Neno Warisman adalah pesohor. Seperti laiknya pesohor, dia termasuk pencipta berita (news maker). Apapun yang dilakukannya bisa menjadi berita. Apa yang terjadi atas dirinya pun bisa diangkat jadi warta.

Neno mulai banyak dikenal di masyarakat Indonesia sebagai pekerja seni, vokal (penyanyi) maupun film di tahun 1980-an. Nama Neno bagi anak-anak milenial mungkin kurang begitu dikenal sebagai seorang artis. Namun buat generasi kelahiran tahun 1960-an atau 1970-an, dia populer. Di film memang tak banyak judul yang dilakoninya, tapi peran yang dia mainkan sangat berkontribusi atas berhasilnya film-film tersebut. Sebut saja “Sayekti dan Hanafi” (TVRI) dan “Semua Sayang Kamu” (Layar Lebar) menjadi film yang banyak diperbincangkan di media kala itu.

Justru di dendang tarik suaralah, nama Neno Warisman berkibar-kibar. Di masa itu sedang ngetop-ngetopnya lagu pop mendayu-dayu, melankolis. Bagi salah seorang pejabat Orba di Departemen Penerangan, lagu-lagu itu disebut sebagai “lagu cengeng”.
Di tengah kondisi seperti itulah muncul genre lagu yang disebut “pop kreatif”. Orang-orang muda banyak terjun di sana. Nama-nama baru muncul di blantika musik ketika itu.
Sebut saja Fariz Rustam Munaf, Deddy Dhukun, Dian Pramana Putra, dan sebagainya.
Di antara mereka, ada nama yang menjadi judul tulisan ini: Neno Warisman.

*

Neno di tahun 1980-an masih berusia 20-an tahun. Dia kalau tampil di TVRI (satu-satunya channel TV saat itu) segar, cerah ceria. Gerakannya lincah mengimbangi lengkingan suara jernihnya kala itu.

Ada banyak lagu yang disuarakannya, dan banyak pula digemari oleh masyarakat. Sebut saja “Matahariku” (1984) dan “Kulihat Cinta di Matanya” (1986). Yang terakhir ini adalah kompilasi soundtrack film dengan judul sama yang dibintangi oleh Meriam Bellina. Kalau di film, lagu-lagunya disuarakan oleh Meriam. Sedangkan untuk versi kaset dinyanyikan Neno. Di program-program musik TVRI saat itu (seperti “Aneka Ria Safari”, “Selecta Pop”, “Album Minggu Ini”) Neno kerap muncul, mendendangkan lagu ini. Bila ada waktu longgar, silakan Anda buka YouTube!

Dari sekian lagu yang dinyanyikan Neno, ada satu lagu yang melegenda sampai sekarang. Lagu ini merupakan salah satu duetnya dengan Fariz R. M. Judulnya, “Nada Kasih”. Duet yang apik. Mereka berkelindan, tetapi nyata jelas pembagian dan pemecahan suara, bersahutan dalam nada-nada tinggi. Kalau mendengarkan (dan melihat) Neno dan Fariz menyanyikan lagu ini, saya jadi teringat duetnya Lea Salonga dan Brad Kane dalam tembang “We Could be in Love”.

Tahun 1980-an memang banyak muncul duet-duet bagus. Dari dalam negeri sebut saja Franky dan Jane, Broery Marantika dan Dewi Yull,  Vivi dan Nita, senior Muchsin Alatas dan Titiek Sandhora, dan seterusnya.

Tapi dengan berjalannya waktu, terjadi perubahan masa.
Perubahan waktu disertai pula perubahan keputusan-keputusan hidup manusia.

Banyak orang berganti profesi dalam perubahan ini.
Yang dulunya pedagang sekarang alih pekerjaan menjadi petani.
Yang dulunya artis menjadi duta besar.
Yang dulunya wartawan berganti profesi jadi politisi.
Yang dulunya karyawan bank, kini jadi motivator.

Demikian pula Neno Warisman. Setelah tak kedengaran kabar beritanya dalam dunia keartisan, belakangan dia muncul dalam profesi tokoh agama dan politik. Neno telah banyak berubah dibandingkan tahun 1980-an seperti di atas, dari penampilan maupun kosa kata yang terucap. Namun talenta seninya tak bisa ditutupi. Kemampuannya dalam berolah suara melalui puisi kini menjadi magnet. Bahkan puisinya yang terakhir menjadi banyak perbincangan di jagat internet.

Kegegeran itu terutama dalam larik-larik ini:
“ Jangan, jangan Kau tinggalkan kami
Dan menangkan kami
Karena jika Engkau tidak menangkan,
Kami kuatir ya Allah
Kami kuatir ya Allah
Tak ada lagi yang menyembah-Mu”

 

*

 

Dalam dunia sastra kita mengenal istilah “Licentia Poetica”. Itu sebabnya salah satu sikap saya untuk puisi karya Neno ini adalah,menghargai karyanya ini sebagai kebebasan penyair dalam mengungkapkan dan memilih diksinya.

Yang kedua, puisi ini adalah ekspresi perjalanan spiritual penulisnya. Yang berbeda pendapat hanya bisa mengerti dan memaklumi, karena memang dalam kemahabesaran misteri ilahi ada banyak perspektif pemahamanan yang berbeda terhadap Pencipta dan Pemelihara Alam Semesta ini. Dan Neno berada dalam tahapan pemahaman mengenali Penciptanya seperti yang tertuang dalam karya puisinya tersebut.

Bagi saya, untuk urusan pengabulan doa kita adalah otoritas penuh Yang Mahakuasa. Saya teringat dengan kisah di Babel, diperkirakan terjadi sekitar tahun 500 SM. Saat itu yang sedang memerintah adalah Raja Nebukadnezar.

Kepada tiga pemuda tawanan (Sadrakh, Mesakh, dan Abednego) yang sedang dalam proses eksekusi mati dalam perapian yang menyala-nyala, karena mereka tidak mau mengikuti perintah raja untuk menyembah dewanya, Nebukadnezar memberi kesempatan terakhir bagi mereka sebelum pelaksanaan eksekusi. Apabila mau berubah keputusan dan mau menyembah patung maka mereka akan bebas, alias tidak jadi mengalami hukuman mati dalam dapur api.

Yang sangat menarik adalah pernyataan mereka kepada raja, “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Ketiga pemuda di atas mendeklarasikan pernyataan iman mereka kepada raja, tanpa ada kesan memaksa, mendesak, apalagi mengancam Tuhan apabila doa mereka ternyata tidak dikabulkan. (Selengkapnya sila baca Buku Daniel)

*

Sampai saat ini Neno Warisman adalah seorang pesohor, masih sebagai news maker. Hanya bedanya, dia telah mengalami perubahan dibanding tahun 1980-an. Kehidupan memang terus mengalami perubahan. Terus berubah, entah semakin baik atau semakin buruk. Demikian juga kita semua. (MR)

*Setio Boedi

 

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2019 GKMI Network

Log in with your credentials

Forgot your details?