Jim dan Brian adalah anak-anak SD kelas VI yang cerdas dan cekatan. Mereka juga tinggal sekelas. Tapi sayang…. Lho, kok sayang? Iya! Mereka ini tidak pernah akur. Mereka selalu bersaing dalam segala hal. Dalam ulangan mereka selalu berusaha mengungguli satu sama lain. Dalam menjawab pertanyaan guru mereka ini pasti berebut. Demikian juga dalam olahraga, tidak ada yang mau mengalah. Mereka juga saling merebut simpati kawan-kawan mereka sebanyak-banyaknya. Tidak jarang “aksi persaingan” mereka diakhiri dengan perang mulut sehingga harus dilerai oleh Ibu guru. Wah, pokoknya Ibu guru sampai geleng-geleng dibuatnya.

            Kenapa sih mereka begitu? Kata Jim sih ia sebel banget. Lalu Brian? Kata Brian kalau ia ketemu Jim bawaannya ingin marah saja soalnya Jim itu sombong banget. Terus siapa dong yang salah ?  Wah… wah… wah….

Tapi itu dulu. Sekarang ini mereka berdua merupakan dua sahabat yang tidak terpisahkan. Mereka sangat kompak dan saling mendukung dalam segala hal. Lho kok bisa? Bingung kan? Mau tahu kenapa? Ikuti saja ceritanya….

 

—-

 

            Suatu sore  ketika sekolah mereka sedang mengadakan acara, anak-anak dan guru-guru berkumpul di lantai dua. Di tengah acara, Jim merasa ingin buang air kecil. Karena itu Jim turun dan pergi ke kamar mandi. Setelah keluar dari kamar mandi, ia terkejut karena dari arah kantor terdengar suara benda-benda berjatuhan.

            Jim melihat ke arah kantor dan melihat seorang berjaket hitam yang mencurigakan tengah membuka laci-laci kantor dan memasukkan uang sekolah ke dalam tas yang dibawanya.

            “Wah, ada pencuri…,” demikian pikir Jim. Ia segera merunduk supaya tidak terlihat oleh pencuri itu.

            Tiba-tiba dari tangga turunlah seseorang. Ternyata anak itu Brian.

            “Aduh…,” pikir Jim. Sekalipun ia tidak suka Brian tetapi tentu saja ia tidak ingin Brian mendapat celaka. Segera ia menarik baju Brian dan menutup mulutnya.

            “Hey! Ap…!!” kata Brian terkejut. Jim segera menarik Brian untuk bersembunyi.

            “Jim! Apa-apaan sih kamu!” kata Brian marah.

            “Ssstt…,” Jim menyilangkan jarinya di mulut, menyuruh Brian diam. Ia menunjuk ke arah pencuri di dalam kantor.

            “Oh!” serta merta Brian menutup mulutnya dan segera bersembunyi juga.

            Pencuri yang sedang memasukkan uang itu sempat menoleh ke kiri ke kanan karena mendengar suara berisik. Tapi setelah ia melihat tidak ada apa-apa ia kembali melanjutkan aksinya.

            “Jim, kita harus memberitahukan Ibu guru!” kata Brian.

           “Betul! Ayo cepat, nanti pencurinya keburu keluar!” kata Jim. Mereka pun berjalan berjingkat-jingkat menuju tangga. Tanpa sengaja kaki Jim menyenggol sapu yang tersandar di pinggir tangga. Sapu itu pun jatuh dan menimbulkan suara berisik. Pencuri itu pun segera berpaling sambil menuju ke arah mereka dengan wajah garang.

            “Hey, kalian!!” teriak pencuri itu.

            “Aduh, kita ketahuan!” kata Jim, “ Bagaimana ini?”

            “Lari! Kita berpencar!” kata Brian.

            Brian pun lari ke arah kanan dan Jim ke arah kiri. Pencuri itu sempat bingung tetapi ia kemudian lari mengejar Jim. Jim berlari sekencang-kencangnya lalu masuk ke ruang kelas yang terbuka. Jim segera mencari akal untuk menghambat pencurian itu. Aha! Ia menemukan sebuah ember berisi air pel. Ia segera naik ke atas meja dan menaruh ember itu di atas pintu yang setengah terbuka. Jim pun kemudian segera turun.

            “Nah, ketangkap kamu sekarang!” bentak pencuri itu sambil membuka pintu.

            Byuur . . . .!!

            Ember itu pun jatuh menutup kepala si pencuri. Tas yang dibawanya pun terjatuh.

            “Haep…! Haep…!!” si pencuri gelagapan. Semua bajunya basah. Tapi ternyata itu tidak cukup untuk menghambatnya.

            “Kurang ajar!! Awas, akan kutangkap kau!!” teriaknya marah sambil melemparkan ember itu. Jim ketakutan. Ia mundur dan mundur sampai punggungnya menyentuh tembok.

            “Nah! Tertangkap kamu sekarang!” kata pencuri itu sambil menyeringai. Tangan-tangannya hendak menerkam Jim.

            Tiba-tiba….

            “Hai, pencuri!!” teriak Brian dari pintu. Si pencuri menoleh ke arahnya.

            “Ini tasmu ‘kan!” katanya sambil mengangkat tas pencuri itu yang berisi uang curiannya itu.

“Ayo ambil kalau bisa!” tantang Brian.

            “Grrrrr…! Awas kau!!” geram si pencuri marah. Ia segera meninggalkan Jim dan berlari mengejar Brian.

            Ternyata di depan kelas itu Brian sudah menuangkan air sabun.

            “Aaa . . . h!!” si pencuri pun berteriak ketika tubuhnya terpelanting.

            Bukk!! Pencuri itu pun jatuh berdebum. Dengan kepala pusing dan badan sakit si pencuri mencoba bangkit kembali.

            “Brian!” teriak Jim sambil melemparkan seutas tali yang ditemukannya kepada Brian. Sementara dia sendiri memegang ujung yang satunya lagi. Merekapun berlari berlawanan arah mengitari pencuri itu sehingga kaki si pencuri terlilit tali.

            Belum lagi si pencuri menyadari apa yang terjadi, ia sudah jatuh tersungkur lagi dan pingsan. Yang dilihatnya hanya bintang-bintang.

            “Hooree…!!” teriak Jim dan Brian.

            “Jim? Brian? Apa yang terjadi?” tanya Ibu guru dan Pak Satpam yang segera datang setelah mendengar keributan.

            “Ini, Bu! Orang itu mencoba mencuri uang sekolah,” kata mereka menjelaskan sambil menyerahkan tas berisi barang curian.

            “Oh, kalian memang pahlawan-pahlawan kecil!” puji Ibu guru. Pak Satpam pun kemudian memborgol pencuri itu lalu menghubungi polisi.

            “Brian?” kata Jim, “Terima kasih ya, kamu sudah menolongku tadi….”

            “Ah, sama-sama kok. Kalau kamu tidak memperingatkanku waktu turun tangga tadi pasti aku juga sudah tertangkap pencuri itu.” kata Brian.

            “Ternyata kalau kita kompak kita bisa jadi tim yang hebat ya?” kata Jim tersenyum. “Bagaimana? Kamu setuju?” tanya Jim.

            “Oke! Mulai sekarang kita jadi teman!” kata Brian setuju. Mereka pun bersalaman sambil tertawa.

 

—-

 

            Nah, anak-anak, begitulah ceritanya. Betul ‘kan, kalau kita bersahabat tentu lebih baik daripada bermusuhan. Kalau kita bersahabat kita bisa saling menolong satu sama lain dan bekerjasama dalam segala hal demi kebaikan kita bersama. Permusuhan itu tidak ada artinya, hanya menimbulkan kerugian masing-masing pihak. Tuhan dalam Firman-Nya juga memerintahkan pada kita supaya kita saling membantu (Efesus 4: 2), saling membangun (Rm. 14: 19), saling menolong (Gal.6: 2) dan yang terutama SALING MENGASIHI (Yoh.13: 34). Karena itu, kalau kita punya musuh ayo berbaikan! Janganlah  kita mencari-cari musuh. Sebaliknya, carilah teman sebanyak-banyaknya. Percayalah, dunia ini pasti akan lebih mudah kalau kita punya banyak teman. “Two is better than One” apalagi three, four, five, ten, … dan seterusnya! (MR)

 

*Oleh: Gracia Lina

Pembimbing KSM GKMI Semarang

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2019 GKMI Network

Log in with your credentials

Forgot your details?