(Percakapan Imajiner Dimas dan Win)

 

“Lho, kamu masih nyekar (tabur bunga di pusara orang yang sudah meninggal) to Mas?” sergah Win, teman sekolah saya di SD, ketika melihat saya sedang nyekar di pusara ayah dan nenek saya. “Iya, memang kenapa?” balik saya bertanya kepadanya. “Nggak apa-apa kok, sekedar bertanya. Saya kira orang Kristen tidak boleh nyekar, katanya kalau nyekar itu menyembah orang yang sudah mati,” jawabnya kalem. “Lagipula, lanjutnya, “nyekar itu kan tradisinya orang Islam. Berarti kalau orang Kristen nyekar, dia sedang melakukan tradisinya orang Islam.”

Ah, ini pertanyaan dan pernyataan yang menarik, pikir saya. Baru kali ini saya bertemu dengan orang yang bertanya langsung dan vulgar seperti itu. Saya tahu dia jujur mempertanyakan hal itu. Sejenak saya hampiri Win, “Kalau ada waktu, kapan kita bisa ngobrol, sekalian ngobati kangen dan bernostalgia pengalaman di SD dulu?” saya berkata sambil setengah memohon. “Baik, nanti aku kabari,” jawabnya sambil pergi. Kami berpisah, namun saya menyimpan segudang pertanyaan yang selama ini tidak pernah saya pikirkan dengan serius berkaitan dengan apa yang disampaikan Win.

Sejak kecil keluarga saya memang sudah terbiasa dengan tradisi nyekar. Pada saat keluarga berkumpul, kebiasaan yang tidak pernah terlewatkan adalah nyekar. Bagi saya, nyekar adalah bagian dari keterlibatan hidup di tengah masyarakat yang majemuk. Nyekar adalah sebuah budaya, dan budaya perlu diinterpretasikan sesuai dengan muatannya, karena pada dasarnya budaya adalah sebuah pementasan oleh manusia yang dilakukan di atas panggung dunia. Bagaimana saya menginterpretasikan tergantung pada keyakinan saya. Kalau saya orang Kristen, saya akan menafsirkan budaya secara Kristen, demikian pula Win, teman saya tadi, akan menafsirkan budaya secara Islam, karena dia beragama Islam. Maka bagi saya tidak ada budaya Kristen, atau budaya Islam, yang ada adalah budaya yang diformulasikan, ditafsir, diekspresikan, dilakukan, dan dipelihara berdasarkan keyakinan masing-masing.

Saya menunggu kabar dari Win selama hampir sepanjang hari. Kabar itu akhirnya datang dan kami janji ketemuan di suatu tempat.

Saya dan Win memang bersahabat sejak kecil. Sikap kritisnya sudah nampak di awal-awal dia masuk sekolah. Segala hal dipertanyakan. Saya heran, ada saja hal-hal yang ditanyakan, yang seringkali tidak terpikirkan orang lain. Selama enam tahun mengenyam pendidikan SD, tak satu pun juara kelas lepas dari tangannya. Saya senang bersahabat dengan dia. Tetapi kami harus berpisah semenjak masuk SMP. Terakhir saya mendengar dia bekerja pada sebuah Bank bergengsi di salah satu kota besar di Indonesia.

“Hai Mas, sudah lama?” sapanya begitu melihat saya. “Belum, kira-kira 10 menit yang lalu,” jawab saya jujur. Dari ketepatan waktu dia datang, saya dapat menebak dia adalah orang yang disiplin. “OK, karena aku yang mengajakmu, maka aku yang akan traktir,” sambil berkata demikian saya memesan dua gelas jus jambu biji kesukaan saya.

Sore itu kami ngobrol banyak hal, mulai dari pekerjaan, keluarga dan masalah-masalah yang lagi hangat, sampai akhirnya tibalah pada pembicaraan yang saya tunggu-tunggu.

“Win, aku penasaran dengan perkataanmu kemarin,” saya membuka pembicaraan, “itu lho tentang nyekar. Kamu bilang kalau nyekar itu tradisinya orang Islam, sebenarnya menurut Islam, makna nyekar itu apa sih?”

“O, itu Mas. Saya juga tidak tahu-tahu banget sih, cuma yang saya tahu nyekar itu dilakukan umat Islam, biasanya sebelum bulan suci Ramadan dan digolongkan ke dalam ziarah. Ziarah kepada orang yang sudah mati merupakan sunnah yang dahulu pernah dilarang, namun kemudian larangan itu dicabut oleh Nabi Muhammad SAW.

Manfaat dari ziarah ini antara lain untuk mengingat tentang kematian sehingga diharapkan sepulang dari ziarah kita lebih serius dalam mempersiapkan kematian itu dengan meningkatkan kedekatan kita kepada Tuhan dan memperbanyak bekal untuk dibawa ke akhirat. Tetapi juga ada larangannya Mas, misalnya tidak boleh minta berkah dan bantuan dari penghuni kubur, seperti minta kaya, minta jodoh, petunjuk nomor buntut dan lain-lain, atau salat menghadap kuburan dan memberi sesajen, makanan atau pemberian kepada roh yang ada di kuburan.”

“Jadi artinya nyekar hanyalah sebuah tradisi?” saya bertanya ingin tahu. “Sebenarnya tradisi itu tidak disebutkan di dalam Al-Quran maupun dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Kami tidak menemukan dalil bahwa Nabi Muhammad SAW atau para sahabat melakukan nyekar atau nyadran serta berziarah ke makam keramat menjelang bulan Ramadan, sebagaimana kami juga tidak mendapatkan dalil yang memerintahkan kami untuk berziarah pada hari raya Lebaran. Itu semua merupakan tradisi yang tidak ada kaitannya dengan perintah syariah Islam yang lurus. Untuk itu hendaklah apa yang dilakukan saat berziarah harus sesuai dengan petunjuk Nabi Muhammad SAW. Salah satunya adalah mengucapkan salam kepada ahli kubur dengan salam yang diajarkan oleh  Nabi Muhammad SAW : Assalamu alaikum ya ahlad diyari minal mu’minin wal muslimin, wa inna insyaa Allahu bikum lahiqun. As’alullaha lana wa lakum al-‘afiyah (Assalamu ‘alaikum wahai penduduk kuburan orang beriman dan orang Islam, Inysa Allah kami akan menyusul kalian. Aku meminta bagi kami dan kalian keselamatan).

“Wah, ternyata pengetahuanmu luas juga ya,” saya menyahut. “Itu buktinya kamu bisa jelasin dengan baik dan menurut saya cukup dalam,” saya melanjutkan. “Jarang ada orang yang dapat menjelaskan on the spot seperti ini kalau dia tidak memahami dengan baik,” saya menimpali lagi. “Lalu menurut kamu nyekar itu apa Mas?” dia balik bertanya. Saya sudah menduga, dia akan menanyakan hal yang sama kepada saya.  “Bagi saya pribadi, nyekar hanyalah sebuah tradisi yang tidak punya makna teologis apa-apa. Kami sekeluarga melakukan dalam rangka mengenang semua perbuatan ayah dan nenek semasa mereka hidup. Walaupun mereka sudah tidak bersama-sama kami, tetapi nilai-nilai hidup mereka tetap bersama kami. Bagi saya pribadi, tradisi nyekar adalah kebudayaan dimana totalitas karya manusia secara obyektif diekspresikan. Melalui nyekar saya mencoba melihat manusia secara utuh.” Sewaktu saya berbicara demikian, dahi Win mengeryit, tanda bahwa dia mencoba memahami perkataan saya. “Dimas, kamu kayak filsuf saja, aku nggak ngerti apa yang kamu katakan,” sahutnya.

“Sebenarnya sederhana sih, Win,” saya melanjutkan, “secara prinsip kebudayaan itu harus diinterpretasikan supaya saya dapat memahami orang lain lebih obyektif, baru kemudian memahami diri sendiri. Dari budaya nyekar saya menginterpretasikan bahwa semua manusia merindukan sebuah tempat yang nyaman ‘di sana’. Berbagai upaya dilakukan untuk memperoleh kenyamanan tersebut, bahkan ada beberapa orang mempunyai keyakinan bahwa doa orang yang masih hidup dapat menolong orang yang sudah mati mendapatkan kenyamanan itu.”

“Masalahnya, bagaimana kamu merasa yakin dengan interpretasimu?” sekarang dia yang bertanya dengan nada ingin tahu. Wadhuh, matilah saya. Saya tidak mengharapkan dia bertanya seperti itu. Saya hanya berharap dia manthuk-manthuk dan mengiyakan apa yang saya katakan. Sekarang saya harus berpikir untuk menjawab pertanyannya. Dalam hati saya berkata,”Busyet deh, kritis amat orang ini.” Untungnya saya ingat beberapa hal. “Jadi begini Win,” saya mencoba menjelaskan, “kebudayaan itu dapat diinterpretasi dari beberapa disiplin ilmu. Misalnya, psikologi akan menginterpretasikan kebudayaan berdasarkan tingkah laku kejiwaan si pelaku kebudayaan, atau politik akan menginterpretasikan kebudayaan berdasarkan sistem kekuasaan yang menyertainya, atau ekonomi akan melihat kebudayaan berdasarkan keuntungan yang diperoleh secara ekonomis, atau teologi akan menginterpretasikan kebudayaan berdasarkan doktrin-doktrin sistematis dan etis dari teologi tersebut.” Saya diam sejenak untuk melihat reaksi Win. Ternyata dia tidak bereaksi apapun, maka saya melanjutkan, “menurut pendapat saya, walaupun nyekar adalah kebudayaan, saya tidak akan mengintrepretasikannya dari sudut pandang keyakinan saya secara subjektif. Saya hanya akan melihat nyekar sebagai kebudayaan obyektif, artinya melihat bagaimana manusia hidup di dunia ini dengan segala ekspresinya, supaya melaluinya saya berbagi cara hidup dan cara pandang yang oleh orang lain dipandang bernilai. Demikian sebaliknya saya mendapat nilai dari cara hidup dan cara pandang orang lain.” Kali ini Win manggut-manggut dan manthuk-manthuk. Saya lega dibuatnya. Tetapi saya belum cukup puas untuk tidak menjelaskan lebih banyak lagi, “Kalau menurut saya Win, Tuhan itu Pencipta Budaya. Sekali lagi kita harus pahami budaya sebagai ekspresi bagaimana manusia hidup di dunia ini yang dinyatakan dalam bentuk seni dan gaya hidup. Sebagai Pencipta Budaya, Tuhan bermaksud supaya manusia semakin takjub dan menyembah Allah di dalam dan melalui kebudayaan. Jadi sebenarnya budaya manusia tidak boleh secara egoistis melulu diperuntukkan bagi manusia, melainkan harus ideal bagi kepentingan Tuhan. Maka bukan Tuhan yang eksis untuk kepentingan ciptaan-Nya, melainkan ciptaanlah yang eksis demi kepentingan Tuhan. Oleh karena itu, budaya seharusnya membawa manusia semakin menyembah Allah”.

Tidak terasa hampir dua jam kami ngobrol. Kami habiskan jus jambu sebelum Win berkata, “OK Mas, aku senang kita bisa ngobrol sore ini. Aku berharap lain waktu kita bisa berdiskusi lagi. Pemaparanmu membuat aku berpikir kembali tentang hubungan agama dan kebudayaan. Apakah agama itu budaya, atau budaya itu agama? Bolehkah kita memperlakukan kebudayaan sebagai agama, atau memperlakukan agama sebagai kebudayaan? Bolehkah kita membudayakan agama, atau mengagamakan budaya?”

Kami harus mengakhiri pembicaraan yang menarik sore ini. Namun bagi saya pembicaraan itu menyisakan beberapa pertanyaan seperti yang disampaikan Win sebelum kami pulang. Aku berharap lain waktu bisa mendiskusikan hal-hal tersebut…. (MR)

*Pdt. Heru Himawan

 

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2019 GKMI Network

Log in with your credentials

Forgot your details?