Lukas 2 : 10-14

 

Mulai dari akhir Oktober, awal November, suasana Natal mulai terasa di sekitar kita. Pernak-pernik hiasan, lagu-lagu, latihan-latihan, dan panitia Natal gereja mulai bekerja giat. Terasa benar “Christmas is coming” . Seorang teman berkata: “Suasana hati tuh rasanya seneng kalau Natal”. “Kenapa?” saya bertanya. “Libur panjang, pulang kampung, keluarga kumpul, dan jangan lupa dapat THR, juga bonus akhir tahun…”. Ada betulnya juga perkataan kawan ini. Setidak-tidaknya semua itu terasa meyenangkan di tengah melimpahnya kabar “sampah” di sekitar kita. Natal membawa kabar manis, kabar baik, di antara kabar buruk yang mengepung kita akhir-akhir ini.

Harus diakui carut marut pilpres, yang masih tahun depan tetapi hebohnya telah terasa hari ini, bahkan sesungguhnya telah dimulai beberapa tahun lalu, dan menjadi begitu memualkan. Sengitnya pertarungan, pekatnya ambisi, seolah menjadi amunisi permusuhan yang makin lama makin merusak kewarasan. Bagaimana tidak, beberapa tahun belakangan ini  kita dibombardir dengan kabar hoaxes, narasi-narasi pembodohan, politisasi agama, penafsiran-penafsiran yang  terang-terangan memunculkan gagasan yang arogan, sempit, bahkan radikal. Tanpa tedeng aling-aling menarik garis tegas, bahkan mendirikan tembok-tembok dan menyekat-nyekat manusia sedemikian rupa. Politik identitas telah melahirkan kebencian yang begitu merusak kehidupan. Beberapa teman masa kecil tidak lagi bersikap sama, beberapa saudara kehilangan kehangatannya, menjadi asing dan canggung. Bahkan ada semacam ketegangan laten dalam hubungan keseharian. Kita sungguh butuh sesuatu yang adem, sejuk, membawa ketenteraman dan sukacita. Methentheng terus itu melelahkan. 

 

Pesan Universal Natal

Oleh karena itu ketika membaca teks ayat 10: ”Kesukaan besar bagi seluruh bangsa”, maka ada semacam harapan untuk bangsa yang “methentheng” dan tersekat-sekat karena dampak-dampak nafsu kekuasaan yang tak terkendali. Karenanya menarik untuk dicermati jika teks kita merumuskan bahwa Natal ditujukan untuk seluruh bangsa; melampaui jarak dan sekat ciptaan manusia.  Dengan demikian teks ini memosisikan Natal sebagai pesan universal. Bahwa kehadiran Yesus ditujukan bagi seluruh bangsa tanpa kecuali, bukan hanya bagi segelintir orang, bangsa, atau umat.  Mengapa universal? Mengapa Natal ditujukan bagi semua bangsa? Apa yang ingin diungkapkan teks ini?

1.      Satu Tuhan untuk semua: bahwa Yesus Kristus Tuhan yang diperingai kelahiran-Nya ini datang untuk semua bangsa (Luk.2: 10-11). Gagasan ini diperkuat melalui pujian Simeon yang menyatakan hadirnya keselamatan dan terang bagi segala bangsa, “…bagi bangsa-bangsa lain.” (Luk.2 :32). Lebih jauh dalam perjalanan hidup Yesus,  dalam peristiwa di mana Yesus ditolak di Nazaret (Luk. 4: 26-27),Yesus mempertegas keberadaan-Nya bagi semua bangsa dengan mengangkat kisah Elia yang justru datang kepada janda di Sarfat Sidon; dan Elisa yang menyembuhkan Naaman seorang Siria.  Artinya, Tuhan memang ingin hadir untuk semua bangsa. Harus diakui bahwa gagasan satu Tuhan untuk semua bangsa adalah gagasan yang “dihindari” karena seakan melucuti harga diri suatu agama. Sementara diakui atau tidak, agama dalam keterbatasan dan ketersempitan pemikiran penganutnya telah mendefinisikan Tuhan sedemikian rupa, seolah Tuhan hanya dimiliki kelompok atau umat tertentu. Lebih jauh, isu-isu agama yang lahir dari penafsiran yang sempit hanya akan menghasilkan superioritas agama yang dengan mudah dikenali dari klaim-klaim: paling benar sendiri, paling unggul, paling suci, paling deket surga, dan lain-lain. Akibatnya orang lain selalu salah, umat yang berbeda adalah kafir, dan lain-lain. Dan dalam kehidupan yang majemuk, hal demikian hanya akan memicu pertentangan, perpecahan, dan permusuhan antarkelompok atau umat beragama; bahkan lebih parah lagi, bisa menghancurkan sebuah bangsa. Jangan heran jika perang yang paling sengit adalah perang yang disebut penganutnya sebagai “perang membela agama”. Menyedihkan. Oleh karenanya  gagasan yang dikemukakan teks menjadi penting dan relevan di tengah pergumulan bangsa melawan primordialisme. 

2.      Satu Karya untuk semua. Berkait dengan pernyataan Tuhan untuk semua, maka karya Juruselamat itu pun ditujukan untuk semua, yaitu keselamatan yang disediakan bagi semua bangsa (Luk. 2: 31).  Dalam peristiwa “penjala ikan menjadi penjala manusia”, para murid diminta untuk bertolak ke tempat yang lebih jauh (Luk. 5: 3) dan ke tempat yang lebih dalam (5:4). Hal ini menjadi simbolisme dari jangkauan yang lebih luas dalam hal pewartaan dan karya keselamatan.  Dalam banyak cara Injil menunjukkan bagaimana karya penyembuhan, pembebasan, dan keselamatan juga terjadi bagi bangsa-bangsa lain. Pertemuan dengan perempuan Samaria memperlihatkan bagaimana karya keselamatan disebarkan di daerah asing. Sebaliknya, Yesus menertawakan arogansi bangsa pilihan yang justru membuat mereka terjatuh (kecaman terhadap khoraizim, Betsaida, Kepernaum, dalam Luk. 10: 13-15). Bahkan  gambaran  Yesus akan jamuan dalam Kerajaan Allah dengan sangat jelas memperlihatkan bagaimana karya Tuhan itu tidak bersifat partikular tetapi universal : orang akan datang dari Barat, Timur, Utara, dan Selatan, lalu duduk makan. Dan malahan orang  yang merasa terdahulu akan menjadi orang yang terakhir (Luk.13: 29-30). Universalitas karya Tuhan ini melucuti partikularisme agama yang merasa bahwa Tuhan dan karya-Nya adalah miliknya sendiri, hanya untuk kelompoknya sendiri. 

3.      Satu kesukaan untuk semua. Di dalam gagasan satu Tuhan untuk semua, satu karya untuk semua, maka tentu akan muncul sukacita yang bisa dirasakan semua orang. Kesukaan menjadi obat dari segala kepedihan, luka, rasa sakit, yang lahir dari permusuhan, kebencian, peperangan, arogansi, juga superioritas. Kesukaan ini tentunya tidak berkait dengan hal-hal remeh temeh yang begitu rentan dan terbatas seperti kesenangan nafsu badani, uang, jabatan, kekuasaan, pesta pora, popularitas, dan lain-lain. Luk. 2: 14 menunjukkan bahwa dasar dari kesukaan besar adalah damai sejahtera. Kesukaan besar itu besumber dari karya Juruselamat secara utuh : personal-komunal, fisik-spiritual, sosial-politikal, vertikal-horisontal, sehingga damai sejahtera yang dirasakan itu tidak bersifat palsu dan rentan.   

Jadi dengan tegas teks menyatakan bahwa melalui Natal kehadiran Tuhan, karya-Nya, dan kesukaannya dapat dinikmati siapapun.  Melalui Natal diharapkan ada sesuatu yang lebih baik, lebih terbuka, yang bergerak dari partikular ke universal,  dimulai dari Yesus, diteruskan kepada kita semua, dan terus semakin meluas.

 

Jangan Takut

Untuk meneguhkan Natal sebagai pesan universal, maka para gembala dan penerima berita di masa kini harus membuang rasa takut. Ketakutan hanya membuat mereka dan kita bungkam,  diam tak bergerak.  Rasa takut itu menjadi hambatan untuk memercayai apa yang kita dengar.  Mengapa rasa takut mendapat perhatian khusus dalam narasi Natal? Bahkan bukan hanya bagi para gembala, tetapi juga bagi Yusuf dan Maria?  Karena berita yang mereka terima ini terlalu besar, melampaui pemahaman akan Tuhan dan agama.  Bahkan bagi kita di masa kini pun berita ini melampaui kapasitas pemahaman kita, yang tidak akan pernah final menggumulinya.  Sebab pesan Natal bukan hanya soal Tuhan yang jadi manusia dalam kerendahan, tetapi juga karena semua  gagasan  yang terdengar melawan partikularisme agama: Tuhan bagi semua, keselamatan bagi semua dan kesukaan bagi semua. Ini terlalu berbeda dengan apa yang dipegang selama ini. Gagasan Natal sebagai pesan universal seolah menertawakan “keistimewaan” kelompok tertentu dan memberikan arah beriman yang baru. Bukan sekedar beragama tetapi beriman dengan semangat kasih dan keadilan, beriman dalam damai dan keberagaman, beriman dan bersatu dalam karya kemanusiaan, beriman dengan memandang dan hidup berdampingan sebagai saudara dan saudari.    

Perubahan selalu menakutkan. Namun menjadi bagian dari perubahan sangat menantang keberanian kita sebagai penerima berita Natal di masa kini. Apakah kita berani mempertanyakan gagasan eksklusifitas yang membelenggu, berani bergerak dalam karya yang universal. Pengalaman Rasul Paulus menjadi cermin kita semua. Betapa sengitnya pergulatan yang dirasakan rasul Paulus menghadapi partikularisme agama. Namun dengan berani ia terus bergerak. Dalam Kristus dua pihak dipersatukan, tembok pemisah diruntuhkan (Ef. 2: 14). Oleh karena itu tidak ada lagi kelompok asing, pendatang, orang-orang jauh, tetapi semua kawan sewarga, bahkan anggota keluarga Allah (Ef. 2: 19).  Bahkan lebih jauh di dalam Kristus tidak ada lagi pembedaan karena ras, suku bangsa, status ekonomi sosial, gender, dan pembedaan pembedaan lain sepanjang bisa dibuat manusia (Galatia 3: 28). 

Natal pada akhirnya bukan soal hingar bingar selebrasi, tetapi lebih kepada pembaharuan pemahaman, pembaharuan karya, dan sukacita yang terbagikan, sampai terwujud masyarakat yang damai sejahtera.  Gagasan untuk menyatukan umat manusia sebagai sesama dan keluarga  dimungkinkan jika kita memulai dari diri sendiri.  Membongkar pemahaman yang sempit dan arogan terhadap liyan dan mulai meyakini bahwa Tuhan hadir dan berkarya bagi semua, membawa kesukaan besar bagi semua. Bahanakanlah melalui karya  pribadi maupun sebagai gereja. Selamat merayakan Natal.  Natal untukku dan natal untukmu, bahkan untuk semua bangsa. (MR)

 

*Pdt. Michael Salim

Gembala Jemaat GKMI Pati

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2019 GKMI NETWORK

or

Log in with your credentials

Forgot your details?