Tawangmangu, 20 – 22 Agustus 2018

 

Melaporkan sesuatu yang tidak seirama dengan perasaan kebenaran si pelapor tidaklah mudah; seperti yang pelapor alami saat ini dalam menulis laporan tentang reuni yang diselenggarakan oleh “anak-anak Jepara” yang sekarang sudah berusia lanjut – sekitar enam puluhan tahun ke atas, bahkan pesertanya ada yang berumur delapan puluh tahun.

Betapa sulit, karena tema yang dipilih oleh pemrakarsa reuni Jepara yang ke-empat ini berjudul : USIA INDAH !

INDAH??? Apanya yang indah? Dari fisik para pesertanya saja tidak manampakkan keindahan sama sekali. Wajah peot dan keriput sangat dominan di antara para peserta. Yang peserta lelaki sudah hampir “putus asa” menata rambutnya – dibelikan sisir seharga berapapun juga semir rambut sudah tidak mungkin menyisir dan menata rambut para orang tua ini. Belum lagi yang batok kepalanya sudah berganti bentuk tetapi tidak berfungsi sebagai helm! Apa lagi yang bisa ditata di kepala mereka, yang dahulu diwaktu muda bisa dibentuk mengikuti mode zamannya! Ditambah lagi dengan bentuk perut yang semakin tak terkontrol, bukan bentuk six-pack tapi zero-pack, buncit model Petruk-Gareng-Semar. Belum lagi penampakan peserta wanitanya yang rata-rata membuktikan tercukupinya bahkan berlebihnya nutrisi makanan yang dikonsumsi, sehingga menampilkan “body-body yang seperti itu”(ssst…tahu sendiri kan???). Padahal di kala muda “penampilan indah” mereka membuat para suami mereka terpikat dan mempersunting sebagai istri.

Oleh Panitia Reuni Jepara IV ini, peserta diminta untuk mengirimkan foto di waktu muda dan foto sekarang untuk dimuat dalam buku Kenangan Reuni Jepara IV, guna membandingkan bahwa peserta yang sekarang berusia lanjut berpenampilan peot dan keriput ini pernah juga imut, ganteng, dan cantik di masa muda mereka! Ini menunjukkan fakta yang realistis, yang merupakan keniscayaan bahwa setiap kita insan yang hidup di dunia akan menuju ke saat-saat ketika kemerosotan dan penurunan kondisi fisik kita akan terjadi dan tak bisa ditunda, lebih-lebih dihindari!

Dari sudut Firman Tuhan yang tertulis pada kitab Mazmur 90: 10 dan Pengkhotbah 1: 2, raja Salomo, seorang raja yang kaya raya dan semua keinginannya mungkin untuk dipenuhi selama hidup di dunia, pun sempat seakan-akan “berkeluh kesah” bahwa hidup ini kesia-siaan belaka adanya. Bahkan sisa umur hidup kalau mencapai lebih dari tujuh puluh tahun isinya hanya kesukaran dan penderitaan! Apa yang dikemukakan dalam Alkitab ini pun sebuah keniscayaan yang harus dihadapi setiap manusia. Belum lagi uzurnya tubuh ini karena faktor usia ketika organ-organ dalam tubuh tidak lagi menunjang, metabolisme dalam tubuh semakin tidak sempurna seperti di kala masih muda, membuat pertahanan tubuh lemah sehingga mudah terserang berbagai jenis penyakit: penyakit jantung, pengeroposan tulang, kanker, stroke, penyakit hati, ginjal, lambung, asam urat, dan lain-lain, menggerogoti tubuh yang semakin renta ini.

Pada hari pertama, renungan malam dibawakan oleh salah seorang peserta reuni. Dia menceritakan bahwa Tanah Lot, Bali, merupakan tempat wisata yang sangat terkenal. Lebih-lebih ketika menjelang matahari terbenam, berbondong-bondong orang datang ke Tanah Lot hanya untuk menyaksikan indahnya temaram matahari menjelang tenggelam di ufuk Barat khatulistiwa. Memerahnya pancaran sinar matahari yang begitu indah mempesona membuat kagum siapa saja yang melihat ciptaan Tuhan yang sangat fenomenal ini. Mengambil analogi dari indahnya matahari menjelang tenggelam di ufuk barat, pembawa renungan menerapkannya dengan indahnya seseorang di usia lanjut yang akan berakhir dalam meniti hidup di dunia ini karena telah berhasil mengikut Tuhan dengan setia. Hari itu bertepatan dengan meninggalnya seorang anggota jemaat GKMI Jepara sekaligus seorang yang setia mengikut dan melayani gereja Tuhan di GKMI Jepara semasa hidupnya. Hidupnya bisa dijadikan contoh indahnya seorang yang mengikut dengan setia yang dipanggil Tuhan. Orang-orang berusaha datang kepada keluarga yang ditinggalkannya untuk menyatakan penghormatan terakhir atas meninggalnya orang yang bersangkutan. Dia patut berbahagia karena orang menghargai dan menghormatinya (Wahyu 14: 13). Alangkah indahnya seorang percaya mati karena dia juga berharga di mata Tuhan (Mazmur 116: 15). Hal ini berbeda dengan meninggalnya orang yang tidak setia kepada Tuhan. Orang yang hidupnya tidak menunjukkan kebaikan bagi sesamanya, bahkan kalau beragama pun hanya pulasan belaka, akan sangat tidak dihargai. Bahkan ada cerita waktu sang istri diberitahu tentang kematian suaminya, dia bersenang  hati dan berjoget di tengah jalan! Sangat tidak indah bukan? Ini kisah nyata.

Jadi pemahaman dan pengertian INDAH pada tema “Usia Indah” dalam Reuni Jepara ini mengandung pengertian berbeda dengan “indah” secara duniawi atau fisik. Untuk memahaminya, kesaksian salah seorang peserta reuni ini bisa disimak dan direnungkan:

Mengalami Tuhan dan Memenuhi Panggilan-Nya di Usia Lanjut

“Pada bulan Oktober 2011 saya jatuh terpeleset di kamar mandi ketika sedang memandikan cucu. Saya tidak bisa berdiri lagi karena tungkai saya patah dan lutut yang sudah menderita arthritis selama bertahun-tahun menjadi berantakan. Menurut dokter, saya harus digips dulu selama 4 bulan untuk merekatkan tulang yang patah dan kemudian saya menjalani operasi TKR atau penggantian bonggol tulang dengan alat dari titanium.

Setelah menjalani operasi empat bulan kemudian, saya mulai belajar untuk berjalan kembali, yang merupakan suatu proses yang lama dan luar biasa sakitnya. Namun saya tetap berusaha terus walaupun menanggung rasa sakit. Saya tidak mau tergantung pada orang lain dan tetap berada di kursi roda. Setahun penuh tiada hari tanpa sakit. Saya sempat depresi berat, sehingga akhirnya anak saya memberi saya sebuah komputer dan menyuruh saya belajar komputer secara mandiri. Anak-anak maupun menantu tidak ada yang mau mengajari, karena mereka tahu kalau saya diberi tantangan, saya akan berusaha sekuat mungkin untuk mengatasinya. Akhirnya saya berhasil menggunakan komputer di usia 66 walaupun walaupun gagal berkali-kali.

Setelah sembuh dan bisa berjalan dengan baik kembali, suatu malam ketika saya sedang mendengarkan acara “Sharing and Prayer” di sebuah radio Kristen, ada seorang ibu yang meminta untuk didoakan, karena dia lumpuh. Tiba-tiba saya merasakan dorongan yang kuat sekali di dalam kalbu saya, yang mengatakan “Minta nomor telpon ibu itu, dan layani dia sampai akhir”.

Saya pun menelpon ke stasiun radio tersebut dan meminta nomor telpon ibu itu. Namun saya pun tidak melakukan sesuatu apapun, sampai beberapa hari kemudian ibu itu menelpon kembali.

Dan kembali desakan itu saya rasakan, ”Layani ibu itu sampai akhir”. Saya pun mulai membantah: “ Tuhan, apakah ini tuntutanmu kepada saya atau hanya karena saya kasihan saja? Apalah saya ini, saya seorang awam, tidak pernah sekolah teologia maupun konseling. Bagaimana saya harus melayani seseorang tanpa mempunyai latar belakang pelayanan seperti itu sama sekali? Kalau memang ini kehendak-Mu Tuhan, berilah saya suatu tanda”.

Suatu keajaiban pun terjadi, doa saya tiba-tiba berubah, saya berbicara lama sekali dengan Tuhan di dalam bahasa Aram. Saya pun menyanyikan dua lagu di dalam bahasa itu. Saya menduga bahwa itu bahasa Aram, karena saya berkali-kali mengatakan kata “Abba”. Perlu diketahui bahwa saya bukan orang yang sering berdoa menggunakan bahasa Roh/glossolali.

Keesokan harinya saya penasaran dan saya mencari di YouTube tentang bahasa Aram, dan ajaib, saya menemukan satu dari dua lagu yang saya nyanyikan, yaitu “Lord’s Prayer (Aramaic)” yang diunggah oleh Ratheesh Mathew, gambarnya tangan yang berdoa.

Maka mengertilah saya, bahwa saya memang dipanggil untuk melayani, walaupun tubuh ini sudah lemah dan usia sudah 66 tahun.

Saya mulai menelpon ibu itu dan menanyakan alamatnya, kemudian saya kunjungi dia. Ternyata keadaannya sangat memprihatinkan. Dia sama sekali tidak dapat berjalan dan sehari-harinya sendirian di rumah. Anak satu-satunya perempuan berusia 45 tahun, tidak menikah dan bekerja sebagai pemasaran properti, sehingga kalau dia tidak bisa menjual rumah, dia pun tidak mendapat komisi. Saya pun mulai mencari dana buat ibu itu. Saya juga serukan permohonan bantuan di radio. Dan ajaib, bantuan pun mengalir dari orang-orang yang tidak mengenal saya sama sekali. Saya bisa memasok ibu itu dengan diapers, underpad, susu dan vitamin sampai akhir hidupnya. Bahkan biaya untuk pemakaman, peti mati, mobil jenazah, tukang, dan sebagainya, semuanya terpenuhi dari dana bantuan. Dan saya baru mengerti maksud Tuhan untuk melayani ibu itu sampai akhir bukan hanya untuk jasmaninya, melainkan juga untuk jiwanya. Ketika saya menanyakan apakah sudah ada Pendeta yang datang, dia menjawab belum ada. Saya melihat bahwa waktu ibu itu tidak lama lagi, dan saya tanya apakah mau kalau saya layani. Mereka mau dan saya persiapkan ibu itu untuk menghadap Penciptanya dan saya ajak berdoa. Selesai berdoa, ibu itu koma dan tidak bangun lagi sampai akhirnya.    

Ibu itu adalah awal pelayanan saya. Sejak itu saya mulai mendapat pelayanan-pelayanan yang lain, yaitu pendampingan orang yang sakit keras seperti kanker, lumpuh, dan sebagainya. Saya pun mulai dicari orang untuk konseling mengenai masalah pernikahan dan lain sebagainya. Bahkan melalui Facebook saya melayani seorang lesbian dari luar pulau, yang terjerat dalam hubungan sesama jenis, rokok, minuman keras, dan narkoba. Dia pun seorang penari erotis. Satu setengah tahun saya melayaninya sebelum akhirnya dia memutuskan untuk melepaskan satu persatu ketergantungannya, juga hubungan tak wajarnya. Sekarang dia melayani di gereja sebagai pemusik dan sudah menikah.

Sementara saya melayani, saya mulai memperlengkapi diri dengan belajar konseling. Sungguh aneh, apa yang saya lakukan dan katakan sebelum saya belajar konseling, ternyata sesuai dengan apa yang diajarkan dalam konseling. Ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh seorang Pendeta gereja Baptis sahabat saya, bahwa apabila Tuhan memanggil, pasti Tuhan akan memperlengkapi saya yang tidak tahu apa-apa ini.

Banyak sekali keajaiban yang tidak masuk akal manusia terjadi dalam pelayanan saya, seperti suatu ketika saya merasa harus memberi seseorang beras, ternyata hari itu mereka sudah tidak mempunyai beras lagi.

Pelayanan saya pun bertambah dengan memimpin Paduan Suara di gereja dan mengurusi Ibadah Senior. Saya juga ikut di pelayanan baksos pengobatan dari gereja dan baksos konseling dengan Yayasan Busur Emas yang bergerak di bidang konseling dan coaching.

Namun, ada satu syarat yang dulu diminta Tuhan dari saya, yaitu saya tidak boleh bergabung secara resmi dengan masuk dalam kepengurusan apapun. Saya hanya boleh melayani dan tidak boleh terkenal. Suatu saat saya dimasukkan sebagai PIC  Padus dan semua komisi mau diresmikan dan diberkati di ibadah minggu. Saya sudah menolak dan tidak mau, tetapi tetap dicantumkan. Hari Jumat, tangan saya tiba-tiba sakit sekali dan tidak bisa diangkat sama sekali, sehingga saya tidak bisa ganti pakaian. Akhirnya minggu saya tidak pergi dan tidak diberkati dan, yang paling aneh, setelah jam ibadah selesai, rasa sakit itu hilang. Setelahnya saya periksakan ke dokter tulang, juga tidak ada yang salah dengan tulang lengan saya sama sekali.

Tahun 2015 saya pasang ring, tahun 2016 operasi TKR lagi lutut kiri. Tahun 2017 terkena HNP (syaraf kejepit) karena tulang belakang banyak yang rusak akibat dulu menggendong suami tiga kali sehari ketika dia sakit stroke selama satu setengah tahun. Sehingga saya tidak kuat untuk berjalan, berdiri, maupun duduk dalam waktu lama karena terasa sakit. Tapi semuanya tidak menghalangi keinginan saya untk melayani sepanjang saya masih bisa dan Tuhan masih mau pakai.         

Tahun 2017 dua kali tiba-tiba saya tidak bisa berjalan dan tulang punggung sakit sekali. Dari hasil MRI kelihatan bahwa tulang belakang saya pada retak dan rusak, sehingga saya tidak bisa lagi melakukan hal yang berat dan terpaksa pelayanan sebagian saya lepaskan. Sekarang saya hanya memimpin kelas pemulihan hati yang terluka yang merupakan kerjasama antara Yayasan Busur Emas dengan Worldwide Discipleship Association dari USA, disamping penerjemahan buku-buku yang dipakai untuk kelompok pemulihan di Indonesia. Sebulan sekali pihak USA dan para leaders di Indonesia mengadakan meeting lewat sarana Zoom untuk penyesuaian program.

Demikianlah yang dapat saya bagikan. Usia lanjut bukan akhir dari segalanya. Kita masih bisa berbuah dan bekerja untuk Tuhan selama kita ikhlas mendengarkan panggilan-Nya.

                                                 

Keindahan di dalam Tuhan

Dari kesaksian tersebut di atas tercermin indahnya usia lanjut yang masih dipakai untuk pekerjaan Tuhan. Indahnya usia tua tidak bisa kita lihat dari perwajahan fisik kita, tetapi hati yang telah mampu mengucap syukur dan menaikkan pujian kepada Tuhan atas karunia hidup yang diberikan kepada kita.

Sering, kata-kata seperti “telah dipanggil Tuhan” atau “telah kembali kepada Bapa di sorga” kita temui apabila seseorang meninggal dunia. Kematian adalah titik batas kehidupan fana di dunia dengan kehidupan baka di suatu tempat lain. Kita orang percaya menunggu panggilan untuk kembali kepada Bapa di sorga. Dan sorga itu adalah indah dan sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan keindahan dunia di manapun selagi kita hidup. Bukankah menantikan panggilan untuk datang ke suatu tempat yang sangat indah adalah saat yang indah (exciting, bahasa Inggris) juga. Sampai ada lagu yang seyogyanya dilagukan dengan irama yang gembira dan bersemangat: “Nanti ‘ku pulang ke sorga//di sana bersama Tuhanku//dalamnya ada t’rang yang besar//nanti ‘ku pulang ke sorga….”

Jadi rupanya ada dimensi tertentu dalam cara melihat keindahan usia lanjut ini. Yang jelas, dimensi rohani tidak bisa disejajarkan dengan dimensi fisik atau jasmani sehingga yang pasti orang yang bisa melihat indahnya usia lanjut dari segi dimensi jasmani semata. Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa manusia itu hidup bukan hanya dari makanan jasmani semata tetapi juga makanan rohani

Seseorang yang mampu melihat indahnya usia lanjut berarti telah cukup menikmati makanan rohani disamping makanan jasmani, terbukti fisiknya mampu hidup sampai usia lanjut karena kecukupan makanan yang mendukungnya hidup hingga usia lanjut.

Jadi, seberapa mampu kita memandang usia lanjut itu indah tergantung dari seberapa dalam dimensi rohani setiap kita secara individuil memandang kehidupan yang penuh misteri ini. (MR)

 

Pelapor, salah seorang peserta Reuni Jepara IV

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2018 GKMI NETWORK

or

Log in with your credentials

Forgot your details?