In Memoriam Pdt. Kristianus Karsu

 

“Sawah ditanami apa sekarang?” kalimat itu keluar lirih dari bibirnya yang membiru. Sorot matanya layu menatap saya, seakan ingin mengatakan, “Syukurilah semua pemberian Tuhan”. Atas pertanyaan itu, saya menjawab, “Padi, Pak. Sekarang baru mulai tanam”. Seolah tahu apa yang dipikirkannya, saya menambahkan, “Bersyukur untuk semua pemberian Tuhan. Bapak juga harus terus bersyukur untuk keadaan Bapak. Kami senantiasa berdoa untuk Bapak”. Dia tersenyum sambil mengangguk pelan. Wajah itu … ah, kebapakan sekali bagi saya.

Itulah percakapan terakhir saya dengan Pdt. Kristianus Karsu, pada hari Selasa 26 Februari 2019, saat saya mengunjungi beliau di RS Mardi Rahayu Kudus, beberapa hari setelah Pdt. Kristianus Karsu keluar dari ruang ICU. Pdt. Kristianus Karsu selama beberapa waktu berjuang melawan kanker nasofaring yang diidapnya. Kanker nasofaring adalah jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut. Beberapa kali Pdt. Kristianus Karsu masuk-keluar rumah sakit, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Saat itu saya tidak menyangka sama sekali bahwa percakapan pagi itu akan menjadi percakapan terakhir saya dengannya. Rupa-rupanya itulah terakhir kali saya bertemu, mendoakan  dan menguatkan Pak Karsu, panggilan akrab beliau, karena Sabtu 2 Maret 2019, Tuhan yang dia layani sepenuh hati memanggilnya pulang ke surga. Selesailah tugasnya di dunia. Tuhan yang telah memanggilnya menjadi pelayan penuh waktu, Dia juga yang pada akhirnya menuntaskan pekerjaan-Nya di dalam diri Pak Karsu.

Selesainya Pak Karsu mengerjakan tugas pelayanannya sebagai pelayan Tuhan adalah selesainya urusan Tuhan dengan Pak Karsu di dunia ini. Tetapi bukan berarti urusan Tuhan dengannya berhenti sampai di sini, karena saat ini Tuhan Sang Gembala sedang melayani Pak Karsu, menyediakan perjamuan surgawi yang indah tiada taranya. Ya, Tuhan Sang Gembala Agung sedang melayani perjamuan atas anak-Nya yang setia melayani-Nya selama berada di dunia. Untuk itu izinkan saya, sebagai rekan kerja yang pernah melayani bersama Pak Karsu mengucapkan selamat kepadanya atas kebahagiaan dan sukacita yang dialaminya sekarang.

Malam ini, dalam persiapan untuk pelayanan esok hari, saya sempatkan menulis memoriam ini; memoriam untuk seorang Kristianus Karsu, pelayan setia nan rendah hati. Tidak berlebihan jikalau saya mengatakan bahwa dia adalah pelayan yang setia. Sepanjang saya melayani bersamanya, kesetiaan itu nampak jelas. Kesetiaannya bukan sekedar siap untuk melaksanakan semua tugas pelayanan, melainkan juga mencakup sikap ketegasan dan ketertundukan kepada Firman. Pak Karsu tidak segan-segan menegur dengan lembut orang yang hidupnya tidak sesuai dengan Firman Tuhan. Di sini ketegasan berpadu dengan kasih dan kelembutan. Bagi saya, kelembutan Pak Karsu bukan kelemahannya, tetapi justru itulah wujud kekuatannya. Kelembutan adalah ekspresi kasih yang dinyatakan dalam teguran. Bukankah itu indah?

Kesetiaan Pak Karsu juga merupakan sikap ketidakraguannya atas janji penyertaan Tuhan. Oleh karena itu, dalam kondisi fisik yang tidak muda lagi dan secara struktural telah memasuki masa emeritasi, dia menerima pelayanan sebagai Gembala Jemaat Konsulen untuk GKMI Kudus cabang Ngandong menggantikan saya. Jarak yang cukup jauh dan kontur tanah di Ngandong yang naik turun tentu bukan medan yang ringan untuk ditempuh. Itu pun dijalani Pak Karsu dengan penuh sukacita, tanpa pernah saya dengarnya mengeluh. Ketidakraguannya atas janji penyertaan Tuhan membuat Pak Karsu siap dan sigap mengemban amanat Guru Agungnya, memuridkan segala bangsa. Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa jemaat Ngandong terberkati oleh pelayanan Pak Karsu.

Selain kesetiaannya tidak diragukan, Pak Karsu juga adalah pelayan yang rendah hati. Ia, dalam segala keterbatasannya, rela menjadi alat peraga hidup dalam pemberitaan Firman. Bagi saya Pak Karsu adalah alat peraga kasih, kesucian, ketulusan, dan belas kasihan Allah. Melalui dia keindahan dan kelimpahan berkat Allah disalurkan. Terpatri kuat dalam ingatan saya saat dia dipercaya menjadi Koordinator Tim Gembala Jemaat (TGJ) GKMI Kudus, bagaimana kasih dan ketulusan itu nyata. Kami berinteraksi, saling canda dan “ngerjain” sebagai wujud bahwa kami dekat dan akrab. Dalam TGJ Pak Karsu menjadi simbol perekat kami.

Pak Karsu, di dalam diri Bapak saya menemukan seorang pelayan yang setia dan rendah hati. Kesetiaan dan kerendah-hatian Bapak menjadi teladan bagi saya untuk melayani Tuhan sampai akhir. Penyerahan diri Bapak menjadi teladan bagi saya untuk juga menyerahkan diri kepada pimpinan Tuhan. Ketegasan dan kelembutan Bapak menjadi model saya dalam melayani jemaat yang Tuhan percayakan kepada saya. Saya bukan Bapak dan Bapak bukan saya, tetapi kita sama, yaitu pelayan yang diberi kepercayaan Tuhan untuk menatalayani jemaat. Seperti Bapak telah menjadi pelayan yang dapat dipercaya, saya pun memohon anugerah-Nya, supaya saya juga menjadi pelayan yang dapat dipercaya seperti Bapak.

Pak Karsu, kita berpisah di sini, tetapi pada hakekatnya kita tidak akan pernah terpisah. Itulah paradoks iman kita kepada Tuhan yang kita layani. Di sini, dalam dimensi yang berbeda, saya melihat Bapak tersenyum bahagia, sangat bahagia. Di kepala Bapak ada mahkota kemuliaan, dan Bapak duduk di kursi takhta di sisi Sang Raja. Sekali lagi, selamat ya Pak Karsu. Sampai berjumpa kembali di alam keabadian. (MR)

 

Kalirejo, Sabtu, 2 Maret 2019

 

*Pdt. Heru Himawan

 

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

©2019 GKMI Network

CONTACT US

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

Log in with your credentials

Forgot your details?