HAWA merasa menjadi manusia yang paling beruntung.
Ia berada di tempat yang sangat nyaman, indah permai.
Dia mempunyai pasangan yang sepadan, Adam, yang selalu mendampinginya.

“Kebahagiaan apalagi yang tidak kumiliki?” tanyanya retoris kepada diri sendiri.
Binatang di darat, yang di udara, yang berada di laut… semua dikuasainya bersama Adam. Demikian pula tumbuhan yang berada di muka bumi ini!

Bukan hanya itu, dia bersama suaminya bisa bercengkerama dan bercakap setiap waktu dengan Sang Pencipta.
Hawa tak punya pesaing.
Tak ada perempuan lain yang akan menggoda Adam.

Tapi kebahagiaan itu ternyata tidak dia nikmati selamanya, gara-gara “hasrat” atas satu buah terlarang. Meski sudah diwanti-wanti Sang Khalik agar tidak dimakannya, dia langgar!

Banyak buah yang tersebar di taman itu, tapi pikirannya malah tertuju kepada yang dilarang.

Hasrat, keinginan yang kuat, kerap mengalahkan tembok-tembok pembatas.

*

Sejatinya hasrat itu netral.
Dia bagaikan pisau buah.
Bermanfaat ketika untuk mengupas kulit mangga.
Tapi membahayakan saat digunakan untuk ngancam tetangga.
Hasrat menjadi “hasrat gila” ketika membahayakan dirinya dan atau orang lain.

“Hasrat gila”  mengalahkan akal sehat,
Dia mampu mengubur dalam-dalam harkat, derajat bahkan kepintaran manusia.
Seorang dosen bisa tertipu gara-gara pengin cepat kaya.

“Hasrat gila”  mengalahkan rasa malu.
Norma-norma yang selama ini dikenal, ditabraknya.
Seorang majikan bisa tergoda dengan pembantunya.

“Hasrat gila”  bisa menjadikan jahat.
Lupa jikalau Tuhan terus melihat.
Ingat kisah Daud kepada Batsyeba?
Kurang apa Daud? Dia dipilih Allah sejak pipinya masih kemerah-merahan.
Tapi saat Daud tenggelam dalam “hasrat gila”, dia terlena.

*

Siapapun kita bisa jatuh pada “hasrat gila”.
Jangan pongah.
Jangan bermegah terlebih dulu.
Kita bisa seperti Hawa. Juga Daud!
“Hasrat gila”  datangnya tiba-tiba, ketika semua sedang terbuai.

Karena “hasrat gila”  kita bisa “menelanjangi” lawan jenis di depan kita, walau mereka berpakaian rapat.
Jasnya bisa terbuka karena mata kita.
Gaunnya bisa lepas sebab imajinasi kita.
Gara-gara “hasrat gila”, kita bisa mencoreng wajah sendiri.

“Hasrat gila”  kerap nyata terlihat pada relasi-relasi bodoh.

Semua orang berpeluang terperosok dalam “hasrat gila”.
Bisa raja, profesor ataupun gubernur.
Siapapun. Entah tokoh masa lalu, masa kini, atau masa datang.
Bukankah tak ada hal yang baru di bawah kolong langit ini?
Semua berulang.
Berulang melakukan kebodohan.

Seorang pemuda Timur Tengah yang lembut hati, pada abad pertama pernah berkata, “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.”

*Setio Boedi

 

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2019 GKMI Network

Log in with your credentials

Forgot your details?