisnis dan pekerjaan kita, bila tantangan ekonomi global ada di sekeliling kita? Bagaimana kita menatap hari esok saat kesulitan demi kesulitan ada kalanya tak beranjak dari kehidupan kita? Ya. Takut akan kematian, takut akan kemiskinan, takut akan sakit-penyakit, dan masih banyak lagi. Di tengah-tengah ketakutan para gembala itu… terdengar suara, “Jangan takut! Sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa” (Ayat 10).  “Jangan takut?” Mungkin itu seringkali kegundahan kita, juga para gembala. Namun inilah makna Natal yang sesungguhnya, kita dipanggil untuk keluar dari rasa takut. Kita diajak untuk melihat dan mengalami kesukaan yang besar bagi semua bangsa. Kristus, Sang Juruselamat umat manusia, telah lahir. Ia membawa berita kelepasan. Ia menghadirkan berita pembebasan. Ia hadir untuk memutuskan belenggu ketakutan yang telah mencengkeram kita. Jangan takut!

2.      Natal adalah Berita Sukacita, untuk Semua Bangsa, dari untukku, untukmu, Menjadi untuk Kita Semua

Sesungguhnya, apa makna pernyataan malaikat kepada para gembala, yang seringkali dianggap sebagai rakyat jelata, bukan kaum elit, atau penguasa atau bahkan para pengusaha? Bukankah seharusnya, berita kesukaan yang penting ini seyogianya diberitakan kepada para penguasa terlebih dahulu? Atau mungkin kepada para pemimpin agama Yahudi, ahli-ahli Taurat yang gemar berada di Bait Allah? Mengapa justru malaikat menjumpai para gembala? Dan di padang belantara, di antara ternak domba? Saya percaya bahwa Natal adalah untuk semua orang, untuk semua kalangan, bukan hanya untukku (baca golonganku, sukuku, agamaku, kelompokku, dan lain sebagainya), atau untukmu (keluargamu, sahabatmu, kolegamu, rekan bisnismu, dan lain sebagainya), tetapi untuk semua orang, untuk semua kalangan, untuk kita semua. Ya, Natal adalah kisah kasih Allah yang Ilahi kepada semua orang di muka bumi ini, termasuk Anda dan saya dari latar belakang apapun. Berita Sukacita surgawi atau Injil tidak bisa dibatasi oleh sekat-sekat dan tembok-tembok apapun. Tidak ada satu pihak yang berhak untuk mengklaim bahwa Kristus hanya untuk kalangan mereka, Kristus adalah bagi semua, untuk semua orang, Ia adalah Tuhan atas semua bangsa. Kisah Rasul mencatat, “Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang…. dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati. Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.” (Kisah Rasul 10: 30, 42-43)

Dalam momen-momen Natal seperti ini, saya teringat masa-masa ketika kuliah di Jakarta. Kami pernah mengadakan perayaan Natal serderhana bersama dengan rekan-rekan Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) GKMI Anugerah, makan bersama di bawah kolong jembatan di Tanjung Duren, seberang kampus UKRIDA. Kami mengajak mereka makan bersama-sama, tanpa banyak embel-embel, hanya berbagi sukacita sebagai sesama peziarah kehidupan, tanpa batas, tanpa sekat, di bawah kolong jembatan. Ya, merayakan Natal untuk semua orang. Kristus untuk semua, bukan untuk kalangan sendiri.

3.      Natal Berpusat pada Kristus, Tuhan, Yang Ilahi Sekaligus Yang Insani

Ketika perayaan Natal berlangsung, baik di gereja maupun di pusat-pusat perbelanjaan, kita akan melihat ada banyak pohon Natal bertebaran, dekorasi apik nan rupawan berkelapkelip, dan juga sosok Santa Claus ada dimana-mana. Namun sesungguhnya siapakah pusat berita Natal yang sesungguhnya? Bukankah Kristus adalah Pusat Berita Natal yang sejati? Para malaikat mengatakan, “hari ini, telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan di kota Daud.” Ini adalah berita sukacita yang membawa kesukaan bagi dunia. Ini bukan berita HOAX, ini adalah fakta sejarah. Firman yang menjadi daging, Yang Ilahi, menyatakan diri di dalam Sang Insani, Kristus, yang lahir menjelma sebagai seorang bayi dalam palungan nan sederhana itu. Dialah Sang Kristus, Tuhan, Juruselamat dunia, yang kelahiran-Nya telah dinubuatkan oleh para nabi dan telah dinanti-nantikan oleh banyak generasi sebelumnya: Natal adalah peristiwa inkarnasi Yang Ilahi di dalam rupa Sang Insani. Ini adalah peristiwa terbesar yang menjadi tonggak sejarah. Menjadi kairos, momen yang ditunggu-tunggu di dalam kronos. Peristiwa ini begitu besar, hingga Paulus menyatakan bahwa Kristus adalah “rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu. Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan.” (Kolose 1: 26-27).

Apakah kita sedang merayakan Natal dengan kekaguman yang begitu rupa, karena menyadari keberadaan Allah yang menjelma di dalam pribadi Kristus? “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa, segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia.” (Kolose 1: 15-17) Wow! Bukankah ini sesuatu yang luar biasa? Mari merayakan Natal dengan perspektif baru!

4.      Allah Dimuliakan ketika Damai Sejahtera-Nya Hadir Mengangkat Harkat dan Manusia yang Diciptakan-Nya

Bagaimana merayakan Natal secara sederhana, bermakna, dan kontekstual dengan pergumulan dan pergulatan hidup berkomunitas dan berziarah di tengah-tengah bangsa dan negara Indonesia, sekaligus sebagai warga bumi secara universal? Saya percaya, panggilan kita adalah untuk menjadi pewarta-pewarta Sabda Damai Sejahtera Allah yang telah menjelma menjadi manusia itu untuk menunjukkan teladan hidup yang sesungguhnya. Yesus datang supaya kita dapat kembali memiliki harkat dan martabat sesuai dengan tujuan asali penciptaan kita. Sejak semula Allah menciptakan kita untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Namun karena dosa merasuk di dalam relasi antara kita dengan Allah, maka citra diri atau gambar diri kita telah rusak. Namun puji Tuhan, karya agung Kristus, Sang Pendamai itu, telah memulihkan kembali relasi kita dengan Allah melalui kematian dan pengorbanan-Nya, “dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus” (Kolose 1: 20). Kedatangan Kristus ke dalam dunia telah terjadi, dan karya Salib-Nya telah selesai, tetelestai. Kita sebagai orang-orang yang telah bebas dipanggil justru untuk menjadi agen-agen pembebasan, agen-agen perdamaian, para murid pengikut Sang Guru nan radikal: Bukan mewartakan kebencian dan ketakutan, namun mewartakan berita tentang anugerah dan damai sejahtera yang seutuhnya; membebaskan yang terbelenggu, membebat yang terluka; menghadirkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, damai sejahtera, kasih yang universal, lintas batas, tanpa sekat; membangun jembatan alih-alih membangun tembok. Kita dipanggil sebagai pewarta anugerah Allah hingga seluruh kaum di muka bumi ini mengalami damai sejahtera yang seutuhnya, kembali kepada harkat dan martabatnya yang sejati, menjadi kawan sekerja Allah di dalam pelataran-Nya, bersekutu bersama-sama dengan-Nya selama-lamanya di Taman Perdamaian nan kekal itu. Mari terus berjuang menghadirkan kerajaan-Nya di bumi seperti di sorga, sekarang ini, sampai selama-lamanya.

Penutup

Saya teringat kisah tentang Sarni (bukan nama sebenarnya), seorang ibu rumah tangga yang kami jumpai di dalam perayaan Natal di bantaran pembuangan sampah di dekat gereja kami dahulu di kawasan Nginden Intan. Pada malam Natal itu, kami sekelompok anak-anak muda bertekad untuk merayakan Natal dengan cara yang berbeda. Kami mengadakan persekutuan bersama dengan warga para pemungut sampah dan barang-barang bekas di area yang tidak jauh dari gereja terbesar di Indonesia di kota Surabaya. Di sanalah kami mengenal sosoknya. Singkat cerita ibu ini tidak lama kemudian ditinggalkan oleh suaminya untuk selamanya. Karena membutuhkan pekerjaan, ibu ini datang ke persekutuan kami, dan pada akhirnya boleh membantu untuk bekerja membersihkan bangunan gereja yang berupa ruko tiga lantai yang kami miliki. Ia juga hadir sesekali di dalam ibadah kami. Namun setelah beberapa lama, ia kembali ke kampung halamannya bersama-sama dengan putraputrinya. Kami tidak pernah bersua lagi. Tapi setidaknya kami berdoa, kiranya benih-benih cinta kasih Ilahi nan sederhana itu akan tetap tumbuh, dan suatu saat akan dewasa dan menghasilkan buah. Kalaupun tidak, kami sudah bersyukur dapat menyatakan cinta-Nya yang tanpa pamrih itu kepadanya. Natal adalah tentang kita, bukan lagi tentangku, atau tentangmu. Natal adalah tentang Dia yang menyatakan Diri-Nya di dalam kita, supaya kita meneladani cinta kasih-Nya yang tak terbatas itu. Selamat merayakan Natal untuk kita semua! Christ for all, all for Christ. (MR)

 

 

Pdt. Andi O. Santoso

Penulis buku Live Simply Leave Legacy

IG: @andiosville

 

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2019 GKMI NETWORK

or

Log in with your credentials

Forgot your details?