“Cebong” dan “Kampret”, dua julukan untuk bayi hewan tersebut menjadi viral, trending topik pencarian google perpolitikan Indonesia. Julukan bakal calon katak dan kelelawar itu ditujukan sebagai sebuah sinisme terhadap pendukung kedua kubu paslon Presiden RI 2019 negeri kita. Kedua paslon telah berkampanye dan juga melakukan debat publik yang oleh pakar politik disimpulkan bahwa keduanya memakai kampanye fear sejak awal. Tak heran suasana yang terbangun dalam Politik Capres 2019 justru bukan bersifat apresiatif membangun melainkan defensif dan saling serang. Hoaxes bertebaran yang berujung kepada ujaran kebencian antar kedua pendukung Paslon.

Lalu bagaimana sikap Gereja di situasi yang memanas ini? Apakah Gereja diam saja bersikap skeptis? Sebab sering sekali dikatakan untuk Gereja tidak boleh terlibat lagi berpolitik karena masa gelap kita yang pernah menjadi Gereja Negara.[1] Atau Gereja malah melebur dan menyatu dengan salah satu kelompok bayi-bayi hewan tersebut? Seharusnya hal tersebut tidak terjadi dan jangan sampai terjadi. Bagaimana mungkin kita mengalami degradasi dari “Pengikut Kristus” menjadi entah “cebong” atau “kampret”? Masalahnya, kita juga melihat ada beberapa gereja ikut berpolitik praktis dengan menjadi salah satu bagian dari bayi-bayi hewan tersebut. Mimbar dipakai bukan lagi sebagai sarana mewartakan Firman Allah, tetapi malah dijadikan suara kampanye untuk mendukung salah satu Paslon. Dalam hal ini bukan berarti kita tidak peduli terhadap Pemilu 2019. Tidak…. Pemilu sangatlah penting sebab melaluinya nasib Negara ini akan ditentukan. Namun Gereja seperti yang dikatakan Rasul Paulus sebagai “Tubuh Kristus” (Efesus 5: 22-33) tentu seharusnya memiliki sikap yang lebih daripada sekedar mendukung Pemilu 2019.

Apa yang ada dalam benak kita ketika ditanya untuk tujuan apa Yesus turun ke dunia? Jawaban yang seringkali muncul adalah “menebus manusia dari dosa”. Namun tahukah kita bahwa apabila kita cermati tujuan utama Yesus datang ke dunia adalah justru untuk “berpolitik”? Bagaimana tidak? Yesus dengan secara gamblang mengatakan bahwa Ia mewartakan dan menegakkan Kerajaan Allah di tengah dunia, yang dalam bahasa aslinya adalah Basileia tou Theou. Kata Kerajaan, basileia, yang dimaksud memang adalah gambaran akan suatu kerajaan yang berarti berbicara mengenai wujud institusi, orang-orang yang terlibat dalam organisasi, dan sistem yang bekerja di dalamnya. Di zaman Yesus sudah ada kerajaan yang berdiri dan sangat berkuasa yaitu Romawi dan juga ada organisasi-organisasi yang kuat seperti kelompok Farisi, Ahli-ahli Taurat, Saduki, dan sebagainya. Menariknya, Yesus tidak berafiliasi kepada satu pun dari mereka apalagi mendukung mereka. Yesus mengupayakan politik-Nya sendiri. Ia mendirikan Partai Galilea yang justru terdiri dari orang-orang tersingkirkan, dipandang negatif, kelas bawah, dan penuh label-label buruk lainnya. Politik yang dilakukan Yesus jelas-jelas tidak berfokus kepada pemimpin atau penguasa di masanya, bahkan di Injil tidak ada satupun kata-kata Yesus yang mengupayakan pengikut-Nya terjun untuk merebut pemerintahan dan berkubu dengan pemimpin manapun. Alih-alih demikian, Yesus lebih berpolitik dengan melihat apa yang tidak diperebutkan dan diributkan oleh pihak penguasa. Yesus lebih melihat kepentingan sosial mereka yang tersingkirkan.

 

Politik Relasional: Politik Yesus

Politik yang ditawarkan oleh Yesus adalah politik yang gerakannya dimulai dari akar rumput, bukan politik yang dimulai militer atau institusi siapapun. Pemimpin pada waktu itu tidak akan akan memengaruhi Yesus dalam setiap kebijaksaan-Nya. Yesus melihat politik akar rumput adalah perlawanan yang paling efektif terhadap ketidakadilan yang terjadi. Hanya melalui politik akar rumputlah pengalaman Allah yang relasional dapat dirasakan.  Pengalaman berelasilah yang akan membuat dunia lebih baik. Maka Yesus menawarkan politik dari kaum bawah (akar rumput).

Politik Yesus dimulai ketika Ia menawarkan kepada murid-muridnya Bapa yang Maharelasi ketimbang Mahakuasa (sebagaimana “menguasai” biasa ditemukan dalam monoteisme-monarkisme Yahudi). Selain itu, pemberitaan Yesus mengenai Kerajaan Allah selalu berpusat dengan relasi. Nuansa keluarga sangat kental dalam ajaran-ajaran yang dibawa oleh Yesus. Perhatikan saja “Doa Bapa Kami”. Ketika pada waktu itu orang-orang tidak berani memanggil Allah dengan sebutan Bapa, Yesus mengajak mereka berdoa dengan memanggil Allah dengan sebutan Bapa! Tidak hanya itu, Yesus juga memakai gelar Anak Manusia supaya diri-Nya lebih familiar relasional ketimbang politis. Allah yang ditawarkan Yesus adalah Allah yang relasional sebagaimana banyak ditemui dalam narasi-narasi Injil. Yesus mengajarkan kepada murid-muridnya agar mengenal Bapanya seperti Yesus mengenal Bapa-Nya, dalam relasi Bapa dan Anak. Melalui gambar Allah Bapa yang relasional inilah pendekatan-pedekatan politik relasional Yesus pada waktu itu membuat sistem-sistem sosial di zaman Yesus terguncang, seperti yang dapat kita temui banyak di dalam Matius 5: Berbuat  baik pada yang jahat; memberi makan orang-orang miskin; mengunjungi orang-orang yang disingkirkan masyarakat; menghancurkan sistem ekonomi Yahudi (Mamon) yang berpusat di Bait Allah; anti kekerasan; menerobos batas-batas etnis, gender, dan semacamnya. Jadi yang membedakan Yesus dan yang lainnya adalah Yesus memulai gerakan politik-Nya berdasarkan dari pengalaman diri-Nya dengan Bapa-Nya yang selalu berintikan relasi dalam dimensi belas kasihan dan kemurah-hatian terhadap lingkungan dan sesama.

 

Anabaptis-Mennonite dan Negara

Mungkin para Pembaca di sini pernah sempat memikirkan pertanyaan demikian: Sejak kapan Gereja dan negara berpisah? Atau kenapa negara dan agama berpisah? Sangat mudah untuk menjawabnya, yaitu: Sejak Bapa dan Ibu gereja Anabaptis-Mennonite kita melawan (against) negara. Bapa dan Ibu gereja kita sudah kecewa sekali dengan apa yang dilakukan negara terhadap mereka. Banyak dari mereka yang telah dibunuh oleh negara oleh karena alasan-alasan tidak jelas didasari kebijakan negara yang prematur. Apalagi banyak pengeksekusian pada waktu itu hanya didasarkankan oleh sentimen belaka. Protes-protes mereka beragam dari sosial-agama, ekonomi, dan politik. Beberapa hal yang membuat kaum Anabaptis-Mennonite tidak setuju dengan perlakuan negara di masanya antara lain karena negara memasang pajak negara terlalu tinggi terhadap petani-petani. Di saat yang sama petani harus membayar pajak serupa kepada agama (gereja setempat) dengan dalih persembahan gereja. Hasil jerih payah mereka dihisap sehingga akhirnya mereka serba berkekurangan. Kebijakan politik hanya didasarkan kepada pengetahuan politik kaum-kaum klerus yang notabene tidak pernah dimengerti oleh kaum-kaum petani. Akhirnya kaum petani hanya mengikuti saja karena mereka benar-benar tidak mempunyai kuasa untuk menolak. Tidak ada ruang publik yang memadai untuk keputusan publik. Pembacaan Alkitab hanya dimonopoli oleh orang-orang tertentu dengan bahasa yang asing (bahasa Latin). Negara menggunakan justifikasi teologis untuk membuat doktrin-doktrin Kristen yang melegalkan kekerasan. Baptisan Anak yang senyatanya tidak pernah Alkitabiah juga diterapkan, dan masih banyak lagi.

Kaum Anabaptis tahu Kerajaan Allah yang dihadirkan dan impikan Yesus bukanlah kerajaan yang semacam mereka rasakan. Maka dari itu kaum Anabaptis melawan negara karena tidak sesuai dengan ajaran Yesus. Perlawanan kaum Anabaptis-Mennonite bukanlah perlawanan yang notabene didasarkan oleh cara-cara kekerasan atau sikap apatisme, melainkan dengan mengikuti jalan dan teladan hidup Kristus. Justru dengan mengikuti Kristus kelompok-kelompok Anabaptis mengguncang status quo dan kebijakan negara Kristen waktu itu. Negara terganggu dengan sikap-sikap kaum Anabaptis-Mennonite dan oleh sebab itu banyak kaum Anabaptis-Mennonite pada waktu itu dibunuh secara kejam dan keji oleh negara. Ada yang diseret kuda keliling kota dengan tangan kaki terikat, dikalungi batu kilangan lalu ditenggelamkan di sungai, dibakar hidup-hidup, dan sebagainya. Anabaptis lebih menyukai pengalaman iman dengan Allah yang relasional ketimbang Allah yang Mahakuasa.

Jika melihat dalam garis besar, faktanya sejarah memperlihatkan kepada kita bahwa perubahan besar yang permanen bukanlah dimulai dari penguasa-penguasa dan justru malah dimulai dari kelompok-kelompok kecil yang kuat dalam relasi dan solidaritas mereka. Pertama, mereka mempunyai kesadaran bahwa mereka tidak bisa menggantungkan hidupnya secara buta kepada penguasa-penguasa. Kedua, mereka tidak menganggap bahwa urusan kesejahteraan sosial tetangganya dan lingkungannya bukanlah tanggung jawab pemerintah pusat atau setempat melainkan tanggung jawab mereka juga.

 

Kesimpulan dan Relevansi

Setelah kita belajar dari Yesus mengenai politik relasional-Nya dan para pendahulu kita kaum Anabaptis-Mennonite, paling tidak kita tahu seperti apa posisi kita sebagai orang Kristen di dalam hal politik. Lantas apa relevansinya bagi kita hari-hari ini? Apa praksis yang dapat dilakukan oleh gereja? Pertama, permasalahan pentingnya bukanlah memilih paslon ini, memilih paslon itu, atau tidak memilih paslon ini atau itu (golput), melainkan apa yang telah/sedang Gereja perbuat bagi masyarakat dan sekitarnya setelah atau sebelum pemilihan ini berlangsung. Sebagian masyarakat dan Gereja yang bergerak dalam politik kebanyakan berasal dari kesadaran reaksioner yang nantinya akan membawa mereka kedalam politik praktis (politik buta). Sebaliknya, sebagai umat percaya yang mempunyai junjungan yang disebut “Raja Damai” yaitu Kristus Yesus, bukankah seharusnya kita memulai kesadaran politik kita dari kesadaran proaktif? Kesadaran proaktif terbentuk dari upaya mendengarkan apa yang terjadi disekitar lingkungan kita dan mencoba mencari jawaban bersama atas isu sosial yang terjadi di daerah kita.

Sebagai contoh, kita bisa bertanya: Seberapa parah intolerenasi di daerah gereja saya? Permasalahan ekologi apa yang terjadi di daerah gereja saya? Sejauh mana gereja bisa memberikan pelatihan SDM, entrepreneurship, dan meningkatkan kesejahteraan sosial jemaat dan masyarakat dengan nilai-nilai Kristus di dalamnya? Sejauh apa gereja dapat bekerja sama dengan masyarakat sekitar untuk mendorong lingkungan hidup yang ramah? Bukankah misiologi-relasional yang seperti inilah yang membuat orang-orang yang tidak mengenal Kristus dapat mengenal-Nya melalui apa yang kita lakukan?

Semua ini adalah upaya sadar supaya kita tidak terjebak seperti tahun-tahun politik sebelumnya. Kita boleh membuat sejuta hashtag, mengamuk di media sosial, dan sebagainya, lalu setelah Presiden RI terpilih bereuforia karenanya. Ingat, esok matahari akan tetap terbit. Kita tidak boleh melupakan apa yang menjadi tugas kita sebagai Gereja. Sebaik-baiknya Presiden kita yang terpilih nanti kalau orang-orang Kristen tidak bisa berdampak aktif untuk memajukan kesejahteraan daerahnya, ya sami mawon. (MR)

*Albert Teguh Santosa & Setyawan Adi Widya Nugroho – PASTHORI

 

[1] Sebelum terjadi reformasi Gereja, Gereja memiliki kekuasaan untuk mengatur negara atau bisa dikatakan menjadi sebuah institusi yang melakukan politik praktis. Masa-masa tersebut adalah masa kegelapan Gereja yang justru menjadi batu sandungan dan mengakibatkan penderitaan rakyat.

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

©2019 GKMI Network

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

Log in with your credentials

Forgot your details?