TELITI MENCARI PEMIMPIN NEGERI

 

Hari pencoblosan untuk pemilihan umum sudah di depan mata.  Di tengah getolnya kampanye mengusung calon penguasa takhta negara, tak dapat ditampik setiap partai politik berlomba-lomba menawarkan janji manis bak gula-gula. Bukan hanya itu, tak jarang jurus pamungkas menebar hoaks pun dihalalkan untuk merontokkan kubu lawan dan meraih simpati demi menduduki kursi terhormat legislasi. Ketegangan “syahwat politik” pun semakin meninggi, tak terkecuali bagi Partai Kawung ini.        

Kala sedang merona membangun citra, tampil seksi demi menggaet suara massa, tak disangka tak nyana… Ketua Umum Partai Kawung murka. Beberapa bulan terakhir secara bertubi-tubi persoalan menimpa banyak kader, baik yang sudah menjadi anggota parlemen maupun penggembira, tersandung kasus yang memalukan: perkara seputar percabulan! Seputar kelamin! Ada kasus pemerkosaan. Ada kisah perselingkuhan. Ada yang kawin lagi tanpa izin istri pertama. Ada yang tertangkap basah nonton film porno. Ada yang di-gropyok masyarakat karena kedapatan sekamar dengan suami orang lain. Ironis, bukan hanya kader laki-laki yang mendominasi, kader perempuan pun tak kuasai diri.

Duh…. “Di negeri Pitung Asma ini, sekarang partai kita jadi objek ejekan bagi banyak orang. Terutama dari partai-partai lain.  So pasti ini akan mempengaruhi elektabilitas partai. Apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki partai?!” teriaknya sambil menggebrak meja,di hadapan seluruh pengurus harian.  “E… anu, Pak! Dipecatin semua aja Pak yang ketahuan demikian!” kata Sekretaris Umum. “Bisa habis nanti kader kita!” sahut Wakil Bendahara Umum, “karena banyak anggota kita yang ketangkap basah!” “Bubarkan saja partainya, Pak…. Kita bentuk partai baru! Cari anggota baru lagi, daripada kita di-bully terus oleh masyarakat. Saya malu je…,” usul Wakil Sekretaris Umum. “Itu ide gila!” tukas Ketua Umum. Mukanya memerah. Perut gendutnya bergoncang-goncang. “Bagaimana kalau Minggu ini kita adakan Rapat Besar seluruh anggota, Pak…! Agendanya bersih-bersih partai!” sahut Ketua Departemen Pemenangan Pemilu. “Ya… aku setuju! Bentuk segera panitianya, dengan acara utama Pidato Moral Ketua Umum Partai!”

Dengan pontang-panting, Rapat Besar Nasional Partai Kawung di Negara Pitung Asma bisa dilaksanakan. Seluruh peserta dari Desa, Kecamatan, Kabupaten/Kotamadya dan Provisi hadir di ibukota Pitung Asma. Puluhan hotel di-booking untuk akomodasi para kader partai dari berbagai pelosok. Di tengah stadion olahraga Bianglala yang berukuran raksasa, ratusan ribu kader partai baik remaja-pemuda, pria-wanita, muda-tua dengan tertib dan penuh konsentrasi mendengarkan Pidato Moral dari Ketua Umum.! “Kita harus berhenti dari kelakuan-kelakuan yang tidak bermoral. Stop kejahatan seksual. Hentikan perselingkuhan! Tak ada lagi pemerkosaan! Akhiri kisah-kisah memalukan dari kader kita! Siapa yang yang mau berjanji tidak akan melakukan kejahatan seksual?” Gedung olahraga bergemuruh. “Siap…!!!” Ujar seluruh peserta dengan tangan terkepal terangkat di atas kepala. “Siap…? Berdiri kalau yang serius mau menjadi kader yang bermoral!” teriak Ketua Umum lagi. Serentak ratusan ribu kader partai itu berdiri! Dan berseru, “Siaaaaap!!!” Sorak-sorai kembali bergemuruh. “Kita akan menjadi partai yang lebih baik! Sekarang saya mau bertanya serius. Butuh kejujuran kalian semua. Siapa yang berani berjanji akan siap menerima laknat kalau dia tidak menghentikan tindakan syahwat yang jahat?” Lagi-lagi seluruh peserta rapat besar itu berteriak serempak, “Saya siap…!!!” Ketua umum puas, dia tersenyum simpul. Ia yakin Partai Kawung akan menjadi partai yang moncer karena perbaikan moral kadernya. Rapat pun selesai. Peserta pulang ke hotel, asyik dengan agenda acara masing-masing.

Esok harinya kehebohan terjadi. Sejak masih gelap, matahari belum terbit, terlihat kegaduhan. Teriakan-teriakan terdengar di setiap kamar. Bukan hanya di satu hotel tetapi di semua hotel yang digunakan. Laki-laki maupun perempuan menangis makin keras. Bukan cuma di kamar anggota partai, tetapi juga para pengurusnya. Termasuk kamar Ketua Umum. Anehnya, semua kader justru bersembunyi di kamar masing-masing. Kamar dikunci. Semua karyawan hotel tampak panik. Tidak tahu apa yang terjadi. Akhirnya mereka memanggil aparat keamanan untuk memecahkan masalah ini. Bahkan mereka juga menyiapkan tenaga medis untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.

Para petugas kesehatan mengetok kamar-kamar hotel ditemani aparat. Dengan rayuan dan negosiasi mereka akhirnya keluar. Masing-masing kepala dibalut dengan handuk atau kaos kepunyaan mereka. Beberapa tamu hotel yang bukan anggota partai penasaran dan berusaha mengabadikan kejadian ini dengan handphone mereka. Tapi oleh petugas mereka disuruh minggir. Semua peserta rapat besar dikumpulkan di ballroom hotel, dengan menutup kepala menggunakan handuk hingga separuh muka masing-masing. “Ada apa sebenarnya Bapak Ibu?” tanya aparat. “Apa yang sebenarnya yang terjadi?” timpal seorang dokter. Serentak mereka menjerit histeris dalam tangis. Sesaat kemudian ada yang berani bersuara di sela-sela tangisnya, “Kami semua kena laknat! Seperti janji kami kemarin…. Di hadapan rakyat kami tampil bak malaikat, dipanggil Yang Terhornat, sejatinya kami penjahat syahwat, pengkhianat!” “Mari teman-teman, kita buka penutup muka…. Siapa tahu mereka bisa menolong!” ajak orang yang sama tadi. Pelan-pelan mereka membuka kain atau handuk yang menutup kepala. Astaga… astaga… astaga…. Semua aparat dan dokter terkejut… sembari menutup mata mereka dengan telapak tangan. Kelamin para kader tersebut semuanya berpindah di kening!  Yang laki-laki alat kemaluannya berada di kening. Demikian juga yang perempuan. Suara riuh gemuruh terdengar dari puluhan hotel. “Kami kena laknat…. Kami kena laknat!” teriak mereka! “Betul…. Gara-gara syahwat… kita semua kena laknat…. Partai kita bakal kiamat!” timpal Ketua Umum dengan suara lirih tersendat.

 

Catatan Akhir

Apa yang tersaji, baik itu “syahwat politik” dan syahwat jahat politikus, adalah kisah hidup sejati, yang dikemas secara sarkasme. Arti syahwat secara literal adalah “nafsu berahi” (KBBI).  Sementara istilah “syahwat politik” digunakan sebagai sindiran terhadap nafsu tabu berkuasa yang melegalkan segala cara. Menyongsong pemilihan umum, kita perlu aktif berpartisipasi untuk mencari pemimpin sejati, yang jauh dari “syahwat politik” jahat tanpa hati. Pemilih cerdas tidak mudah terkecoh dengan kandidat yang “ujug-ujug” bermurah hati dan SKSD (Sok Kenal Sok Dekat), mengaku peduli membela rakyat, padahal ujung-ujungnya membangun kerajaan pribadi dan kepentingan kroni-kroni. Pun jauhi politisi tuna moral: yang tiada tobat mengumbar syahwat, yang tiada henti korupsi merampok uang rakyat, dan pemuja euforia kuasa narkoba.  Gelagat “syahwat politik” jahat, sudah waktunya untuk dicegat, supaya negara kuat. Mereka yang miskin nurani tak selayaknya dipilih. Sebagai solusi, percayakan kursi pada negarawan sejati yang teguh menjunjung tinggi NKRI; yang menghamba melayani; yang memperjuangkan keadilan dan shalom bagi semua pihak yang lemah dan yang berdaya, tanpa membedakan warna kulit maupun agama.  Bukankah ini nilai-nilai hidup universal yang diperjuangkan oleh Tuhan Yesus?

 

Selamat menggunakan hak pilih. (Setio Boedi/Pdm. Agus Suyanto/MR)

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

©2019 GKMI Network

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

Log in with your credentials

Forgot your details?