Daniel 3 : 13 – 19

 

Adagium “tiada kawan abadi, yang ada hanya kepentingan abadi” dalam dunia politik adalah hal yang lazim. Sikap inkonsistensi para politikus bak “kutu loncat” umumnya didorong oleh kepentingan kekuasaan. Berpindah dari satu parpol ke parpol lain, meloncat dari satu kubu ke kubu lain, membolak-balik pendapat sesukanya, berganti perahu koalisi sebagai kendaraan politik adalah yang biasa sepanjang semua itu memperlancar jalan menuju kekuasaan. Fenomena “kutu loncat” dalam dunia perpolitikan menunjukkan pragmatisme politik yang begitu telanjang sekaligus mempertontonkan betapa rendahnya kualitas moral politik para politisi.

Sangat jarang ditemukan tokoh politik yang konsisten dan teguh hati dalam memperjuangkan kebenaran, kemanusiaan, keadilan dan kesejahteraan rakyat. Banyak politisi ketika muda bergelora dengan semangat idealisme, tetapi ketika berada di “Senayan” atau berada di “pusat-pusat kekuasaan”, idealismenya menjadi luntur dan begitu rakus kekuasaan. Tidak berlebihan jika dikatakan harta dan kekuasaan sanggup membolak-balikkan hati seseorang.  Menjadi sangat memprihatinkan jika mentalitas yang demikian merambah kalangan akademisi dan keagamaan. Banyak ditemukan para akademisi dan tokoh agama turut menodai tangan tangan mereka dengan politik kekuasaan di wilayah masing masing. Kegelisahan terhadap situasi yang memprihatinkan ini tampak dalam penggalan puisi Gus Mus Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana?” berikut ini:

 

Kau ini bagaimana?

Kau suruh aku takwa khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa

Kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

 

Aku harus bagaimana?

Aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya

Aku kau suruh berdisplin, kau menyontohkan yang lain

Realitas menunjukkan kuatnya tekanan dan kepentingan kekuasaan dapat merobohkan prinsip kebenaran, kemanusiaan, keadilan dan kesejahteraan; dan melucuti keteguhan hati.  Maka pertanyaan mendasarnya ; Jika para penjaga moral kehilangan keteguhan hati, lalu siapakah penjaga kehidupan ini?

 

Tiga Pemuda dari Negeri Seberang

Bicara tentang keteguhan hati, Alkitab mempunyai kisah keteguhan hati yang sangat menonjol. Alkitab membawa ingatan kita pada tiga pemuda yang diboyong ke Babel pada zaman raja Nebukadnezar. Mereka adalah Sadrakh, Mesakh, dan Abedego (Daniel 1: 7). Tiga dari kaum keturunan raja dan bangsawan Israel, orang-orang muda dengan kualitas terbaik (Daniel 1: 3-4). Disebut sebagai orang muda tak bercela, berperawakan baik, memahami berbagai hikmat, berpengetahuan banyak dan berilmu, dan cakap bekerja. Mereka dibawa ke dalam istana Nebukadnezar untuk bekerja dalam istana raja.

Tiga pemuda dari negeri seberang yang dipersiapkan menjadi pejabat di negeri asing tentu menghadapi situasi dan tekanan yang tidak mudah. Ada perbedaan iman, budaya, sistem kerja, prinsip, ideologi, dan perbedaan cara hidup, yang dengan segala kompleksitasnya menjadi begitu menantang. Dua hal yang dikisahkan adalah tentang makanan dan minuman (1: 8) dan tentang perintah untuk menyembah patung raksasa terbuat dari emas, yang dibangun di kota Dura (3:1).  Dalam acara penahbisan patung yang dihadiri para tokoh penting negeri dan para pejabat tinggi sampai rendah; disepakati suatu perintah bagi semua orang tanpa kecuali untuk menyembah patung emas tersebut setiap dikumandangkan berbagai bunyi-bunyian (3: 4-5).  Sebagai sanksi bagi yang menolak ditetapkan suatu hukuman untuk dicampakkan dalam api yang menyala-nyala (3: 6).

Dalam situasi inilah keteguhan hati tiga pemuda akan prinsip imannya betul-betul ditantang secara dilematis. Dalam cara pikir pragmatis ala politisi kutu loncat, tentu jalan keluarnya sangat mudah ditebak: ikuti arus kekuasaan, maka kepentingan dan keselamatan akan terjamin. Dalam tekanan kekuasaan yang begitu besar, mengorbankan iman dan moral adalah jalan yang paling masuk akal demi kelangsungan jabatan. Apakah tiga pemuda dari negeri seberang memilih cara ini?  Ternyata TIDAK. Bahkan ketika tekanan bertambah besar dengan tuduhan dan laporan (3: 8-12); pemanggilan dan pemeriksaan oleh raja yang diikuti dengan perintah langsung untuk menyembah patung emas itu (3: 14-15), mereka tetap menolak (3: 16-18).

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dengan sangat jelas menunjukkan kualitas keteguhan hati. Kamus Besar Bahasa Indonesia memaknai keteguhan hati sebagai: “kukuh kuat berpegang pada prinsip yang dianut; memiliki ketetapan hati dan tidak berubah pendirian. Keteguhan hati juga bermakna keberanian untuk mempertahankan prinsip sekalipun bahaya mengancam”. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego disebut mempunyai keteguhan hati karena :

  1. Sikap mereka tidak ditentukan oleh tekanan atau situasi disekitarnya. Sekalipun mayoritas dan kekuasaan begitu memaksa, mereka bertahan dalam keyakinannya.
  2. Sikap mereka tidak bergantung adanya pembelaan Tuhan atau tidak. Ada atau tidak ada pembelaan dari Tuhan, sikap mereka tetap teguh (3: 18). Mereka tidak butuh “doa yang mengancam” (sebagaimana doa mantan artis penyanyi yang viral baru-baru ini) supaya Tuhan memihak kepada mereka. Bahkan sekalipun Tuhan diam dan tidak menunjukkan pembelaan, mereka tetap teguh dalam keyakinannya. Keteguhan hati tidak butuh legitimasi, ia muncul dari hati yang murni dan berbakti.

Keteguhan hati membawa konsekuensi, mulai dari hal-hal yang sederhana sampai yang mengancam nyawa. Tetapi dalam kualitas selevel Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, yang memang kendati masih muda tetapi dengan berani mengendurkan ikatan dengan dunia, kehilangan segala hal bukan sesuatu yang menggentarkan hati. Kehilangan jabatan, kehilangan hormat manusia, kehilangan teman, kehilangan kesempatan, bahkan nyawa, adalah harga yang harus dibayar untuk keteguhan hati. Menjadi oportunis hanya akan mencederai integritas dan konsistensinya sebagai kaum terdidik sekaligus beriman.

 

Mahalnya Keteguhan Hati     

Mahalnya harga yang harus dibayar untuk keteguhan hati sering membuat banyak orang zaman sekarang enggan mempertahankannya. Jual murah dan obral  terjadi di mana pun; lingkungan kerja, dunia hukum, dunia pendidikan, bahkan di lingkungan keagamaan – termasuk gereja, untuk menjamin keamanan, kenyamanan, pengaruh, kemewahan, jabatan dan kekuasaan.  Mahalnya harga keteguhan hati membuat banyak orang enggan melawan arus dan takut berjalan sendiri. Mahalnya harga keteguhan hati membuat orang memilih jalan termudah, tercepat, tanpa peduli ketika harus menjadi oportunis, kutu loncat, berkhianat, inkonsisten, dan manipulatif. Mahalnya keteguhan hati membuat orang merasa bahwa hal itu terlalu mustahil untuk menjadi nyata.  Jika demikian sama saja mengatakan kebenaran yang dikisahkan Alkitab “too good to be true”.

Itu adalah pengingkaran. Apakah kaum beriman, pembaca Alkitab di zaman sekarang akan terjebak pada pemikiran sedemikian? Kisah tiga pemuda dari negeri seberang tak pernah menjelma dalam kehidupan sehari hari, karena dinilai terlalu naif, terlalu ideal, terlalu ini dan itu, dan seribu alasan pengingkaran lain. Padahal sebenarnya kita hanya takut dan menyerah pada mahalnya harga keteguhan hati. (RR/MR)

 

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

©2019 GKMI Network

Log in with your credentials

Forgot your details?